<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854</id><updated>2011-12-07T15:23:32.948+08:00</updated><category term='budaya'/><title type='text'>BUGINESE</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Buginese</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02665511627712244121</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-6031476503375145624</id><published>2010-03-09T22:52:00.003+08:00</published><updated>2010-03-09T22:56:42.661+08:00</updated><title type='text'>PENGUMUMAN</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Moderator milis BUGINESE memohon maaf yang sebesar-besarnya karena blog BUGINESE belum dapat diupdate secara berkala. Saat ini, blog BUGINESE sedang dalam proses migrasi ke portal BUGINESE yang baru. Mohon doanya agar portal BUGINESE dapat di-launching dalam waktu yang tidak lama.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;wassalam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Munawir (Moderator Bidang Website)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-6031476503375145624?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/6031476503375145624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=6031476503375145624' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/6031476503375145624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/6031476503375145624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2010/03/pengumuman.html' title='PENGUMUMAN'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-2930048422894354793</id><published>2010-03-08T22:50:00.001+08:00</published><updated>2010-03-10T22:56:16.541+08:00</updated><title type='text'>IRONI SASTRA BUGIS YANG TERKIKIS</title><content type='html'>Kitab La Galigo memiliki panjang sekitar 300 ribu baris. Dua kali lebih panjang dibanding Kitab Mahabharata dan Ramayana dari India.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;Singapura — Layar putih panggung perlahan menggulung naik, satu-satu orang berbusana tradisional Bugis berjalan seirama kesunyian memasuki pentas. Mereka mengusung beragam perkakas sehari-hari. Disusul dua orang berbalut kain biru sepanjang enam meter merayap melintas di bibir bagian depan panggung. Selama 15 menit prolog lakon sastra epik besar I La Galigo itu penuh kesenyapan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Saat kesunyian magis kian menyihir penonton, mendadak dihentak musik tabuh mengiringi tiga pria berpakaian laskar Bugis. Mereka melintas sambil melompat-lompat. Di akhir pementasan, adegan itu kembali muncul. Namun, mereka hanya berjalan mengusung benda-benda dalam bayangan kosong. Sesudahnya, seorang pemeran I La Galigo merosot turun dari tangga hidrolik ke bawah panggung. Inilah awal dan akhir cerita.&lt;/p&gt;Tak kurang dari 2.000 penonton yang memadati gedung teater megah Esplanade, Rafless Street, Singapura, Jumat (14/3) pekan lalu memberikan apresiasi spontan. Mereka terhenyak berdiri dengan gemuruh tepuk tangan menggema selama beberapa menit. Tampak ikut berdiri, Menko Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla bersama istri, 15 rombongan dari Jakarta. Juga dedengkot Teater Koma Nano Riantiarno bersama istri, aktris Christine Hakim, Ria Irawan, dan lainnya. Hadir beberapa pengusaha, tokoh pers Djafar Assegaf hingga ekonom Sadli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh apresiasi hebat atas epik Bugis berlakon I La Galigo yang diusung arsitek teater kontemporer dunia, Robert Wilson. Ia berhasil mengangkat epik berumur ribuan tahun yang mulai terkikis di masyarakat Bugis. La Galigo merupakan sastra unik karena memiliki gejala khas konsisten, gaya bahasa dan alur cerita. “Epik ini sederhana dan alami, karenanya saya lebih menonjolkan kreativitas artis dengan memadukan gerakan, kata-kata, teknik lampu, musik, dan imajinasi,” kata Wilson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan pentas perdana ini tak lepas dari dukungan 50 aktor seniman Indonesia. Dalam kerangka artistik bersentuhan teknologi, penari dari Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Sumatera, dan Papua membuat cerita menjadi hidup. Selepas tiga hari di Singapura, I La Galigo terbang ke Amsterdam, Barcelona, Lyon, Ravenna, Italia, dan New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I La Galigo sejatinya karya sastra Bugis kuno yang berisi tentang genesis orang Bugis dan filosofi kehidupan manusia. Menurut peneliti Belanda Roger Tol, kitab La Galigo memiliki panjang sekitar 300 ribu baris. Dua kali lebih panjang dibanding Mahabharata dan Ramayana serta sajak-sajak Homerus dari Yunani sepanjang 160-200 ribu baris. Peneliti La Galigo selama 25 tahun ini juga menilai gaya bahasanya sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit dialog Robert Wilson membuka lakon ini dengan gaya tengok belakang. Awal cerita menampilkan seorang pria berpakaian Kerajaan Cina, duduk bersila membaca kitab I La Galigo yang ditulis dengan bahasa Lontar. Ia menampilkan kisah yang praktis berurutan, sejak cerita tentang kakek dan kemudian giliran ayah, dan terakhir tentang I La Galigo. Selama tiga jam tampak adegan-adegan yang terharmonisasi tarian dan musik tradisional, serta kilatan permainan cahaya. Dialog bisu di atas panggung dihidupkan 70 alat musik Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak sekali Robert mengangkat teks-teks kuno berwujud puisi menjadi cerita epik sederhana. Ia ingin membawanya ke dunia masa kini yang jarang diketahui orang. Maka, ia meminimalkan dialog, yang dibawakan “dalang” pendeta bissu asli Puang Matoa Saidi. Dialog maupun cerita ringkas dalam bahasa Bugis yang dilantunkan. Untuk menuntun plot dalam bahasa Lontar halus, disediakan terjemahan bahasa Inggris di papan teks sisi kiri panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari garapan Andi Ummu Tunru menguatkan La Galigo sebagai tradisi tua. Tari Pakarena dari Makassar, Pajoge dari Bone, Pajaga dari Luwu, Pegellu dari Toraja, dan Pamanca dari Gowa. Kostum garapan Joachim Herzog dengan warna mencolok menegaskan karakter para tokoh. Patoteque putih bersih, tokoh Batara Guru merah, tokoh Sawerigading kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilatan permainan lampu mengganti warna-warna latar belakang cerdas mendukung penonjolan tokohnya. Sorotan snap shot menimbulkan efek tiga dimensi. Gemuruh musik perpaduan perkusi, sayatan rebab juga menyuguhkan suasana berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pementasan, Andi Ummu Tunru yang mengenakan gaun panjang cokelat kepada Koran Tempo mengatakan, penggarapan karya ini menjalani proses panjang. Mereka harus melakukan penelitian tentang kitab La Galigo selama tiga tahun. Begitu juga membuat seminar terbuka penggalian sastra La Galigo. Selepas itu, terbentuk kesepakatan menampilkannya berupa pementasan. “Persiapan pentas perdana di Singapura dilakukan selama dua minggu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berlatih tiga kali sepekan di Benteng Fort Rotterdam, Singapura. Sebelumnya, para seniman harus belajar Pamanca di Desa Paopao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Latihan selalu berlangsung pada pukul 23.00-04.00 Wita. Latihan ditutup dengan ritual maccera, yaitu memotong ayam sebagai pertanda syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cikal bakal pertunjukan ini ketika penari Restu Kusumaningrum, koordinator artistik produksi, bersama Rhoda Grauer, produser seni dan penulis naskah lakon ini, sepakat mewujudkannya menjadi seni pertunjukan. Bersama Rahayu Supanggah mereka membuat presentasi di studio Robert Wilson di New York, dan berhasil menggaet Change Performing Arts (Italia) sebagai sponsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab La Galigo mulanya dikumpulkan Raja Paccana, Colliq Pujie, dari lembaran-lembaran daun lontar. Ia hidup pada 1812-1876. Statusnya sebagai Raja Tanete tidak menghalangi kerjanya. Saat itu, Kabupaten Barru masih terbagi empat kerajaan: Tanete, Balusu, Malluisetasi, dan Barru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah La Galigo tersebar di beberapa negara. Selain empat di Inggris dan beberapa naskah di Belanda, lima naskah La Galigo juga tersimpan di Library of Congress Washington DC, Amerika Serikat. Naskah-naskah tersebut, Bugis (1) War betw Two Rajahs, Bugis (2) Day of Judgement-fr. The Koran, Bugis (3) A Tale, Bugis (4) A Rajah’s courtship, Bugis (5) Marriage froms, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti sastra Universitas Hasanuddin, Makassar, Nurhayati Rahman, menjelaskan, kitab asli La Galigo tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah itu dibawa Dr. Benjamin Frederik Matthes sekitar 1800-an. Awalnya, Matthes dikirim ke Sulawesi Selatan oleh Nederlands Bijbelgenootschap untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar. Pulang ke Belanda, ia membawa 25 naskah Sureq La Galigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pementasan La Galigo sempat menuai protes medio tahun lalu. Proyek lakon ini dinilai banyak mencangkokkan unsur-unsur luar Bugis. Padahal, unsur-unsur Bugis yang menjadi landasannya justru ditinggalkan. Para seniman Sulawesi Selatan berpandangan pementasan itu bisa membangun persepsi keliru tradisi dan syair kepahlawanan yang mengakibatkan jiwa La Galigo tak utuh. Para peneliti, ilmuwan, dan seniman yang terlibat sejak awal proyek La Galigo malah ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurhayati menjelaskan, Rhoda Grauer dan Restu Kusumaningrum dari Bali Purnati Centre for The Art, tidak menghargai hak intelektual dan para peneliti La Galigo. Padahal, Rhoda Restu hanya sebagai penghubung dengan sutradara Robert Wilson. Konon, kontroversi ini yang membuat pementasan La Galigo tidak digelar di Tanah Air. Kontroversi tersebut ditepis Jusuf Kalla yang menyebut tidak tersedianya gedung representatif sebagai penyebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti La Galigo yang lain, Muhammad Salim, mengatakan tidak mungkin melakonkan utuh La Galigo. Sebab lebih panjang dari epos Mahabharata dan petualangan tokoh utamanya sebanding dengan kisah Ulysses dalam Odyssey karya Homer. Diambillah keputusan mengambil salah satu bagian terpenting: awal mula manusia di bumi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber : www.korantempo.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-2930048422894354793?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/2930048422894354793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=2930048422894354793' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/2930048422894354793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/2930048422894354793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2010/03/ironi-sastra-bugis-yang-terkikis.html' title='IRONI SASTRA BUGIS YANG TERKIKIS'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-8753303771493020576</id><published>2008-04-25T15:45:00.000+08:00</published><updated>2008-04-23T15:53:50.935+08:00</updated><title type='text'>MENGENAL RUMAH ADAT KHAS BUGIS</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://elmahari.wordpress.com/2007/08/10/aku-adalah-orang-bugis-mengenal-rumah-adat-khas-bugis/"&gt;Ishak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah bugis memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung dari suku yang lain ( Sumatera dan Kalimantan ). Bentuknya biasanya memanjang ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan bagian depan [ orang bugis menyebutnya lego - lego ].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sebenarnya arsitektur dari rumah panggung khas bugis ini ?. Berikut adalah bagian - bagiannya utamanya :&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tiang utama ( alliri ). Biasanya terdiri dari 4 batang setiap barisnya. jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat. tetapi pada umumnya, terdiri dari 3 / 4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri.&lt;br /&gt;2. Fadongko’, yaitu bagian yang bertugas sebagai penyambung dari alliri di setiap barisnya.&lt;br /&gt;3. Fattoppo, yaitu bagian yang bertugas sebagai pengait paling atas dari alliri paling tengah tiap barisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://elmahari.files.wordpress.com/2007/08/rumahbugis-1.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa orang bugis suka dengan arsitektur rumah yang memiliki kolong ? Konon, orang bugis, jauh sebelum islam masuk ke tanah bugis ( tana ugi’ ), orang bugis memiliki kepercayaan bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian, bagian atas ( botting langi ), bagian tengah ( alang tengnga ) dan bagian bawagh ( paratiwi ). Mungkin itulah yang mengilhami orang bugis ( terutama yang tinggal di kampung, seperti diriku ) lebih suka dengan arsitektur rumah yang tinggi. Mengapa saya suka ? karena saya orang bugis… hehehe.. :) . Sebenarnya bukan karena itu, tetapi lebih kepada faktor keamanan dan kenyamanan. Aman, karena ular tidak dapat naik ke atas ( rumahku di kampung tingginya 2 meter dari tanah ). Nyaman, karena angin bertiup sepoi-sepoi, meskipun udara panas.. Wong rumahnya tinggi, hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian - bagian dari rumah bugis ini sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rakkeang, adalah bagian diatas langit - langit ( eternit ). Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen.&lt;br /&gt;2. Ale Bola, adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah ( posi’ bola ).&lt;br /&gt;3. Awa bola, adalah bagian di bawah rumah, antara lantai rumah dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menarik sebenarnya dari rumah bugis ini adalah bahwa rumah ini dapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun. Semuanya murni menggunakan kayu. Dan uniknya lagi adalah rumah ini dapat di angkat / dipindah.. simple kan. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-8753303771493020576?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/8753303771493020576/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=8753303771493020576' title='46 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/8753303771493020576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/8753303771493020576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2008/04/mengenal-rumah-adat-khas-bugis.html' title='MENGENAL RUMAH ADAT KHAS BUGIS'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>46</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-737098729670253925</id><published>2008-04-24T03:28:00.000+08:00</published><updated>2008-04-23T15:42:29.227+08:00</updated><title type='text'>AUTENSITAS KEBUDAYAAN BUGIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/200/120178.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 67px; height: 93px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/200/120178.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RESENSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Judul : Manusia Bugis&lt;br /&gt;Penulis : Christian Pelras&lt;br /&gt;Penerbit : Nalar, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : Februari 2006&lt;br /&gt;Hal. : xxxxiv + 450 hlm.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Oleh : &lt;a href="http://bukukuno.blogspot.com/2007/03/auntensitas-kebudayaan-bugis.html"&gt;Wong Deso&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;elalui tangan Denys Lombard Jawa terkupas. Bahwa Jawa yang adiluhung itu ternyata dipengaruhi oleh budaya Eropa-Islam-Cina-dan India. Empat diantara ”pembentuk” Jawa terangkum dalam 3 jilid Nusa Jawa: Silang Budaya, Denys Lombard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui bukunya tersebut, Lombard memang tak hendak menunjukan autentitas manusia Jawa yang terbentuk karena persilangan pelbagai budaya. Meski tersirat, Lombard menyatakan bahwa persilangan pelbagai budaya itu bukan petaka tetapi anugerah. Kebudayaan Jawa semakin kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kompleks dan pengaruh kebudayaan asing masuk, Jawa selalu bisa membatasi dirinya untuk tak menelan mentah setiap kebudayaan yang masuk. Dengan begitu tiap kebudayaan asing yang masuk, tak benar-benar bisa meluluhlantakan Jawa. Itulah sebenarnya yang dapat dipetik ketika membaca hamparan pengetahuan akan Jawa yang ditulis Denys Lombard.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konon selain Jawa, Bugis ternyata tak kalah istimewa. Christian Pelras rekan Lombard yang datang dari Perancis dengan Manusia Bugis-nya telah membuktikannya. Bugis nyata tak sekadar meninggalkan epik panjang, La Galigo tetapi juga kebudayaan-kebudayaan adiluhung yang lain. Doktor Antropologi dari Sorbonne ini secara terang-terangan menunjuk beberapa keistimewaan dan juga kontradiksi sejarah pengagunggan kebudayaan Bugis. Pelras mencatat keistimewan Bugis terletak pada autentitas kebudayaan mereka. Autentitas itu dapat ditilik dari beberapa segi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, masyarakat Bugis sebenarnya bukanlah masyarakat maritim. Pelayaran Bugis baru dimulai abad ke-18. Sementara Pinisi, kapal hebat dari Bugis itu, bentuk dan modelnya sebenarnya ada di penghujung abad ke-19 sampai dekade 1930-an. pernyataan Pelras seperti ini yang membedakan dengan cerita yang beredar selama ini. Menurut Pelras, masyarakat Bugis “asli” sebenarnya petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dimungkinkan dengan masyarakat Bugis kuno yang tinggal di sekitar danau Poso di pedalaman Sulawesi yang tak memungkinkan untuk melakukan pelayaran. Sungai-sungai yang menghubungkan pedalaman dengan laut tak bisa digunakan untuk jalur pelayaran. Orang Bugis gemar melayar ketika di abad ke-18 mereka mulai bermigrasi ke Makasar. Makasar adalah kota pelabuhan besar di Nusantara, di sanalah orang Bugis menetap dan memulai pelayarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, berbeda dengan Jawa yang menurut Lombard dibentuk arus budaya dan meski terjadi batas-batas pembaratan. Jaringan pelayaran Asia yang memungkinkan budaya Arab dan Cina masuk ke Jawa. Warisan India dengan kerajaan-kerajaan konsentrisnya. Bugis menurut Pelras dapat menghindar dari pengaruh-pengaruh asing itu. Meskipun demikian, Pelras tak memungkiri bahwa telah terjadi persinggungan kebudayan antara Bugis dengan kebudayaan lain. Gejala itu tak bisa dipungikiri ketika modernitas Barat merasuk ke hampir seluruh persendian kebudayaan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autentitas kebudayaan Bugis dapat dirunut dari kronik sejarah Bugis. Pengaruh India yang datang lebih awal ke Nusantara tak banyak bepengaruh. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya artefak-artefak corak India yang tertinggal di Bugis. Majapahit pun yang konon menguasai Bugis tak meninggalkan banyak pengaruh di Bugis. Orang Bugis mengatakan Majapahit sekadar mengklaim, tak pernah benar-benar menguasai Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan pengaruh Islam (pedagang Arab) dan Kristen (Portugis dan Belanda) yang saling berebut pengaruh datang ke Bugis pada abad ke 16. Pada akhirnya Islam dapat memenangkan “kompetisi” itu setelah Portugis terdepak dan Belanda masuk ke Makasar. Namun kolonialisme Belanda pun ternyata kalah pengaruh dari Islam. Kemenangan itu tak lepas dari pengaruh Islam yang terlebih dulu mengislamkan kerajaan-kerajaan di Sulawesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, penempatan perempuan menjadi simbol dari keunikan dari tradisi Bugis sekaligus menunjukan bahwa Islam pun tak sepenuhnya diadopsi. Masyarakat Bugis tradisional mengijinkan perempuan menjadi pemimpin. Inilah yang membedakan antara kepemimpinan Islam dengan kepemimpinan Bugis. Kata Pelras, di Bugis perbedaan gender dengan menempatkan perempuan sebagai second sex tak nampak. Pembagian kerja misalnya, bukan didasarkan atas jenis kelamin, lelaki pun bisa melakukan pekerjaan halus dan begitu sebaliknya dengan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah perbedaan Lombard dan Pelras terlihat jelas. Jika Lombard dalam Nusa Jawa, Silang Budaya sedikit membahas perempuan Jawa, maka Pelras sebaliknya membahas banyak tentang perempuan Bugis yang ditempatkan tak sekadar kanca wingking. Bahkan menunjukan bagaimana masyarakat Bugis melindungi para perempuan. Perlindungan itu atas dasar keyakinan bahwa lelaki memiliki libido tinggi dibanding perempuan. Bukan atas dasar anggapan bahwa perempuan itu lemah, dan layak mendapat perlindungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Lombard yang melakukan riset pustaka, penelitian terlibat yang dilakukan Pelras pun berhasil membedah para transeksual yang justru mendapat penghormatan dari masyarakat Bugis. Penghormatan masyarakat Bugis terhadap Bissu menjadi bukti bahwa kearifan kuno masih dipertahankan hingga kini, di tengah-tengah pandangan yang menyatakan kentalnya ke-Islam-an orang Bugis. Penghormatan terhadap bissu itu tak lepas dari anggapan keyakinan kuno bahwa Yang Maha memiliki dua sifat: lelaki dan perempuan. Bissu adalah orang yang merepresentasikan sifat-sifat yang Maha itu seperti yang orang Bugis tulis dalam epos panjang, La Galigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, La Galigo adalah bukti keistimewaan Bugis dan bagi tulisan Pelras. Epos La Galigo adalah catatan lengkap bagi Bugis. Dari sanalah segala sumber pengatahuan tentang Bugis terangkum. Termasuk juga tentang konsepsi kepercayaan orang Bugis. Oleh karena itu kepercayaan-kepercayan itu masih dipegang oleh sebagian orang Bugis hingga kini. Pelras berpendapat bahwa eksistensi konsepsi kepercayaan itu dikonstruk oleh bangsawan Bugis untuk memperkukuh status sosial mereka yang konon keturunan Sawe’rigeding (hlm. 103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan La Galigo bagi Pelras adalah mendasari penelitiannya. Pelras ingin membuktikan bahwa La Galigo yang bertautan dengan mitos-mitos senyatanya ada dan dapat dibuktikan secara empiris melalui penelitiannya. Pelras meyakini bahwa La Galigo merupakan catatan sejarah dan etnografi Bugis yang dapat dipercaya. Oleh karena itu ia akan menerbitkan buku Regards nouveaux sebagai pembuktiannya atas La Galigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun uniknya dari serangkain ulasan panjang dalam buku ini, Pelras mengakhiri tulisannya dengan bahasan tentang Elit Modern dan Pemimpin Baru, Usahawan Bugis Kontemporer dengan mengambil sampel “Dinasti Kalla” (hlm. 381). Bahasan itu diawali dengan pernyataan Pelras yang terang mengatakan merosotnya peran bangsawan Bugis dalam perekonomian. Apa maksud Pelras dengan mengambil sampel keluarga Kalla? Autentikah niatnya? kita tunggu saja jawabannya di terjemahan Regards Nouveaux.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-737098729670253925?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/737098729670253925/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=737098729670253925' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/737098729670253925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/737098729670253925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2008/04/autensitas-kebudayaan-bugis.html' title='AUTENSITAS KEBUDAYAAN BUGIS'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-6639073348459037778</id><published>2008-03-23T14:17:00.000+08:00</published><updated>2008-04-23T15:49:56.888+08:00</updated><title type='text'>SEJARAH AWAL BUGIS</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;idak seperti bahagian Asia Tenggara yang lain, Bugis tidak banyak menerima pengaruh India di dalam kebudayaan mereka. Satu-satunya pengaruh India yang jelas ialah tulisan Lontara yang berdasarkan skrip Brahmi, dimana ianya dibawa melalui perdagangan. Kekurangan pengaruh India, tidak seperti di Jawa dan Sumatra, mungkin disebabkan oleh komuniti awal ketika itu kuat menentang asimilasi budaya luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Perubahan Dari Zaman Logam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permulaan sejarah Bugis lebih kepada mitos dari sejarah lojik. Di dalam teks La Galigo, populasi awal adalah terhad dan terletak di persisiran pantai dan tebing sungai dan penempatan ini dihubungi dengan pengangkutan air. Penempatan di tanah tinggi pula didiami oleh orang Toraja. Penempatan-penempatan ini bergantung kepada salah satu daripada tiga pemerintahan iaitu Wewang Nriwuk, Luwu' dan Tompoktikka. Walaubagaimanapun, pada abad ke 15, terdapat kemungkinan penempatan awal tersebar di seluruh Tana Ugi, malahan jauh ketengah hutan dimana tidak dapat dihubungi melalui pengangkutan air. Mengikut mitos, terdapat migrasi yang ingin mencari tanah baru untuk didiami. Implikasi penempatan ditengah-tengah hutan ini ialah perubahan fizikal hutan, dimana hutan-hutan ditebang dan proses diteruskan sehingga abad ke20.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknik Dan Perbedaan Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penebangan hutan ini mungkin seiring dengan pembuatan besi untuk membuat alat-alat tertentu seperti kapak. Malahan, pemerintah pertama (mengikut sejarah) kerajaan Bone memakai gelaran 'Panre Bessi' atau 'Tukang Besi'. Selain itu, terdapat juga hubungan yang cukup rapat diantara pemerintah Sidenreng dengan penduduk kampung Massepe, tempat penumpuan pembuatan alatan besi oleh orang Bugis dan tempat suci dimana 'Panre Baka' ('Tukang Besi Pertama') turun dari Syurga/Langit. Walaubgaimanapun, sesetengah mengatakan 'Panre Baka' berasal dari Toraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi inovasi yang diperkenalkan ialah penggunaan kuda. Walaupun tidak disebut di dalam teks La Galigo, menurut sumber Portugis, pada abad ke16, terdapat banyak penggunaan kuda di kawasan gunung. Maka, inovasi ini mungkin diperkenalkan antara abad ke 13 dan abad ke 16. Maksud kuda di dalam Bahasa Bugis , ialah 'anyarang' (Makassar: jarang), cukup berbeza dengan Bahasa Melayu, malahan ianya diambil dari Jawa ( 'jaran' ). Perkataan ini mungkin digunakan pada abad ke14, ketika Jawa diperintah oleh Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertambahan penduduk memberi kesan kepada teknik penanaman padi. Teknik potong dan bakar digantikan dengan teknik penanaman padi sawah. Penanaman padi sawah terang-terangan diimport kerana penyuburan sawah (plough) di dalam Bahasa Bugis ialah 'rakalla' berasal dari perkataan 'langala' yang digunakan hampir seluruh Asia Tenggara, contohnya Cam, 'langal', Khmer, angal dan Bahasa Melayu, tengala. Teknik 'rakalla' ini digunakan di India dan sebahagian Asia Tenggara, manakala sebahagian lagi daripada Asia Tenggara diambil dari China. Ini sekaligus membuktikan wujudnya perhubungan diantara Sulawesi Selatan dengan bahagian barat Asia Tenggara selain Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan di dalam bidang ekonomi berhubung kait dengan pertambahan penduduk di tangah-tengah benua. Pada mulanya, sumber ekonomi majoriti populasi Bugis ialah penanaman padi manakala golongan elit mengawal sumber-sumber asli dari hutan, perlombongan dan sumber-sumber dari laut. Sumber-sumber asli ini mendapat permintaan dari luar Sulawesi dan ini membolehkan golongan elit memperdagangkan sumber-sumber ini dan membolehkan mereka membeli barang-barang mewah dari luar seperti seramik China, Sutera India, cermin etc. Walaubagaimanapun, pengawalan pertanian oleh golongan elit masih memainkan peranan penting ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perubahan Sosio-Politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi terakhir dari penyebaran etnik Bugis keseluruh Sulawesi Selatan ialah perubahan didalam politik. Kerajaan-kerajaan lama Bugis iaitu Luwu', Sidenreng, Soppeng dan Cina (kemudiannya menjadi Pammana) masih berkuasa tetapi mungkin terdapat pembaharuan didalam pentadbiran ataupun pertukaran dinasti. Kuasa-kuasa kecil muncul di penempatan-penempatan baru ( 'wanua' ) dan diperintah oleh seorang ketua digelar 'matoa' atau 'arung'. Sesetengah penempatan awal ini (tidak disebut didalam La Galigo) seperti Bone, Wajo dan Goa kemudiannya menjadi kerajaan-kerajaan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaubagaimnapun, sesetengah kerajaan yang disebut di dalam teks La Galigo seperti Wewang Nriwu' dan Tompoktikka 'hilang' di dalam rekod sejarah, dan ini menyebabkan sesetengah sejarahwan percaya bahawa kerajaan-kerajaan ini tidak wujud sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontranya, terdapat perubahan didalam sosio-politik yang nyata di permulaan teks sejarah iaitu wujudnya satu perhubungan kontrak di antara pemerintah dan pa'banua (rakyat negeri tersebut yang merupakan orang kebanyakkan.) Di dalam masyarakat awal, keselamatan dan sumber pendapatan penduduk (seperti mendirikan rumah, memberi kerja dan membekalkan keperluan tertentu) merupakan tanggungjawab pemerintah. Situasi ini berbeza sekali seperti di dalam teks La Galigo di mana pemerintah tidak perlu membekalkan apa-apa kepada penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perubahan Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesinambungan dari zaman logam diteruskan di dalam bidang keagamaan. Bissu (bomoh) kekal menjadi elemen penting di dalam hal-hal keagamaan sebelum kedatangan Islam. Perubahan di dalam bidang keagamaan ialah pembakaran mayat dan debu bagi orang-orang terpenting di simpan di dalam tempat penyimpanan debu (bersaiz seperti labu) manakala tempat pembakaran mayat disebut Patunuang. Walaubagaimanapun, pembakaran mayat terhad kepada tempat-tempat tertentu. Menurut sumber Portugis, Makassar mengekalkan teknik penanaman mayat dan Toraja pula membiarkan mayat reput di gua-gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah-pemerintah awal pula tidak ditanam mahupun dibakar dan mereka dikatakan 'hilang', bermaksud kembali ke syurga. Menurut sumber, mayat-mayat pemerintah awal dibiarkan bersandar di pokok reput sehingga tinggal tulang. Mayat bayi pula di tenggelamkan di sungai ataupun laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerajaan-Kerajaan Awal Bugis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir abad ke 15, Luwu', yang dianggap sebagai ketua bagi komuniti Bugis, mendominasi kebanyakkan kawasan di Tana Ugi termasuklah tebing Tasik Besar, sepanjang sungai Welennae, tanah pertanian di sebelah timur, sepanjang persisiran pantai yang menghadap Teluk Bone, Semenanjung Bira, Pulau Selayar dan Tanjung Bataeng. Walaubagaimanapun, kerajaan ini mula menghadapi tentangan dari kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Situasi Politik Di Akhir Abad ke 15&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal abad ke 15, Luwu' menguasai Sungai Cenrana yang menghubungi Tasik Besar. Penempatan Luwu' pula terletak di muara sungai Cenrana, manakala di hulu sungai pula terdapat beberapa kerajaan kecil. Luwu' cuba mengekalkan pengaruhnya di bahagian barat, di jalan perhubungan antara Selat Makassar dan Sungai Cenrana melalui Tasik Besar, untuk mengawal perdagangan sumber-sumber asli di sebelah barat, mineral dari pergunungan Toraja dan sumber pertanian sepanjang Sungai Welennae. Walaubagaimanapun, Sidenreng, terletak di bahagian barat Tasik Besar telah memilih untuk berlindung di bawah Soppeng. Pada masa yang sama, Sawitto', Alitta, Suppa', Bacukiki' dan Rappang, juga terletak di sebelah barat telah membentuk satu konfederasi dinamakan ' Aja'tappareng ' (tanah disebelah barat tasik) sekaligus menyebabkan Luwuk hilang pengaruh di atas kawasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan, sesetengah penempatan-penempatan Bugis mula enggan berada dibawah pemerintahan Luwu'. Di hulu Sungai Cenrana pula, kerajaan Wajo' sedang membangun dan mula menyebarkan pengaruhnya untuk mengawal kawasan sekelilingnya. Manakala pemerintah-pemerintah di kawasan sekeliling Wajo' pula di gelar 'Arung Matoa' bermaksud Ketua Pemerintah. Sekitar 1490, salah seorang dari pemerintah ini membuat perjanjian dengan Wajo', dan sekaligus meletakkan Luwu' dibawah pengaruh Wajo'. Pada tahun 1498 pula, penduduk Wajo' melantik Arung Matoa Puang ri Ma'galatung, seorang pemerintah yang disegani oleh orang Bugis, dan berjaya menjadikan Wajo' sebagai salah satu kerajaan utama Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah selatan pula, Bone, di bawah pemerintahan Raja Kerrampelua, sedang meluaskan sempadannya di kawasan pertanian sekaligus membantu ekonomi Bone, menambah kuasa buruh dan kuasa tentera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penempatan Bugis yang disebut di dalam La Galigo kini terletak di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan yang membangun. Soppeng pula terperangkap di antara Sidenreng, Wajo' dan Bone manakala penempatan di tanah tinggi cuba keluar dari pengaruh Luwu' dan pada masa yang sama ingin mengelakkan pengaruh kerajaan-kerajaan yang sedang membangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kejatuhan Luwuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempoh antara 1500 dan 1530 menyaksikan kerajaan Luwu' mula merosot. Ketika itu, Luwu' diperintah oleh Dewaraja, seorang pahlawan yang hebat. Didalam pertemuan diantara Dewaraja dan Arung Matoa Puang ri Ma'galatung pada tahun 1508, Dewaraja bersetuju untuk menyerahkan kawasan-kawasan di sepanjang Sungai Cenrana kepada Wajo' sebagai pertukaran Wajo' hendaklah membantu Luwu' menguasai Sidenreng dimana Sidenreng berjaya dikuasai oleh Luwuk dan Sidenrang terpaksa menyerahkan kepada Wajo' kawasan timur laut dan utara Tasik Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1509, Luwu' menyerang Bone untuk menyekat kuasa Bone tetapi ketika itu, Bone sudah pun menjadi sebuah kerajaan yang kuat dan tentera Luwuk mengalami kekalahan. Malahan Dewaraja, walaupun berjaya melarikan diri, hampir dibunuh jika tidak kerana amaran pemerintah Bone kepada tenteranya untuk tidak 'menyentuh' ketua musuh Bone. Walaubagaimanapun, Payung Merah milik Luwu' yang menjadi simbol ketuanan tertinggi berjaya dimiliki Bone sekaligus mengakhiri ketuanan Luwu' di negeri-negeri Bugis. Walaubagaimanapun, ketuanan Luwu' masih disanjung tinggi dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan. Bila penggantinya Dewaraja mangkat, Wajo' menyerang Luwu' dan meluaskan pengaruhnya di daerah-daerah Luwu'. Ini membolehkan Wajo' menguasai beberapa kawasan-kawasan yang strategik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemunculan Makassar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa yang sama, berlakunya peristiwa-peristiwa penting di sebelah barat dan selatan Sulawesi Selatan. Siang ketika itu masih lagi menjadi kuasa utama di persisiran barat Makassar dan Bantaeng (ketika itu dibawah penagruh Luwu') di sebelah selatan manakala terdapat dua penempatan Makassar iaitu Goa dan Tallo' yang mula membangun dan meluaskan pengaruh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikut sumber yang diragui kesahihannya, Goa dan Tallo' pada mulanya adalah satu negeri. Pada sekitar abad ke 15, Raja Tunatangka'lopi membahagikan kawasan itu kepada dua orang puteranya menjadi Goa dan Tallo'. Terdapat juga kisah yang lain di mana dibawah Raja Daeng Matanre' (1510-1547), suatu pejanjian telah dibuat. Mengikut perjanjian tersebut, Goa dan Tallo' akan menjadi kerajaan kembar, di mana terdapat dua pemerintah tetapi satu kerakyatan. Sesiapa yang cuba menentang perjanjian ini akan dihukum oleh Tuhan. Peristiwa ini mengikut Bulbeck('History Archeology':117) berlaku selepas 1535. Peta Sulawesi yang dilukis Portugis pertama kali pada tahun 1534 tidak menyentuh tentang Goa, dan hanya memeta 'Siom"(Siang), 'Tello'(Tallo') dan 'Agacim'(Garassi'). Mengikut penulisan Antonio de Paiva, Goa, (di mana didalam penulisannya merujuk kepada Bandar Besar) yang kemudiannya muncul di peta Portugis, sebelumnya dianggap di bawah pengaruh Siang. Sebaliknya kerajaan Tallo' yang dibawah pengaruh Siang dan kemudiannya dibawah pengaruh Goa. Goa kemudiannya menguasai Garassi', sebuah pelabuhan yang menghubungkan Jawa, sekaligus membolehkan Goa mengawal perdagangan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permualaan sejarah Goa dan Tallo' berlaku di akhir abad ke 15, tetapi laporan mengenai peristiwa-peristiwa yang berlaku di kedua-dua kawasan itu masih tidak jelas. Polisi perluasan kuasa mungkin bermula ketika zaman pemerintahan Raja Daeng Matenre, Goa, dan berterusan selama dua abad selepasnya. Antara daerah-daerah yang dikuasainya ialah Bajeng, sekutu-sekutu Tallo', kawasan-kawasan di bawah pengaruh Bantaeng dan Gantarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejayaan kerajaan kembar ini, lebih dikenali dikalangan pedagang asing sebagai sebuah 'negara' digelar Makassar. Ianya boleh dikatakan satu gabungan yang bijak di mana pemerintah Goa meneruskan penguasaan wilayah manakala pemerintah Tallo', yang mendapati potensi Makassar sebagai pelabuhan yang berjaya, menumpukan bahagian perdagangan. Ini kemudiannya menjadikan Makassar salah satu kuasa yang kuat di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemangkatan Dewaraja, pemerintah Luwuk, menyebabkan berlakunya perbalahan dinasti. Daeng Mantare membantu Bone menawan Luwuk di mana ketika itu pemerintahan Luwuk dituntut oleh Sanggaria. Pada sekitar tahun 1535, Sanggaria kemudiannya mendapatkan perlindungan di Wajo'. Kesempatan ini direbut oleh Bone dan Goa di mana Luwuk kemudiannya terpaksa menandatangani perjanjian mengakui kekalahannya dan akan menyertai Goa, Bone dan Soppeng menentang Wajo' atas tindakan Wajo' yang bersifat neutral ketika peperangan berlaku. Ini menyebabkan Wajo' terpaksa menukar ikrar setianya dari Luwuk kepada Goa. Sanggaria kemudiannya dibenarkan menjadi raja Luwuk tanpa kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Bugis, Christian Pelras&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-6639073348459037778?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/6639073348459037778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=6639073348459037778' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/6639073348459037778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/6639073348459037778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2008/04/sejarah-awal-bugis.html' title='SEJARAH AWAL BUGIS'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-3964024329573305766</id><published>2008-02-12T09:04:00.000+08:00</published><updated>2008-02-12T09:09:54.522+08:00</updated><title type='text'>Raja-Raja di Malaysia Berdarah Bugis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tF18xXrW3zk/R7DxpPUEkYI/AAAAAAAAABY/NBB50MJ75tA/s1600-h/Sultan_Mizan_Zainal_Abidin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tF18xXrW3zk/R7DxpPUEkYI/AAAAAAAAABY/NBB50MJ75tA/s200/Sultan_Mizan_Zainal_Abidin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165894463381606786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ari sembilan raja yang memerintah di Malaysia, ternyata pada umumnya merupakan keturunan Raja Bugis dari Kerajaaan Luwu, Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terungkap pada Seminar Penelusuran Kerabat Raja Bugis, Sulsel dengan raja-raja Johor-Riau-Selangor, Malaysia di Makassar, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berdasarkan hasil penelusuran silsilah keturunan dan tinjauan arkeologi diketahui, 14 provinsi di Malaysia, sembilan diantaranya diperintah oleh raja yang bergelar datuk (dato`) atau sultan, sedang empat provinsi lainnya diperintah gubernur yang bukan raja," kata Prof Emeritus Dato` Dr Moh Yusoff bin Haji Hasyim, President Kolej Teknologi Islam Antarbangsa Melaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dari segi silsilah, kesembilan raja yang memiliki hak otoritas dalam mengatur pemerintahannya itu, berasal dari komunitas Melayu-Bugis, Melayu-Johor dan Melayu-Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, lanjutnya, pemangku Kerajaan Selangor saat ini adalah turunan dari Kerjaan Luwu, Sulsel.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Merujuk Lontar versi Luwu` di museum Batara Guru di Palopo dan kitab Negarakerjagama, menyebutkan tradisi `raja-raja Luwu` ada sejak abad ke-9 masehi dan seluruh masa pemerintahan kerajaan Luwu terdapat 38 raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja yang ke-26 dan ke-28 adalah Wetenrileleang berputrakan La Maddusila Karaeng Tanete, yang kemudian berputrikan Opu Wetenriborong Daeng Rilekke` yang kemudian bersuamikan Opu Daeng Kemboja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari hasil perkawinannya itu lahir lima orang putra, masing-masing Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Cella`, Opu Daeng Manambong dan Opu Daeng Kamase," paparnya sembari menambahkan, putra-putra inilah yang kemudian merantau ke Selangor dan menjadi cikal bakal keturunan raja-raja di Malaysia hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh dijelaskan, dengan penelusuran sejarah dan silsilah keluarga itu, diharapkan dapat lebih mendekatakan hubungan antara kedua rumpun Melayu yakni Melayu Selangor dan Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Moh Jusoff, dari segi kedekatan emosional, silsilah dan genesitas komunitas di Malaysia dan Indonesia tidak bisa dipisahkan. Hanya saja, belum bisa merambah ke persoalan politik karena ranah politik Malaysia berbeda dengan politik Indonesia termasuk mengenai tata pemerintahan dan kemasyarakatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Andi Ima Kesuma,M.Hum, pakar kebudayaan dari Universitas Hasanuddin (Unhas) yang juga Kepala Museum Kota Makassar mengatakan, kekerabatan keturunan raja-raja di Malaysia dan raja-raja Bugis di Sulsel tertuang dalam Sure` Lagaligo maupun dalam literatur klasik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya saja, gelaran yang dipakai di tanah Bugis tidak lagi digunakan di lokasi perantauan (Malaysia) karena sudah berasimilasi dengan situasi dan kondisi di lokasi yang baru," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Opu dang Karaeng yang lazim digunakan bagi keturunan raja rai Luwu dan Makassar tidak lagi dipakai di Malaysia melainkan sudah bergelar tengku, sultan atau dato`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.antara.co.id/arc/2007/6/27/raja-raja-di-malaysia-berdarah-bugis/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-3964024329573305766?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/3964024329573305766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=3964024329573305766' title='22 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/3964024329573305766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/3964024329573305766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2008/02/raja-raja-di-malaysia-berdarah-bugis.html' title='Raja-Raja di Malaysia Berdarah Bugis'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tF18xXrW3zk/R7DxpPUEkYI/AAAAAAAAABY/NBB50MJ75tA/s72-c/Sultan_Mizan_Zainal_Abidin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-8156109496464345226</id><published>2007-12-14T16:21:00.000+08:00</published><updated>2007-12-17T11:22:05.556+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Kultur Haji Bagi Bugis-Makassar</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;M Ruslailang Noertika (Daeng Rusle')&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Url : &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://daengrusle.com/"&gt;http://daengrusle.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Email : &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="mailto:daengrusle@angingmammiri.org"&gt;daengrusle@angingmammiri.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1FlePcvv4CQ/R2NdXWdgHUI/AAAAAAAAAA8/US-iInI3IZY/s1600-h/Haji+Zamzam+dan+keluarga+yg+akan+berangkat.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144057855134932290" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_1FlePcvv4CQ/R2NdXWdgHUI/AAAAAAAAAA8/US-iInI3IZY/s320/Haji+Zamzam+dan+keluarga+yg+akan+berangkat.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bagi umat Islam, ibadah haji adalah rukun kelima yag menjadi ibadah penyempurna setelah empat rukun lainnya; syahadat, sholat, puasa dan zakat. Menunaikan ibadah haji di dua tanah suci Islam; &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mecca" target="_blank"&gt;Makkah al-Mukarramah&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Medina" target="_blank"&gt;Madinah al-Munawwarah &lt;/a&gt;yang berada di wilatah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Saudi_Arabia" target="_blank"&gt;Kerajaan Arab Saudi&lt;/a&gt;, menjadi semacam cita-cita dan impian setiap muslim untuk dilaksanakan paling tidak sekali dalam seumur hidupnya. Kurang lengkap rasanya sebagai Muslim, berkalang tanah tanpa pernah menginjak kedua kota suci umat Islam itu.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang Bugis Makassar, yang tradisi keIslamannya sangat kuat, bersedia melakukan apa saja demi melaksanakan ibadah ini. Bahkan tidak jarang seorang &lt;strong&gt;muslim rela menjual aset berharganya&lt;/strong&gt;; sawah, tanah, kendaraan, perhiasan, dan aset lainnya demi untuk menunaikan ibadah yang ritualnya menyerupai rekonstruksi perjalanan para nabi Allah itu, tidak peduli apakah setelah kembali mereka masih punya cukup aset untuk menyambung hidup asalkan sudah pernah menengok kota nabi itu. Seorang tetangga saya dulu bahkan rela berhutang untuk menutupi ongkos naik haji yang sekarang besarannya sekitar Rp 27 juta. Juga tidak jarang terjadi di masyarakat Bugis/Makassar, orang tua membawa anak-anaknya berangkat haji, bahkan meski si anak belum cukup umur. Dengan anak-anak yang sudah bergelar haji semuanya, status sosial keluarga itu akan sangat terhormat dalam masyarakatnya. Tidak jarang, cara-cara pintas dan nyeleneh ditempuh untuk mendapatkan kehormatan ini, misalnya dengan menciptakan ritual tandingan berhaji di puncak gunung Bawakaraeng, yang didasarkan pada anggapan bahwa pahala dan ke afdolan nya dianggap sepadan dengan prosesi yang dilakukan di Mekkah dan Medinah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Akulturasi Haji dalam Masyarakat Bugis Makassar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kultur &lt;strong&gt;sebahagian&lt;/strong&gt; masyarakat Bugis-Makassar atau nusantara, gelar haji yang diperoleh setelah menunaikan ibadah haji itu dianggap sebagai prestise yang menunjukkan status sosial yang ‘lebih’ dibanding yang lain. Status sosial ini tidak karena tuntutan sang haji, tapi dielaborasi karena adanya penghargaan masyarakat sekitarnya. Penghargaan ini terlebih dikarenakan untuk menunaikan ibadah haji itu perlu pengorbanan yang besar; waktu, harta dan kadang nyawa. Apalagi di jaman dulu sebelum transportasi semudah jaman sekarang, menunaikan ibadah haji teramat sulit dan lama. Memerlukan ketahanan dan kesabaran untuk mengarungi lautan luas dan ganas selama 3-6 bulan untuk sampai ke sana. Kalau sekarang, hanya 8-10 jam saja naik pesawat terbang sudah cukup memindahkan badan dari tanah air ke tanah suci sana.&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Uniknya juga, dalam prosesi lamaran pernikahan dalam budaya bugis makassar, faktor ke-haji-an kerap menjadi penentu dalam menetapkan uang panaik atau dui’menre’ atau uang mahar bagi mempelai perempuan. Calon pengantin perempuan yang sudah bergelar ‘hajjah’ sudah barang tentu mahar atau uang naiknya akan jauh lebih mahal dibanding yang belum hajjah. Besaran ‘perbedaan’ uang panaik/dui menre atau maharini kadang dihitung berdasarkan tarif resmi ONH yang diberlakukan pemerintah. Sebaliknya, adalah suatu kebanggaan buat mempelai perempuan, apabila calon penganten laki-lakinya suda bergelar haji dan dengan demikian, bisa menjadi nilai tambah dalam menentukan diterima atau tidaknya lamaran yang bersangkutan. Akan berat perjuangan seorang laki-laki yang belum haji yang hendak meminang seorang hajjah, kecuali si laki-laki mengkompensasi nya dengan uang panaik yang tidak sedikit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selepas berhaji di tanah suci, dalam kultur bugis/makassar ada semacam ritual wisuda yang dinamakan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;‘mappatoppo’&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; haji, dengan penyematan songkok/kopiah haji dan gamis panjang berwarna putih yang dilakukan oleh syekh atau ulama yang disegani. Di jaman dulu, orang bugis/makassar yang belum menunaikan ibadah haji, akan malu dan segan mengenakan songkok putih karena masyarakat tahu dan akan mencibir kalau pada kenyataannya yang bersangkutan belum pernah naik haji. Orang ini akan dikatakan sebagai haji palsu, atau diolok-olok dalam bahasa bugis sebagai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;haji tallattu’&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Sebaliknya, orang yang sudah pernah naik haji terkadang tidak mau melepas songkok putihnya lagi apabila bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya, agar supaya identitas ke-hajinya tetap melekat. Untuk yang perempuan, biasanya disimbolkan dengan kerudung kepala yang dipuntir mengelilingi tepi rambut dan dipasangi manik-manik atau hiasan berwarna emas atau perak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Menurut Fuad Rumi, seorang ulama dan cendekiawan Makassar, kehajian terakulturasi ke dalam budaya kita untuk memberi simbol status bagi seseorang. Menjadi haji, adalah sebuah kehormatan, dan kehormatan itu disimbolkan dengan gelar dan pakaian.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Diaspora Jemaah Haji asal Bugis Makassar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembatasan jumlah jamaah haji untuk setiap negara yang diberlakukan oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan Pemerintah Kerajaan Saudi, membuat pemerintah tidak bisa lagi seenaknya memobilisasi pengerahan jamaah haji ini. Dengan sistem perhitungan n=1/1000 jumlah penduduk muslim, maka Indonesia hanya kebagian quota 205.000 jamaah haji saja (termasuk ONH Plus 16,000). Hal yang mana kemudian dielaborasi lagi oleh Pemerintah Indonesia dengan formula yang sama yang diberlakukan OKI untuk setiap propinsi di Indonesia. Karenanya Sulawesi Selatan yang jumlah penduduknya berjumlah tidak kurang dari 7 juta jiwa kebagian quota hanya 6.826 jamaah haji saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip pembagian quota yang dihitung dengan azas &lt;strong&gt;‘keadilan’&lt;/strong&gt; ini rupanya justru melibas propinsi yang animo masyarakatnya untuk berhaji cukup tinggi, apalagi yang menganggap ibadah haji bukan lagi sekedar ibadah tapi &lt;em&gt;inheren&lt;/em&gt; dengan budaya setempat. Akhirnya tercatatlah antrian/waiting list yang sangat panjang untuk daerah-daerah: Sulawesi Selatan (quota 6826), Kalimantan Timur (2790), Kalimantan Selatan (3461), dan DKI Jakarta (7012). Tercatat bahwa antrian jamaah haji di daerah-daerah tersebut mencapai 3-5 tahun an. Artinya jamaah haji yang sudah mendaftar dan melunasi ONH nya tahun ini harus rela menanti hingga 3-5 tahun lagi untuk realisasi keberangkatannya. Sungguh waktu yang membosankan untuk menunggu. Bahkan, tempo hari saya sempat menanyakan maksud yang sama di Balikpapan, dan dijawab bahwa saya baru bisa berangkat kira-kira tahun 2013! Enam tahun lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak jalan menuju Roma, demikian adagium yang diciptakan orang untuk menggambarkan kreatifitas mencari solusi alternatif sekiranya solusi yang tersedia sudah terhalang tembok besar. Sistem quota yang membatasi jumlah jamaah haji di daerah-daerah yang disebutkan diatas disiasati dengan mengalihkan pendaftaran ke daerah lain yang quotanya masih belum penuh. Terutama untuk daerah2 yang punya daya tampung ’besar’ tapi ‘peminat’ yang kurang. Sebutlah misalnya untuk daerah Jawa Barat (quota 37.227), Jawa Timur (33.810), Jawa Tengah (29,363), Lampung (6,216), dan Gorontalo (881).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, daerah-daerah berdaya angkut ‘kurang’ ini kemudian diserbu oleh peminat calon jamaah haji yang di daerahnya quota jamaah sudah penuh, terutama orang Bugis Makassar. Akhirnya, terjadilah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;diaspora &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;jamaah haji asal Bugis Makassar ke daerah lain. Baru-baru ini, menurut sebuah koran nasional, didapati sekitar 116 jamaah haji asal Bugis yang diberangkatkan dari Magelang, Jawa Tengah. Disebutkan bahwa kejadian ini cukup merepotkan petugas haji disana, karena rupanya semua jamaah haji itu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;tidak ada satupun yang bisa berbahasa Indonesia&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, mereka hanya bisa berbahasa Bugis saja. Terbayang, betapa kelabakannya para petugas di sana mencari penerjemah khusus yang bisa berbahasa Bugis, demi untuk melayani jamaah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudahan mengurus KTP atau berkas lainnya (malah terkadang dipalsukan) memberi celah lebar untuk pindah registrasi semacam ini, yang rupanya juga dibantu juga oleh oknum pejabat terkait. Hal yang mana teramat mudah kita jumpai di negara tercinta ini. Seorang tetangga saya di Pannampu Makassar, Haji Nawir asal Bone yang punya usaha mengatur pemberangkatan jamaah haji, setiap tahun bisa memberangkatkan 10-20 jamaah haji asal Bugis-Makassar dari kota pemberangkatan Lampung dan Gorontalo. Biaya haji yang harus dikeluarkan calon jamaah haji tentu saja bertambah besar, terutama untuk transportasi ke kota pemberangkatan dan pengurusan berkas dokumen. Seorang tetangga di Makassar bahkan perlu merogoh kocek dalam-dalam hingga nyaris 10 juta rupiah hanya untuk urusan ‘pindah’ registrasi ini. Itupun kadang-kadang juga tidak berhasil, apabila petugas di kota yang bersangkutan agak ‘keras’ terhadap pendatang &lt;em&gt;sporadis&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;insidentil&lt;/em&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode lain yang juga jamak dipakai oleh orang-orang yang kebelet pengen naik haji tapi terhambat persoalan quota dan ONH yang tinggi adalah dengan cara &lt;strong&gt;&lt;em&gt;umrah overstay&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Cara ini ditempuh oleh jemaah dengan melakukan kunjungan ke tanah suci jauh-jauh hari sebelum musim haji dengan niat awal melakukan ibadah umrah. Biasanya mereka berdatangan ke tanah suci ini pada saat bulan ramadhan, yang lamanya hanya sekitar tiga bulan dari bulan haji, zulhijjah. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang tetangga saya asal Bugis juga, sebut saja Haji Ummi. Haji Ummi melakukan ibadah umrah pada saat awal ramadhan, dan berlanjut menetap di tanah suci hingga musim haji dengan menumpang pada rumah salah seorang kerabatnya disana. Yah, banyak jalan menuju Mekkah tentu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tentu saja tidak semua orang Bugis-Makassar yang berangkat haji itu hanya berorientasi kehormatan dan kemudian mencoba mensiasati sistem yang ada. Ada juga yang murni berangkat ke tanah suci melaksanakan ibadah itu demi mencari keridhoan Allah semata, dan mengharap balasan mabrur yang setimpal dengan surga. Sehingga sepulang dari berhaji, dia tidak akan peduli dengan segala gelar dan kehormatan sosial yang jamak berlaku dalam masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Orang yang sudah berhaji, biasanya akan mendapat tambahan gelar haji di depan namanya,dan dengan demikian akan mendapat panggilan atau sapaan ‘haji’ atau ‘hajjah’ menggantikan atau menambahkan nama yang bersangkutan. Ada aturan tidak tertulis, bahwa sangat tidak sopan apabila menuliskan nama seseorang yang sudah berhaji tanpa menyebut gelar haji itu seperti dalam undangan. Kelupaan menulis gelar haji, bisa berakibat fatal; yang bersangkutan akan merasa tidak dihargai (&lt;em&gt;ifaleppei siri’na&lt;/em&gt;) dan akan merenggangkan hubungan sosial diantara keduanya.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-8156109496464345226?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/8156109496464345226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=8156109496464345226' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/8156109496464345226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/8156109496464345226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2007/12/kultur-haji-bagi-bugis-makassar.html' title='Kultur Haji Bagi Bugis-Makassar'/><author><name>deen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12254506957003167467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_FZrpjohmtC0/Stv1W2jFetI/AAAAAAAAAIw/Fy3gb-TZ9NA/S220/DSC00743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1FlePcvv4CQ/R2NdXWdgHUI/AAAAAAAAAA8/US-iInI3IZY/s72-c/Haji+Zamzam+dan+keluarga+yg+akan+berangkat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-9200332072454411318</id><published>2007-09-02T15:42:00.000+08:00</published><updated>2007-12-12T12:13:19.258+08:00</updated><title type='text'>KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA BUGIS KLASIK</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh&lt;br /&gt;Mashadi Said&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakultas Sastra, Universitas Gunadarma, Jakarta&lt;br /&gt;Jalan Margonda Raya No. 100 Depok&lt;br /&gt;&lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/BUGINESE/post?postID=IDjBkCOFUP6Z5lmuiEchlpD-NFSbhuezWhgoaAup0JZ22VQImK4Bi8dCXe4od2AbykSy6tFuvMhrvRnOvXYXaItkV7PDjzk"&gt;mashadi@staff.gunadarma.ac.id&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan lokal, atau dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijaksanaan setempat "local wisdom" atau pengetahuan setempat "local knowledge" atau kecerdasan setempat "local genious, merupakan pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Kearifan lokal di berbagai daerah di seluruh Nusantara merupakan kekayaan budaya yang perlu diangkat kepermukaan sebagai bentuk jati diri bangsa. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, dalam sambutannya pada Simposium Internasional IX Pernaskahan Nusantara di Baubau, tanggal 5 Agustus 2005 mengatakan, kearifan lokal yang terdapat di berbagai daerah di Nusantara, seharusnya diangkat dan dihargai sebagai salah satu acuan nilai dan norma untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan budaya adalah energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup di atas nilai-nilai yang membawa kelangsungan hidup yang berperadaban; hidup damai; hidup rukun; hidup bermoral; hidup saling asih, asah, dan asuh; hidup dalam keragaman; hidup penuh maaf dan pengertia;. hidup toleran dan jembar hati; hidup harmoni dengan lingkungan; hidup dengan orientasi nilai-nilai yang membawa pada pencerahan; hidup untuk menyelesaikan persoalan-persoalan berdasarkan mozaik nalar kolektif sendiri. Kearifan seperti itu tumbuh dari dalam lubuk hati masyarakat sendiri. Itulah bagian terdalam dari kearifan kultur lokal (Nashir, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayam (1998) mengemukakan bahwa kebudayaan adalah hasil upaya yang terus-menerus dari manusia dalam ikatan masyarakat dalam menciptakan prasarana dan sarana yang diperlukan untuk menjawab tantangan kehidupannya. Dari segi kognitif, kebudayaan tidak hanya mencakup hal-hal yang telah dan sedang dilakukan atau diciptakan manusia, melainkan juga hal-hal yang masih merupakan cita-cita atau yang masih harus diwujudkan, termasuk norma, pandangan hidup atau sistem nilai. Cita-cita itu dapat diwujudkan melalui proses demokratisasi&lt;br /&gt;kebudayaan dan proses selektif terkontrol, yaitu suatu proses yang memiliki substansi kebebasan dan otonomi sekaligus terkontrol dengan nilai-nilai rujukan yang fundamental dan telah teruji dalam perjalanan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus utama sajian ini adalah kearifan lokal dalam sastra Bugis klasik. Sastra Bugis klasik meliputi Sure Galigo, Lontarak, Paseng/Pappaseng Toriolota/ Ungkapan, dan Elong/syair. Sastra Bugis klasik, seperti Galigo (yang dikenal sebagai epik terpanjang di dunia), Lontarak, Paseng(pesan-Pesan), dan syair mengandung kearifan masih sangat relevan dengan perkembangan zaman. Kearifan lokal yang menjadi fokus utama meliputi bawaan hati yang baik, konsep pemerintahan yang baik (good governance), demokrasi, motivasi berprestasi, kesetiakawanan sosial, kepatutan, dan penegakan hukum. Kearifan itu memiliki kedudukan yang kuat dalam kepustakaan Bugis dan masih sesuai dengan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bawaan Hati yang Baik (Ati Mapaccing)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Bugis, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ati mapaccing&lt;/span&gt; (bawaan hati yang baik) berarti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nia' madeceng&lt;/span&gt; (niat baik), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nawa-nawa madeceng&lt;/span&gt; (niat atau pikiran yang baik) sebagai lawan dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nia' maja' &lt;/span&gt;(niat jahat), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nawa-nawa masala&lt;/span&gt; (niat atau pikiran bengkok). Dalam berbagai konteks, kata bawaan hati, niat atau itikad baik juga berarti ikhlas, baik hati, bersih hati atau angan-angan dan pikiran yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan bawaan hati yang baik dari seseorang dimulai dari suatu niat atau itikad baik (nia mapaccing), yaitu suatu niat yang baik dan ikhlas untuk melakukan sesuatu demi tegaknya harkat dan martabat manusia. Bawaan hati yang baik mengandung tiga makna, yaitu a) menyucikan hati, b) bermaksud lurus, dan c) mengatur emosi-emosi. Pertama, manusia menyucikan dan memurnikan hatinya dari segala nafsu- nafsu kotor, dengki, iri hati, dan kepalsuan-kepalsuan. Niat suci atau bawaan hati yang baik diasosiasikan dengan tameng (pagar) yang dapat menjaga manusia dari serangan sifat-sifat tercela. Ia bagai permata bercahaya yang dapat menerangi dan menjadi hiasan yang sangat berharga. Ia bagai air jernih yang belum tercemar oleh noda-noda atau polusi. Segala macam hal yang dapat menodai kesucian itu harus dihindarkan dari hati, sehingga baik perkataan maupun perbuatan dapat&lt;br /&gt;terkendali dengan baik. Dalam Lontara' disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dua kuala sappo, unganna panasae, belo kanukue&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Dua kujadikan pagar, bunga nangka, hiasan kuku.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Bugis, bunga nangka disebut lempu yang berasosiasi dengan kata jujur, sedangkan hiasan kuku dalam bahasa Bugis disebut pacci yang kalau ditulis dalam aksara Lontara' dapat dibaca paccing yang berarti suci atau bersih. Bagi manusia Bugis, segala macam perbuatan harus dimulai dengan niat suci karena tanpa niat suci (baik), tindakan manusia tidak mendapatkan ridha dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Seseorang yang mempunyai bawaan hati yang baik tidak akan pernah goyah dalam pendiriannya yang benar karena penilainnya jernih. Demikian pula, ia sanggup melihat kewajiban dan tanggung jawabnya dengan lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, manusia sanggup untuk mengejar apa yang memang direncanakannya, tanpa dibelokkan ke kiri dan ke kanan. Lontara' menyebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atutuiwi anngolona atimmu; aja' muammanasaianngi ri ja'e padammu rupa tau nasaba' mattentui iko matti' nareweki ja'na apa' riturungenngi ritu gau' madecennge riati maja'e nade'sa nariturungeng ati madecennge ri gau' maja'e. Naiya tau maja' kaleng atie lettu' rimonri ja'na.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jagalah arah hatimu; jangan menghajatkan yang buruk kepada sesamamu manusia, sebab pasti engkau kelak akan menerima akibatnya, karena perbuatan baik terpengaruh oleh perbuatan buruk. Orang yang beritikad buruk akibatnya akan sampai pada keturunannya keburukan itu.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan Lontara' di atas menitikberatkan pentingnya seorang individu untuk memelihara arah hatinya. Manusia dituntut untuk selalu berniat baik kepada sesama. Memelihara hati untuk selalu berhati bersih kepada sesama manusia akan menuntun individu tersebut memetik buah kebaikan. Sebaliknya, individu yang berhati kotor, yaitu menghendaki keburukan terhadap sesama manusia, justru akan menerima akibat buruknya. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang individu untuk memikirkan hal-hal buruk terhadap sesama manusia. Dengan kata&lt;br /&gt;lain, agar setiap individu dapat memetik keberuntungan atau keberhasilan dalam hidup sesuai dengan cita-citanya, ia terlebih dahulu harus memelihara hatinya dari penyimpangan-penyimpangan. Jika menginginkan orang berbuat baik kepadanya, ia harus terlebih dahulu berniat dan berbuat baik kepada orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, manusia tidak membiarkan dirinya digerakkan oleh nafsu-nafsu, emosi-emosi, perasaan-perasaan, kecondongan-kecondongan, melainkan diatur suatu pedoman (toddo), yang memungkinkannya untuk menegakkan harkat dan martabat manusia sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian ia tidak diombang-ambingkan oleh segala macam emosi, nafsu dan perasaan dangkal. Jadi, pengembangan sikap-sikap itu membuat kepribadian manusia menjadi lebih kuat, lebih otonom dan lebih mampu untuk menjalankan tanggung jawabnya. Dalam Lontara' Latoa ditekankan bahwa bawaan hati yang baik menimbulkan perbuatan-perbuatan yang baik pula, yang sekaligus menciptakan ketertiban dalam masyarakat. Dalam memperlakukan diri sebagai manusia, bawaan hati memegang peranan yang amat penting. Bawaan hati yang baik mewujudkan kata-kata dan perbuatan yang benar yang sekaligus dapat menimbulkan kewibawaan dan apa yang diucapkan akan tepat pada sasarannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Makkedatopi Arung Bila, eppa tanrana tomadeceng kalawing ati, seuani,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; passu'i ada napatuju, maduanna, matuoi ada nasitinaja, matellunna&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; duppai ada napasau, maeppa'na, moloi ada napadapi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Berkata pula Arung Bila, ada empat tanda orang baik bawaan hatinya. Pertama, mengucapkan kata yang benar. Kedua, menyebutkan kata yang sewajarnya. Ketiga, menjawab dengan kata yang berwibawa. Keempat, melaksanakan kata dan mencapai sasarannya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping bawaan hati yang baik sebagai motor pendorong dalam manifestasi perbuatan manusia dalam dunia realitas, terdapat lagi suatu hal dalam diri manusia yang harus dipelihara, yaitu pikiran. Bagi manusia Bugis, hati dan pikiran yang baik merupakan syarat untuk menghasilkan kebaikan dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konsep Pemerintahan yang Baik (good governance) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;good governance&lt;/span&gt; tak bisa dilepaskan dari konteks perbincangan mengenai politik dan paradigma pembangunan yang berkembang di dunia. Bila dilacak agak teliti, penggunaan istilah ini belum lebih dari dua dekade. Diduga, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;good governance&lt;/span&gt; pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1991 dalam sebuah resolusi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Council of the European Community &lt;/span&gt;yang membahas Hak Asasi Manusia, Demokrasi, dan Pembangunan.. Di dalam resolusi itu disebutkan, diperlukan empat prasyarat lain untuk dapat mewujudkan Pembangunan yang berkelanjutan,yaitu mendorong penghormatan atas hak asasi manusia, mempromosikan nilai demokrasi, mereduksi budget pengeluaran militer yang berlebihan dan mewujudkan good governance. Sejak saat itu, good governance mulai diperbincangkan dan diakomodasi dalam berbagai konvensi dan resolusi yang berkaitan dengan pembangunan, baik dalam perbincangan pembangunan di UNDP maupun di Lome Convention, Bantuan Pembangunan yang bersifat Multilateral dan Bilateral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;good governance&lt;/span&gt; telah diterjemahkan menjadi penyelenggaraan pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tata pemerintahan yang baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan ada juga yang mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih (Effendi, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kepustakaan Bugis, untuk terwujudnya permerintahan yang baik, seorang pemimpin dituntut memiliki 4 kualitas yang tak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Keempat kualitas itu terungkap dalam ungkapan Bugis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maccai na Malempu;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Waraniwi na Magetteng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Cendekia lagi Jujur, Berani lagi Teguh dalam Pendirian.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ungkapan di atas diurai maka ada empat karakteristik seorang pemimpin yang diangap dapat memimpin suatu negeri, yaitu: cendekia, jujur, berani, dan teguh dalam pendirian. Ungkapan itu bermakna bahwa kepandaian saja tidak cukup. Kepandaian haruslah disertai dengan kejujuran, karena banyak orang pandai menggunakan kepandaiannya membodohi orang  lain. Karerna itu, kepandaian haruslah disetrtai dengan kejujuran. Selanjutnya, keberanian saja tidak cukup. Keberanian haruslah disertai dengan keteguhan dalam pendirian. Orang yang berani tetapi tidak cendekia dan teguh dalam pendirian dapat terjerumus dalam kenekadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat terselenggaranya pemerintahan negeri dengan baik terungkap dalam Lontarak bahwa pemimpin negeri haruslah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jujur terhadap Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan sesamanya manusia.&lt;br /&gt;2. Takut kepada Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan menghormati rakyatnya dan orang asing serta tidak membeda-bedakan rakyatnya.&lt;br /&gt;3. Mampu memperjuangkan kebaikan negerinya agar berkembang biak rakyatnya, dan mampu menjamin tidak terjadinya perselisihan antara pejabat kerajaan dan rakyat.&lt;br /&gt;4. Mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya.&lt;br /&gt;5. Berani dan tegas, tidak gentar hatinya mendapat berita buruk (kritikan) dan berita baik (tidak mudah terbuai oleh sanjungan).&lt;br /&gt;6. Mampu mempersatukan rakyatnya beserta para pejabat kerajaan.&lt;br /&gt;7. Berwibawa terhadap para pejabat dan pembantu-pembantunya.&lt;br /&gt;8. Jujur dalam segala keputusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, I Mangada'cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang membuat pesan yang isinya bahwa ada lima sebab yang menyebabkan negeri itu rusak, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kalau raja yang memerintah tidak mau diperingati.&lt;br /&gt;2. Kalau tidak ada cendekiawan dalam suatu negara besar.&lt;br /&gt;3. Kalau para hakim dan para pejabat kerajaan makan sogok.&lt;br /&gt;4. Kalau terlampau banyak kejadian-kejadian besar dalam suatu negara.&lt;br /&gt;5. Kalau raja tidak menyayangi rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Demokrasi (Amaradekangeng)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amaradekangeng&lt;/span&gt; berasal dari kata maradeka yang berarti merdeka atau bebas. Pengertian tentang kemerdekaan ditegaskan dalam Lontarak sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Niaa riasennge maradeka, tellumi pannessai: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seuani, tenrilawai ri olona. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maduanna, tenriangkai' riada-adanna. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao ri awa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yang disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya: pertama, tidak dihalangi kehendaknya; kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; ketiga tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas dan ke bawah. Itulah hak-hak kebebasan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi sebagai bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara terungkap dalam sastra Bugis sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rusa taro arung, tenrusa taro ade,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rusa taro ade, tenrusa taro anang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rusa taro anang, tenrusa taro tomaega.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat, Batal ketetapan adat, tidak batal ketetapan kaum Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan orang banyak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ungkapan itu, jelas tergambar bahwa kedudukan rakyat amat besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Rakyat berarti segala-galanya bagi negara. Raja atau penguasa hanyalah merupakan segelintir manusia yang diberi kepercayaan untuk mengurus administrasi,&lt;br /&gt;keamanaan, dan pelaksanaan pemerintahan negara (Said, 1998). Konsep di atas sejalan dengan konsep demokrasi yang dianut saat ini yang mana kedaulatan ada di tangan rakyat. Kata "demokrasi" berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kutipan itu, jelas tergambar bahwa kekuatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan raja. Jika hal ini dihubungkan dengan teori demokrasi Rousseau tentang volonte generale atau kehenak umum dan volonte de tous atau kehendak khusus, jelas tergambar bahwa teori Rousseau berkesesuaian dengan sistem pemerintahan yang dikembangkan di Tanah Bugis yaitu apabila dua kepentingan (antara penguasa dan rakyat) bertabrakan, kepentingan yang harus dimenangkan adalah kepentingan rakyat (umum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan pemerintahan, raja selalu berusaha untuk bertindak secara ekstra hati-hati. Sesuatu yang akan dibebankan kepada rakyat haruslah terlebih dahulu dipertimbangkan. Artinya, acuan utama dari setiap tindakan adalah rakyat. Hal tersebut tertuang dalam Getteng Bicara (undang-undang) sebagai berikut. "Takaranku kupakai menakar, timbanganku kupakai menimbang, yang rendah saya tempatkan di bawah, yang tengah saya tempatkan di tengah, yang tinggi saya tempatkan di atas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketetapan hukum yang tergambar dalam getteng bicara di tanah Bugis menunjukkan bahwa raja tidak akan memutuskan suatu kebijakan bila raja itu sendiri tidak merasa nyaman. Raja menjadikan dirinya sebagai ukuran dan selalu berusaha berbuat sepatutnya. Dari argumentasi itu, jelas tergambar bahwa negara adalah sepenuhnya milik rakyat dan bukan milik raja. Raja tidak dapat berbuat sekehendak hatinya kepada negara yang menjadi milik dari rakyat itu. Raja  sama sekali tidak dapat membuat peraturan dengan seenaknya, terutama menyangkut kepentingan dirinya atau keluarganya. Semua peraturan yang akan ditetapkan oleh raja harus melalui persetujuan dari kalangan wakil rakyat yang telah mendapatkan kepercayaan dari&lt;br /&gt;rakyat. Jika raja melanggar ketentuan itu, berarti raja telah melanggar kedaulatan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat menjamin hak dan protes rakyat dengan lima cara sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; Mannganro ri ade',&lt;/span&gt; memohon petisi atau mengajukan permohonan kepada raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang hal-hal yang mengganggu, seperti kemarau panjang karena dimungkinkan sebagai akibat kesalahan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mapputane'&lt;/span&gt;, menyampaikan keberatan atau protes atas perintah-perintah yang memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika itu menyangkut kelompok, maka mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk menghadap raja, tetapi jika perseorangan, langsung menghadap raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mallimpo-ade'&lt;/span&gt;, protes yang mendesak adat karena perbuatan sewenang-wenang raja, dan karena usaha melalui mapputane' gagal. Orang banyak, tetapi tanpa perlengkapan senjata mengadakan pertemuan dengan para pejabat negara dan tidak meninggalkan tempat itu kecuali&lt;br /&gt;permasalahannya selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mabbarata,&lt;/span&gt; protes keras rakyat atau kaum terhadap raja, karena secara prinsipial masyarakat merasa telah diperlakukan tidak sesuai dengan panngadereng oleh raja, keluarga raja, atau pejabat kerajaan. Masyarakat atau kaum berkumpul di balai pertemuan (baruga) dan mendesak agar masalahnya segera ditangani. Kalau tidak, rakyat atau kaum bisa mengamuk yang bisa berakibat sangat fatal pada keadaan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mallekke' dapureng,&lt;/span&gt; tindakan protes rakyat dengan berpindah ke negeri lain. Hal ini dilakukan karena sudah tidak mampu melihat kesewenang-wenangan di dalam negerinya dan protes-protes lain tidak ampuh. Mereka berkata: "Kamilah yang memecat raja atau adat, karena kami sekarang melepaskan diri dari kekuasaannya".(Mattulada, 1985)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak koreksi rakyat terhadap perbuatan sewenang-wenang pemimpin atau pejabat negara, merupakan bukti bahwa kehidupan bernegara manusia Bugis menekankan unsur "demokrasi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penegakan Hukum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi manusia Bugis, menegakkan hukum terhadap suatu pelanggaran merupakan kewajiban. Dalam konsep Siri' (malu, harga diri) terungkap bahwa manusia Bugis yang berbuat semaunya dan tidak lagi mempedulikan aturan-aturan adat (etika panngadereng atau peradaban) dianggap sebagai manusia yang tidak mempunyai harga diri. Siri' atau harga diri merupakan landasan bagi "pemimpin" untuk senantiasa menegakkan hukum tanpa pilih kasih. Pemimpin yang tidak mampu menegakkan hukum dianggap pemimpin lembek atau banci. Seseorang yang tidak mempunyai Siri' diumpamakan sebagai bangkai yang berjalan. Dalam ungkapan Bugis disebutkan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siri' emmi to riaseng tau&lt;/span&gt; (Hanya karena Siri'-lah kita dinamakan manusia). Itulah sebabnya mengapa para orang tua Bugis menjadikan Siri' sebagai hal yang amat penting dalam nasihat-nasihat, sebagaimana dituturkan oleh Muhammad Said sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Taro-taroi alemu siri'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Narekko de' siri'mu inrekko siri'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Perlengkapilah dirimu dengan siri', Kalau tidak ada siri'-mu, pinjamlah siri'.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia realitas, sering dijumpai seorang manusia Bugis mengorbankan sanak keluarga yang paling dicintainya demi mempertahankan harga diri dan martabatnya di tengah masyarakat. Dalam sejarah disebutkan bahwa di Sidenreng Rappang pada abad XVI, La Pagala Nene Mallomo, seorang hakim (pabbicara), dan murid dari La Taddampare, menjatuhkan pidana mati terhadap putranya sendiri yang amat dicintainya karena telah terbukti mengambil luku orang lain tanpa seizin dengan pemiliknya. Tentu saja kejadian itu telah mencoreng muka ayahnya sendiri yang dikenal sebagai hakim yang jujur. Ketika ditanya mengapa ia memidana mati putranya sendiri dan apakah dia menilai sepotong kayu sama dengan jiwa seorang manusia, beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ade'e temmakeana' temmakke eppo"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hukum tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidana mati itu dilakukan semata-mata untuk mempertahankan harga dirinya sebagai hakim yang jujur di tengah-tengah masyarakatnya. Sekiranya ia memberikan pengampunan kepada putranya sendiri, tentulah ia akan menanggung malu yang sangat dalam karena akan dicibir oleh masyarakat sekitarnya, dan wibawanya sebagai hakim yang jujur akan hilang seketika. Bagi masyarakat Bugis, falsafah "taro ada taro gau" (satunya kata dengan perbuatan) adalah suatu keharusan. Manusia yang tidak bisa menyerasikan antara perkataan dan perbuatannya akan mendapat gelar sebagai manusia "munafik" (munape), suatu gelar yang sangat dihindari oleh&lt;br /&gt;manusia Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat yang telah merupakan jiwa dan semangat manusia Bugis berlaku umum dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Adat atau panngadereng tidak mengenal kedudukan, kelas sosial, derajat kepangkatan, status sosial ekonomi, dan lain-lain, dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman adat terhadap manusia-manusia yang telah melakukan pelanggaran. Dari mana pun asal manusia itu, apakah dia seorang raja, putra mahkota, orang kaya, bangsawan, sama sekali tidak mempunyai hak istimewa dalam kehidupan panngadereng masyarakat Bugis. Kedudukan kelompok elite dan masyarakat biasa diperlakukan sama dalam kehidupan masyarakat. Faktor inilah yang telah menempatkan adat pada tempat yang teratas dalam diri manusia Bugis: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ade'temmakiana', temmakieppo"&lt;/span&gt; (adat tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data tentang bagaimana adat diperlakukan kepada semua kelompok masyarakat, berikut beberapa data historis yang dicatat oleh Abidin sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pada waktu Lamanussa Toakkarangeng menjadi Datu Soppeng, orang-orang Soppeng pernah hampir kelaparan karena kemarau panjang. Beliau menyelidiki sebab-sebab bencana kelaparan itu, tetapi tak ada seorang pejabat kerajaan pun yang melakukan perbuatan sewenang- wenang. Setelah beliau merenung, beliau mengingat bahwa beliau pernah memungut suatu barang di sawah seorang penduduk dan disimpannya di rumahnya sendiri. Perbuatan beliau inilah yang menurutnya menyebabkan mala petaka itu, pikir beliau. Beliau mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman kepada dirinya sendiri karena tidak ada orang pun yang berani menjatuhkan hukuman kepada diri sang Datu. Hukuman yang dijatuhkan kepada dirinya sendiri adalah berupa denda, yaitu beliau memotong kerbau dan dagingnya dibagikan kepada rakyat. Di hadapan rakyatnya, beliau menyatakan diri bersalah karena telah memungut suatu barang dari sawah seseorang dan menyimpannya sendiri. Beliau mengumumkan barang tersebut di tengah pesta tudang sipulung (duduk bersama), tetapi tak seorang pun yang mengaku telah kehilangan&lt;br /&gt;sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketika La Pabbelle' putra Arung Matoa Wajo yang X La Pakoko Topabbele' memperkosa wanita di kampung Totinco, ia dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Raja Bone yang bernama La Ica' dibunuh oleh orang-orang Bone karena kekejamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Raja Bone yang bernama La Ulio "Bote'" (Sigendut) meninggal diamuk di kampung Utterung, karena dianggap berbuat sewenang-wenang kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ketika Toangkone Ranreng Bettempola pada abad XV dibuktikan menculik wanita yang bernama We Neba untuk diserahkan kepada temannya Opu Rajeng dari Luwu, maka ia dijatuhi pidana dipecat dengan tidak hormat lalu diusir untuk seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. La Temmasonge putra raja Bone La Patau Matanna Tikka pada tahun 1710 dipidana "ripaoppangi tana" (diusir keluar Bone dan dibuang ke Buton) karena membunuh Arung Tiboyong, seorang anggota dewan pemangku adat Bone. Raja Luwu menyingkirkan putrinya (yang terserang penyakit kulit yang menular) dari istina karena atas permintaan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Motivasi berprestasi (Reso)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal motivasi berprestasi, terungkap dalam ungkapan Bugis dengan istilah reso (usaha keras). Untuk mencapai prestasi reso merupakan syarat utama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan, seseorang haruslah pantang menyerah; ia harus tampil sebagai pemenang. Ungkapan Lontarak berikut mengisyaratkan betapa pentingnya melakukan gerak cepat agar orang lain tidak mendahului kita dalam bertindak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aja' mumaelo' ribetta makkalla ri cappa alletennge&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan di atas memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini terdapat persaingan yang cukup ketat dan untuk memenangkan persaingan itu, semua kemampuan yang ada harus dimanfaatkan. Titian yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja dan siapa yang terdahulu menginjakkan kaki pada titian itu, berarti dialah yang berhak meniti terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bertindak cepat dengan penuh keberanian, walaupun mengandung risiko besar merupakan syarat mutlak untuk menjadi pemenang. Namun demikian, tidak ada keberuntungan besar tanpa perbuatan besar dan tidak ada perbuatan besar tanpa risiko yang&lt;br /&gt;besar. Dalam sebuah ungkapan Lontarak ditekankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Resopa natinulu, natemmanginngi malomo naletei pammase Dewata Seuwaee.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Hanya dengan kerja keras dan ketekunan, sering menjadi titian rahmat Ilahi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu memberi pelajaran bahwa untuk memperoleh keberhasilan, seseorang tidak hanya berdo'a, tetapi harus bekerja keras dan tekun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambo Enre (1992) mengutip sebuah ungkapan pesan Bugis bagi perantau-perantau sebelum meninggalkan kampung halaman sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akkellu peppeko mulao,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a'bulu rompeko murewe'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bergundul licinlah engkau pergi, berbulu suaklah engkau kembali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu diperuntukkan kepada para perantau agar terdorong bekerja keras di negeri rantauannya. Serta mempunyai tekad yang kuat untuk tidak kembali ke kampung halamannya sebelum berhasil. Dalam kaitannya dengan usaha, waktu atau kesempatan merupakan&lt;br /&gt;salah satu faktor penentu dalam meraih kemenangan (Tang, 2007). Hal ini ditegaskan dalam ungkapan Bugis disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Onroko mammatu-matu napole marakkae naia makkalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Tinggallah engkau bermalas-malas hingga kelak datang yang gesit lalu menguasai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pentingnya menghargai waktu/kesempatan, pentingnya seseorang menghindari perbuatan memetik keuntungan dari hasil jerih payah orang lain, tergambar dalam ungkapan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Temmasiri kajompie, tania ttaro rampingeng, naia makkalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Tak malu nian si Buncis, bukan ia menyimpan penyanggah, ia yang memanjat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu menganjurkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, seseorang dituntut bekerja keras, tidak menyandarkan harapannya kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesetiakawanan Sosial (assimellereng)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep assimellereng mengandung makna kesehatian, kerukunan, kesatupaduan antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lain, antara seorang sahabat dengan sahabat yang lain. Memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, setia kawan, cepat merasakan penderitaan orang lain, tidak tega membiarkan saudaranya berada dalam keadaan menderita, dan cepat mengambil tindakan penyelamatan atas musibah yang menimpa seseorang, dikenal dengan konsep "sipa'depu-repu" (saling memelihara). Sebaliknya, orang yang tidak mempedulikan&lt;br /&gt;kesulitan sanak keluarganya, tetangganya, atau orang lain sekali pun disebut bette' perru.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, manifestasi kesehatian dan kerukunan itu disebutkan dalam sebuah ungkapan Bugis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"tejjali tettappere , banna mase-mase".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan tersebut biasanya diucapkan ketika seorang tuan rumah kedatangan tamu. Maksunya adalah "kami tidak mempunyai apa-apa untuk kami suguhkan kepada tuan. Kami tidak mempunyai permadani atau sofa yang empuk untuk tuan duduki. Yang kami miliki adalah kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lontarak sangat menganjurkan manusia memiliki perasaan kemanusiaan yang tinggi, rela berkorban menghormati hak-hak kemanusiaan seseorang, demi kesetiakawanan atau solidaritas antara sesama manusia, berusaha membantu orang, suka menolong orang menderita,&lt;br /&gt;berkorban demi meringankan penderitaan dan kepedihan orang lain dan berusaha pula untuk membagi kepedihan itu ke dalam dirinya. Dalam Lontarak disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Iya padecengi assiajingeng:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Sianrasa-rasannge nasiammase-maseie;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- sipakario-rio;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Tessicirinnaiannge ri sitinajae;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Sipakainge' ri gau' patujue;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Siaddappengeng pulanae.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yang memperbaiki hubungan kekeluargaan yaitu:&lt;br /&gt;- Sependeritaan dan kasih-mengasihi;&lt;br /&gt;- Gembira menggembirakan;&lt;br /&gt;- Rela merelakan harta benda dalam batas-batas yang wajar;&lt;br /&gt;- Ingat memperingati dalam hal-hal yang benar;&lt;br /&gt;- Selalu memaafkan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorongan perasaan solidaritas untuk membela, menegakkan, memperjuangkan harkat kemanusiaan orang lain atau perasaan senasib sepenanggungan di antara keluarga, kerabat, dan masyarakat dilukiskan dalam ungkapan-ungkapan Lontarak sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eppai rupanna padecengi asseajingeng:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Sialurusennge' siamaseng masseajing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Siadampengeng pulanae masseajing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Tessicirinnaiannge warangparang masseajing, ri sesena gau' sitinajae.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Sipakainge' pulannae masseajing ri sesena gau' patujue sibawa winru' madeceng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Empat hal yang mengeratkan hubungan kekeluargaan:&lt;br /&gt;- Senantiasa kasih mengasihi sekeluarga.&lt;br /&gt;- Maaf memaafkan sekeluarga.&lt;br /&gt;- Rela merelakan sebagian harta benda sekeluarga dalam batas-batas yang layak.&lt;br /&gt;- Ingat memperingati sekeluarga demi kebenaran dan tujuan yang baik.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepatutan (Mappasitinaja)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mappasitinaja&lt;/span&gt; berasal dari kata sitinaja yang berarti pantas, wajar atau patut. Mappasitinaja berarti berkata atau berbuat patut atau memperlakukan seseorang secara wajar. Definisi kewajaran diungkapkan oleh cendekiawan Luwu sebagaimana dikutip oleh Ambo Enre (1992)&lt;br /&gt;sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ri pariajanngi ri ajannge, ri parialau'i alau'e, ri parimanianngi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;maniannge, ri pariase'i ri ase'e, ri pariawai ri awae.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ditempatkan di Barat yang di Barat, ditempatkan di Timur yang di Timur, ditempatkan di Selatan yang di Selatan, ditempatkan di atas yang di atas, ditempatkan di bawah yang di bawah.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ungkapan itu, tergambar bahwa seseorang dikatakan bertindak patut atau wajar bila ia mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seseorang yang bertindak wajar berarti ia mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya. Ia tidak menyerakahi hak-hak orang lain, melainkan memahami hak-haknya sendiri. Di samping itu, ia pula dapat memperlakukan orang lain pada tempatnya. Ia sadar bahwa orang lain mempunyai hak-hak yang patut dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan wajar atau patut, dalam bahasa Bugis biasa juga disebut mappasikoa. Seorang yang berbuat wajar dalam arti mappasikoa berarti ia merasa cukup atas sesuatu yang dimilikinya. Ia bertindak sederhana. Dicontohkan oleh Rahim (1985), tentang sikap wajar Puang Rimaggalatung. Puang Rimaggalatung pernah berkali-kali menolak tawaran rakyat Wajo untuk diangkat menjadi Arung Matoa Wajo atas kematian Batara Wajo III yang bernama La Pateddungi Tosamallangi.  Bukannya beliau tidak mampu memangku jabatan yang ditawarkan&lt;br /&gt;kepadanya, tetapi ia sadar bahwa jabatan itu sungguh sulit untuk diembannya. Namun, karena Adat (para wakil rakyat) dan rakyat Wajo sendiri merasa bahwa beliau pantas memimpin mereka, akhirnya tawaran itu diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aja' muangoai onrong, aja' to muacinnai tanre tudangeng, de'tu mullei padecengi tana. Risappa'po muompo, ri jello'po muompo, ri jello'po muakkengau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jangan serakahi kedudukan, jangan pula terlalu menginginkan kedudukan tinggi, jangan sampai kamu tidak mampu memperbaiki negeri. Bila dicari barulah kamu muncul, bila ditunjuk barulah kamu mengia.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan lain yang menganjurkan manusia berbuat wajar adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Duampuangenngi ritu gau sisappa nasilolongeng, gau madecennge enrennge sitinajae. Iapa ritu namadeceng narekko silolongenngi duampuangennge. Naia lolongenna ritu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a. narekko ripabbiasai aleta mangkau madeceng, mauni engkamuna maperri ri pogaumuiritu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;b. Pakatunai alemu ri sitinajae&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;c. Saroko mase ri sitinajqe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;d. Moloi roppo-roppo narewe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;e. Moloi laleng namatike nasanresenngi ri Dewata Seuwaee&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;f. Akkareso patuju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dua hal saling mencari lalu bersua, yakni perbuatan baik dan yang pantas. Barulah baik bila keduanya berpadu. Cara memadukannya ialah:&lt;br /&gt;a. Membiasakan diri berbuat baik meskipun sulit dilakukan.&lt;br /&gt;b. Rendahkanlah dirimu sepantasnya.&lt;br /&gt;c. Ambillah hati orang sepantasnya&lt;br /&gt;d. Menghadapi semak-semak ia surut langkah&lt;br /&gt;e. Melalui jalan ia berhati-hati dan menyandarkan diri kepada Tuhan&lt;br /&gt;f. Berusahalah dengan benar.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, lawan dari kata patut adalah berlebih-lebihan dan serakah. Watak serakah diawali keinginan untuk menang sendiri. Keinginan untuk menang sendiri dapat menghasilkan pertentangan-pertentangan dan menutup kemungkinan untuk mendapatkan restu dari pihak lain. Manusia yang berbuat serakah, justru akan menghancurkan dirinya sendiri karena orang lain akan menjauhinya. Dan apabila hati manusia dipenuhi sifat serakah, maka tiada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari manusia itu. Dalam Lontarak disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cecceng ponna cannga tenngana sapu ripale cappa'na&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Serakah awalnya, menang sendiri pertengahannya, kehilangan sama sekali akhirnya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Lontarak amat menekankan pentingnya manusia berbuat secara wajar, seperti dapat disimak dalam ungkapan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aja' mugaukenngi padammu tau ri gau' tessitinajae&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jangan engkau melakukan sesuatu yang tidak patut terhadap sesamamu manusia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Lontarak memperingatkan bahwa sifat serakah atau tamak, sewenang-wenang, curang, perbuatan tega atau tidak menaruh belas kasihan kepada orang lain dapat menghancurkan nilai kepatutan dan dapat menimbulkan kerusakan dalam negara. Pertama, keserahan atau ketamakan, menghilangkan rasa malu sehingga mengambil hak-hak orang lain bukan lagi hal yang tabu. Karena, orang yang bersifat serakah atau tamak tidak pernah merasa cukup sehingga apa yang dimiliki selalu dianggap kurang. Kedua, kekerasan akan menyebabkan melenyapkan kasih sayang di dalam negeri. Artinya, rakyat kecil harus mendapat perlindungan demi tegaknya suatu negara, tetapi kalau pihak yang berkuasa berbuat sewenang-wenang (hanya unjuk kekuatan) berarti kasih sayangnya kepada masyarakat akan hilang yang sekaligus memperlemah kedaulatan rakyat. Ketiga, kecurangan akan memutuskan hubungan&lt;br /&gt;keluarga. Artinya, orang yang curang tidak pernah merasa puas atas hak-haknya sendiri. Ia selalu berpikir untuk memiliki hak-hak orang lain. Orang seperti itu, akan menemukan kesulitan dalam hidupnya karena tidak ada orang yang akan mempercayainya. Keempat, perbuatan tega terhadap sesama manusia, melenyapkan kebenaran di dalam negeri. Artinya, para pejabat negeri dituntut untuk berbuat adil kepada rakyatnya. Berbuat tidak adil berarti kebenaran dilecehkan dan bila kebenaran dilecehkan berarti kehancuran bagi negeri. Karena itu, agar negara selamat dan berhasil, para pemimpin haruslah berbekal kejujuran disertai dengan kepatutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Simpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal dalam kepustakaan Bugis masih sangat relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu, kearifan lokal sebagai jati diri bangsa perlu direvitalisasi, khususnya bagi generasi muda dalam percaturan global saat dan di masa datang. Dengan demikian, identitas sebagai bangsa baik secara fisik maupun non fisik akan tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrahman H. 2007. Pelestarian Kearifan Lokal Melalui Pewarisan Bahasa Bugis. Makalah disajikan dalam Kongres I Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan, Makassar, 22-25 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambo Enre, Fachruddin. 1992. Beberapa Nilai Sosial Budaya dalam Ungkapan dan Sastra Bugis. Pidato Pengukuhan Guru Besar. (dalam Jurnal PINISI, Vol. 1). FPBS IKIP Ujung Pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Effendi, Sofian. 2005. Membangun Budaya Birokrasi Untuk Good Governance. (Online).&lt;br /&gt;http://lib.ugm.ac.id/data/pubdata/sofiane/budayabirokrasi.pdf. Diakses tanggal 30 Juli 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim, Zainuddin. 2007. Reaktulisasi Peran Sastra Daerah dalam Pewarisan Nilai-Nilai Budaya. Makalah disajikan dalam Kongres I Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan, Makassar, 22-25 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayam, U. 1988. Memahami Roman Indonesia Modern sebagai Pencerminan dan Ekspresi Masyarakat dan Budaya Indonesia: Suatu Refleksi. Dalam Esten, Mursal (Ed.) 1988. Menjelang Teori Kritik Susastra Indonesia yang Relevan (hlm. 118-131). Bandung: Penerbit Angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mattulada. 1995. La Toa: Satu Lukisan Analistis terhadao Antropologi Politik Orang Bugis. Ujung Pandang: Sanuddin University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nashir, Haedar. 2003. Menggali Kearifan Menghalau Kerakusan (Online).&lt;br /&gt;(http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=116166&amp;amp;kat_id=49&amp;amp;kat_id1=&amp;amp;kat_id2= diakses tanggal 30 Juli 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelras, Christian. 1996. The Bugis. London: Bleckwell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahim, A. Rahman. 1985. Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis. Ujung Pandang: Lephas UNHAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said, Mashadi. 2003. Toddo Puli Temmalara: Jendela dengan Kaca yang Bening tentang Manusia Luwu. Makalah disajikan dalam Seminar Internasional dan Pestival Galigo, Masamba 10-14 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said, Mashadi. 2002. Peran Sastra dalam Pemahaman Antar-Budaya. Jurnal Sastra &amp;amp; Bahasa, No. 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said, Mashadi. 1998. Konsep Jati Diri Manusia Bugis dalam Lontarak: Sebuah Telaah Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Bugis. Disertasi Belum diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana IKIP Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said, Mashadi. 1998. Konsep Kepimpinan Bugis-Makassar. Majalah Kebudayaan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewang H. Ahmad. 2007. Pelestarian Kearifan Lokal Melalui Pewarisan Bahasa Bugis. Makalah disajikan dalam Kongres I Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan, Makassar, 22-25 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutarto, Ayu. 2007. Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan Daerah di Tengah Proses Homogenisasi Budaya. Makalah disajikan dalam Kongres I Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan, Makassar, 22-25 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacik, Jero. 2005. Kearifan Lokal Seharusnya Dapat Atasi Persoalan Bangsa. (Online).&lt;br /&gt;(http://www.kompas.com/gayahidup/news/0508/05/184117.htm. Diakses tanggal 30 Juli 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahid, Sugira. 2007. Pengungkapan dan Pemantapan Jati Diri dan Kearifan Lokal. Makalah disajikan dalam Kongres I Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan, Makassar, 22-25 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tang, H. Mahmud. 2007. Nilai-Nilai Luhur dalam Sastra Daerah yang Mendasari Keterjaminan Sosial Tradisional. Makalah disajikan dalam Kongres I Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan, Makassar, 22-25 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tang, Muh. Rapi. 2007. Reso sebagai Roh Kehidupan Manusia Bugis: Budaya dari Mental dan Fisik, Sebuah Refleksi dar Lontarak. Makalah disajikan dalam Kongres I Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan, Makassar, 22-25 Juli.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-9200332072454411318?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/9200332072454411318/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=9200332072454411318' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/9200332072454411318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/9200332072454411318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2007/09/kearifan-lokal-dalam-sastra-bugis.html' title='KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA BUGIS KLASIK'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115449184660547502</id><published>2007-07-17T12:02:00.000+08:00</published><updated>2007-12-12T17:23:24.840+08:00</updated><title type='text'>Kemampuan Menyesuaikan Diri Manusia Bugis</title><content type='html'>&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/1600/bugis2.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/200/bugis2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:verdana;" &gt; &lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Oleh Anhar Gonggong&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika pada tahun 1996 ”karya besar” Lombard yang diterjemahkan dengan judul  Nusa Jawa: Silang Budaya diterbitkan oleh Gramedia, pada tahun yang sama sarjana  ahli berkebangsaan Perancis yang lain, Christian Pelras, juga telah membuahkan  hasil yang tak kurang raksasanya, The Bugis, diterbitkan oleh Blackwell di  London.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karya Pelras itu, yang oleh Nirwan Ahmad Arzuka, salah seorang penyunting  terjemahan dan memberi pengantar pada terbitan terjemahan bahasa Indonesia,  disebut sebagai karya yang bagaikan ”intan”, kini diterbitkan dalam versi bahasa  Indonesia dan diterbitkan oleh Nalar yang didukung oleh Forum Jakarta-Paris.  Dengan penerbitan karya besar itu, tidak hanya lingkungan terbatas masyarakat  ilmu pengetahuan dan orang Bugis saja yang mendapat peluang untuk lebih memahami  salah satu suku bangsa yang memiliki dinamika untuk bertahan hidup, tetapi juga  kesempatan untuk lebih memahami orang, manusia Bugis itu terbuka kepada bangsa  Indonesia pada umumnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari segi perspektif situasi bangsa-negara Indonesia yang  majemuk-multikultur, karya Pelras yang diterjemahkan dengan Manusia Bugis itu  mempunyai arti yang tidak kecil, karena ternyata walau kita sudah membangun  keadaan dan menciptakan diri sebagai bangsa yang satu bersatu selama lebih  kurang 100 tahun dan telah menjadi bangsa-negara merdeka selama 60 tahun, masih  saja amat sering terjadi gejolak-gejolak meretakkan yang nyaris merobek  persatuan dan kehidupan bersama kita sebagai bangsa-negara. Untuk itu, buku ini  amat berguna untuk membuka cakrawala pemahaman diri sebagai bangsa-negara yang  memang harus selalu berusaha mengembangkan pemahaman diri sejalan dengan  dinamika internal dari bangsa-negara yang bersifat majemuk-multikultural  ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk menghasilkan buah karya yang ”bagaikan intan” ini, Pelras telah  menampakkan ketekunan-kegigihan dari seorang peneliti dan sarjana ahli yang  menguasai pelbagai alat-alat metodologis dari berbagai ilmu sosial dan  humaniora, mulai dari arkeologi, sastra-filologi, sejarah,  antropologi-etnografi, hingga sosiologi, sehingga tampak sifat jenis sejarah  total-komprehensif. Buah karya sejarah total-komprehensif itu benar-benar  merupakan sebuah penampakan dari tidak saja penguasaan metodologi yang tinggi,  tetapi juga merupakan ketekunan yang amat ”mengagumkan”. Bayangkan, ia melakukan  penelitian dan menulis buku ini dalam jarak waktu tidak kurang dari 40 tahun,  lebih dua pertiga dari usianya sekarang yang telah mencapai 72 tahun (lahir  1934).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Ciri manusia Bugis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meskipun orang Bugis tidak asing bagi berbagai pihak, termasuk pembaca novel  Joseph Conrad, menurut Pelras, orang Bugis sejak berabad-abad lamanya sebenarnya  merupakan suku bangsa yang paling tidak dikenal di Nusantara. Karena itu,  terjadilah ironi yang lahir dari sedikit pengetahuan yang beredar mengenai  mereka, sebagian besar di antaranya merupakan informasi yang keliru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;" class="fullpost"&gt;&lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salah satu informasi yang keliru itu ialah anggapan bahwa orang Bugis adalah  pelaut sejak zaman dulu kala. Anggapan keliru ini bersumber dari banyaknya  perahu Bugis yang pada abad ke-19 terlihat berlabuh di berbagai wilayah  Nusantara, dari Singapura sampai Papua, dan dari bagian selatan Filipina hingga  ke pantai barat laut Australia. Ada pula yang mengatakan orang Bugis pernah  berhasil menyeberangi Samudra Hindia sampai Madagaskar (halaman 3-4).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anggapan ini, menurut Pelras, adalah keliru karena ”dalam kenyataan  sebenarnya orang Bugis pada dasarnya adalah petani”, sedangkan aktivitas maritim  mereka baru benar-benar berkembang pada abad ke-18. Dalam hal perahu Phinisi  yang terkenal dan dianggap telah berusia ratusan tahun, bentuk dan model  akhirnya sebenarnya baru ditemukan antara pengujung abad ke-19 dan dekade  1930-an. Demikian pula halnya dengan predikat bajak laut yang diberikan kepada  orang Bugis, sama sekali keliru dan tidak berdasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Walau Pelras menyangkal ciri kepelautan manusia Bugis seperti di atas, ia  tetap mengakui adanya ciri-ciri khas yang melekat pada manusia Bugis. Salah satu  ciri terpenting manusia Bugis ialah ”mampu mendirikan kerajaan-kerajaan yang  sama sekali tidak mengandung pengaruh India”. Yang kedua ialah tanpa mendirikan  kota sebagai pusat aktivitas mereka (halaman 4).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di bidang kesusastraan, orang Bugis juga memiliki tradisinya sendiri, baik  sastra lisan maupun tulisan. Catatan yang ditunjukkan oleh Pelras untuk hasil  sastra Bugis itu ialah La Galigo. Karya sastra ini merupakan perpaduan antara  sastra lisan dan tulisan dan merupakan salah satu epos sastra terbesar di  dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selanjutnya sejak awal abad ke-17 setelah menganut agama Islam, orang Bugis  bersama dengan Aceh, Banjar, dan lain-lain dicap sebagai orang Nusantara yang  paling kuat identitas keislamannya. Malah, demikian Pelras, orang Bugis  menjadikan Islam sebagai bagian integral dan esensial dari adat istiadat dan  budaya mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meskipun demikian, pada saat yang sama, pelbagai peninggalan pra-Islam tetap  mereka pertahankan sampai akhir abad ke-20. Salah satu di antara peninggalan  pra-Islam yang paling menarik ialah bissu, yaitu sebuah kelompok yang terdiri  dari pendeta-pendeta wadam yang masih menjalankan ritual perdukunan serta  dianggap dapat berkomunikasi dengan dewa-dewa leluhur (halaman 4-5).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ciri-ciri orang Bugis yang berkaitan dengan karakternya dikenal dengan  karakter kerasnya dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Untuk mempertahankan  kehormatannya, bila perlu, mereka bersedia melakukan tindak kekerasan. Meski  demikian, di balik sikap keras itu, orang Bugis juga dikenal sebagai orang yang  ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi rasa  kesetiakawanannya (halaman 5).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam kehidupan masyarakat Bugis, interaksi sehari-hari pada umumnya  berdasarkan sistem patron-klien, yaitu sistem kelompok setia kawan antara  seorang pemimpin dan pengikutnya yang kait-mengait dan menyeluruh. Namun, ikatan  kelompok itu tidak melemahkan kepribadiannya. Orang Bugis memiliki sistem  hierarkis yang rumit dan kaku, tetapi pada sisi lain prestise dan hasrat  berkompetisi untuk mencapai kedudukan sosial amat tinggi, baik melalui jabatan  maupun kekayaan, tetap merupakan pendorong utama untuk menggerakkan roda  kehidupan sosial kemasyarakatan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di dalam melihat ciri-ciri orang Bugis seperti disebut di atas, yang terlihat  saling berlawanan itu, Pelras tidak melihatnya sebagai ciri yang negatif, bahkan  sebaliknya, ia menyimpulkannya dengan kata-kata ”mungkin ciri khas yang saling  berlawanan itulah yang membuat orang Bugis memiliki mobilitas yang sangat tinggi  serta memungkinkan mereka menjadi perantau”. Di seluruh Nusantara dapat dijumpai  orang Bugis yang sibuk dengan aktivitas pelayaran, perdagangan, pertanian,  pembukaan lahan perkebunan di hutan, atau pekerjaan apa saja yang mereka anggap  sesuai dengan kondisi ruang dan waktu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Berubah dan menyesuaikan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain sifatnya yang saling berlawanan, tetapi memiliki dinamika mobilitas  yang tinggi, manusia Bugis juga memiliki daya tahan hidup yang tinggi. Di  perantauan mereka melakukan ”pergumulan” hidup untuk mendapatkan keadaan yang  lebih baik. Kalau kita memerhatikan keadaan mereka di perantauan di pelbagai  daerah di dalam wilayah republik, tampak kemampuan mereka untuk meraih  posisi-posisi penting di berbagai bidang kehidupan, terutama di bidang politik  dan pemerintahan dan juga bidang ekonomi perdagangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karena itu, di berbagai daerah, tidak heran jika dijumpai ”perantau” Bugis  menguasai bidang perdagangan, dari mulai kelas bawah sampai kelas atas. Tidak  mustahil pasar-pasar tradisional yang ada di daerah itu, baik provinsi maupun  kabupaten/kota, didominasi oleh pedagang-pedagang Bugis. Sekadar contoh, ketika  Timor Leste masih sebagai Provinsi Timor Timur dalam wilayah Republik Indonesia,  jejeran warung ikan bakar lebih kurang 90 persen dimiliki orang-orang Bugis;  demikian pula halnya di Papua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa yang memungkinkan perantau Bugis mampu meraih keberhasilan yang terkadang  mengundang decak kagum? Kalau mengacu pada pendapat Pelras dalam bukunya itu,  maka: ”Tidak pelak lagi kemampuan mereka untuk berubah dan menyesuaikan diri  merupakan modal terbesar yang memungkinkan mereka dapat bertahan di mana-mana  selama berabad-abad”. Tetapi, di balik kemampuan itu, orang Bugis tetap  menampakkan sifat khasnya yang saling berlawanan, yaitu di tengah-tengah  kemampuannya berubah dan menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya, ”Orang  Bugis ternyata tetap mampu mempertahankan identitas ’kebugisan’ mereka” (halaman  5).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, kemampuan untuk bertahan seperti yang dikemukakan di atas mungkin juga  ditopang oleh sifat yang dipuji oleh orang Bugis sebagaimana yang tampak di  dalam tokoh-tokoh mitos dan fiksi mereka. Kajian atas perilaku para tokoh cerita  itu, menurut Pelras, dapat menghasilkan suatu potret mengenai mentalitas orang  Bugis yang didominasi oleh empat sifat. Dalam lontara’ disebutkan bahwa keempat  sifat tersebut adalah sulapa eppa (segi empat) yang harus dimiliki setiap  pemimpin yang baik. Karena itu, jika akan tampil sebagai pemimpin selain berasal  dari keturunan yang tepat, ia harus memiliki sifat-karakter: warani  (berani).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Prototipe utama dari to-warani dalam kesusastraan Bugis ialah Sawerigading.  Ia berkali-kali harus berperang untuk mendapatkan tujuannya, termasuk berperang  untuk mendapatkan calon istrinya, We Cudai (halaman 255). Yang kedua, to-acca  (orang pintar) yang dapat diartikan sebagai ahli, cerdik. Baik to-warani maupun  to-acca dapat berwujud seorang laki-laki maupun perempuan (halaman 258).  Keutamaan sifat yang ketiga ialah harta kekayaan, orang kaya (to-sugi).  Keterangan Pelras lebih lanjut tentang kaitan orang Bugis dengan kekayaan ini  ialah ”Orang Bugis agaknya tidak pernah melupakan kenangan akan zaman ’keemasan’  itu secara harfiah”. Hal tersebut terwujud dalam keinginan untuk memperkaya diri  yang tampaknya merupakan motivasi paling kuat dan menjadi pendorong utama usaha  perdagangan sebagian besar mereka. Bahkan, sangat banyak ulama menganggap usaha  memperkaya diri sebagai kewajiban sepanjang dilakukan secara jujur dan halal  (sappa dalle hallala) karena memungkinkan seseorang membantu sesama yang kurang  beruntung (halaman 259). Keutamaan keempat ialah panrita’, yaitu penguasaan atas  seluk-beluk agama, bijaksana, saleh, dan jujur. Walau istilah ini berasal dari  kata Sansekerta: pandita, pertapa, namun setelah agama Islam diterima, istilah  to-panrita’ dianggap sepadan dengan ulama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Mencari peluang ekonomi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Buku ini sebenarnya mencakup periode yang sangat jauh ke belakang sampai yang  paling mutakhir dan memperlihatkan pula bagaimana manusia Bugis bergumul di  dalam proses mengindonesia, setelah proklamasi yang menampakkan pergumulan para  pemimpin dan elitenya untuk menyelesaikan konflik yang dilatari oleh DI/TII dan  Permesta. Dilanjutkan dengan situasi terakhir yang menampakkan tampilnya dinasti  Kalla dalam pentas sebagai dinasti ekonomi serta memasuki arena politik dan  mencapai puncak sebagai wakil presiden.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah memberikan uraian yang sangat komprehensif dengan menampilkan  fakta-fakta tentang masyarakat Bugis secara sangat rinci bahkan sampai kepada  bentuk rumah, jenis-jenis pakaian, jenis makanan yang bersifat catatan  antropologis-etnografis dan sejarah, maka di dalam bagian kesimpulannya ia  antara lain mencatat bahwa: ”Sepanjang sejarah sosiokultural orang Bugis,  sejumlah ciri khas tertentu dengan sangat menakjubkan tetap melekat dalam diri  mereka sejak dahulu kala sampai sekarang. Salah satu di antaranya adalah  kecenderungan luar biasa mereka untuk selalu mencari peluang ekonomi yang lebih  baik di mana pun dan kapan pun itu. Selain itu, yang sangat berkaitan erat  dengan itu adalah daya adaptasi terhadap keadaan yang dihadapi sangat  mengagumkan” (halaman 397).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perlu dicatat, sebagai penutup, bahwa pengantar yang diberikan oleh rekan  Nirwan Ahmad Arsuka yang berjudul ”Lapis Waktu” sangat penting untuk memahami  posisi buku ini beserta isi yang dikandungnya. Pengantarnya itu telah memberikan  pemahaman filosofis dan historis terhadap buku yang disebutkannya sebagai  ”intan” itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anhar Gonggong&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sejarawan; Pengajar Agama dan Nasionalisme di  Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas  Indonesia&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber : Kompas, 18 Maret 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115449184660547502?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115449184660547502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115449184660547502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115449184660547502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115449184660547502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/08/kemampuan-menyesuaikan-diri-manusia.html' title='Kemampuan Menyesuaikan Diri Manusia Bugis'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-4156174030894666912</id><published>2007-05-29T17:52:00.000+08:00</published><updated>2007-05-29T18:00:55.845+08:00</updated><title type='text'>Pengaruh Ekonomi Bugis terhadap Papua</title><content type='html'>Resensi :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amber dan Komin: Studi Perubahan Ekonomi di Papua, Akhmad, Bigraf Publishing, 2005 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal buku ini 157 halaman. Yang disoroti, peranan pedagang Bugis dalam proses transformasi ekonomi di Papua, khususnya mengenai perkembangan ekonomi pasar. Judulnya, Amber dan Komin: Studi Perubahan Ekonomi di Papua, yang ditulis oleh Akhmad, antropolog asal suku Bugis di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menceritakan jaringan sosial maupun pranata budaya yang dianut oleh orang Bugis di Papua. Termasuk, persaingan yang timpang sekali antara pedagang pendatang dan pribumi di pasar-pasar seputar Kota Jayapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konflik, dominasi ekonomi, dan etnisitas menjadi perdebatan di Papua saat ini. Pergulatan identitas kesukuan memiliki dampak negatif sebab bisa memicu konflik. Kondisi itu memunculkan persaingan dalam memperoleh sumber daya ekonomi. Namun, nilai positifnya tak sedikit. Dominasi ekonomi suku Bugis dijadikan referensi bagi orang Papua dalam melakukan strategi baru untuk mengembangkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku dengan enam bab itu memuat hasil penelitian sebagai rintisan awal untuk memahami transformasi ekonomi di Papua atas keberadaan pendatang. Situasi sosial di Papua saat ini ditandai dengan munculnya wacana yang merujuk pada perbedaan etnis. Fenomena itu mempertegas batas orang Papua dengan non-Papua, yaitu antara suku Bugis dan warga Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di papua, gejala ini bukan gejala sosial budaya baru karena sudah ada sejak pascakolonial dengan munculnya kata 'Amber' bagi pendatang berambut lurus dan 'Komin' bagi orang Papua yang berambut keriting. Gejala itu mendominasi perekonomian di Papua. Tapi, pertemuan kelompok Amber dan Komin membawa perubahan ekonomi nyata di Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga faktor melatarbelakangi perubahan itu. Pertama, penetrasi pasar dalam kehidupan orang Papua dari kehadiran suku Bugis. Kedua, pertemuan mode produksi domestik dengan yang modern. Ketiga, tidak semua hasil produksi subsistem habis dikonsumsi, jadi ada sisa yang dijual di pasar. Meskipun ada integrasi ekonomi dalam kehidupan orang Papua, pedagang setempat belum mampu bersaing dengan pedagang Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis menganalisis penyebab keberhasilan kelompok Bugis dan ketertinggalan orang Papua dalam setting ekonomi pasar. Suku Bugis sukses karena mereka melakukan hubungan personal dalam ekonomi pasar. Sedangkan ketertinggalan orang Papua, mereka mengabaikan prinsip personal seperti proses tawar-menawar, utang-piutang, dan kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ketertinggalan orang Papua juga akibat faktor struktural yang tak memungkinkan mereka bersaing dengan pedagang pendatang. Saat peralihan kekuasaan dari kolonial Belanda ke Indonesia pada 1963, orang Papua bukan kelompok pedagang. Namun, posisi perdagangan di tangan orang China (Amber). Landasan ekonomi orang Papua bersifat barter untuk membangun solidaritas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, keterlibatan orang Papua dalam ekonomi pasar adalah ketika mereka bertemu dengan suku Bugis. Pertemuan itu melahirkan reproduksi perdagangan. Orang Papua, yang asalnya pemburu, peramu, dan peladang, menjadi kecil di pasar. Dengan cara ini, mereka merespons berbagai perubahan di sekeliling mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini memaksa warga Papua beradaptasi dengan perubahan baru. Keadaan itu melahirkan konflik orang Papua dengan perantau asal Bugis. Kasus mencolok dari konflik itu berupa pembakaran pasar-pasar yang didominasi suku Bugis, di antaranya Pasar Abepura pada 1996, Pasar Entrop (1999 dan 2000), dan Pasar Sentani (2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nerma Ginting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sumber: &lt;a href="http://www.media-indonesia.com/"&gt;media indonesia&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-4156174030894666912?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/4156174030894666912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=4156174030894666912' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/4156174030894666912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/4156174030894666912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2007/05/pengaruh-ekonomi-bugis-terhadap-papua.html' title='Pengaruh Ekonomi Bugis terhadap Papua'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-6723883381057271723</id><published>2007-04-17T09:19:00.000+08:00</published><updated>2007-04-17T09:27:27.630+08:00</updated><title type='text'>Manusia Bugis, Rantau &amp; Budayanya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/200/120178.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 67px; height: 93px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/200/120178.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RESENSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Judul : Manusia Bugis&lt;br /&gt;Penulis : Christian Pelras&lt;br /&gt;Penerbit : Nalar, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : Februari 2006&lt;br /&gt;Hal. : xxxxiv + 450 hlm.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Oleh : Muhammad Ridwan Alimuddin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana nenek-moyang orang Sulawesi Selatan berasal? … jika anggapan Mills benar bahwa lokasi pertama yang ditempati para pendatang adalah sekitar muara Sungai Saddang, maka kemungkinan besar asalnya dari Kalimantan Timur, yakni sekitar Kutei-Samarinda, atau dari bagian tenggara Kalimantan, yakni sekitar Pegatan-Pulau Laut (belakangan, pada kedua wilayah itu terdapat perkampungan bugis. Mungkin tanpa disadari, mereka sebenarnya telah kembali ke tempat asal nenek-moyang mereka) …”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian Christian Pelras, menulis salah satu tesis tentang asal nenek moyang orang Bugis di Sulawesi Selatan, di dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manusia Bugis&lt;/span&gt; (Nalar, 2006 hal. 45, terjemahan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Bugis&lt;/span&gt;, 1996). Tesis ini sudah lama dikemukakan oleh seorang ahli bahasa, Roger F. Mills, yaitu pada tahun 1975, namun bagi masyarakat umum di Indonesia pendapat ini mungkin masih baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain baru, juga menarik sebab pemahaman yang ada adalah orang Bugis (termasuk suku-suku lain di Sulawesi Selatan dan Barat) yang ada di Kalimantan Timur dewasa ini berasal dari pulau Sulawesi dari proses gelombang migrasi yang hampir terjadi sepanjang tahun, meski itu hanya per individu. Dengan kata lain, “Mereka kembali ke asal”. Betulkah demikian? Ada ilmuwan yang setuju, ada yang tidak. Namun dari penelitian kesamaan bahasa dan kedekatan geografis, itu sangat dimungkinkan untuk terjadi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terlepas orang Bugis “kembali” atau tidak, Kalimantan Timur merupakan salah satu kawasan penting di dalam sejarah migrasi orang Bugis, sejak ratusan tahun lampau sampai detik tulisan ini dibuat. Untuk itu, pada gilirannya, dunia sosial, politik, ekonomi, dan budaya di Kalimantan Timur tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan Bugis atau Sulawesi Selatan secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia Bugis di Kalimantan Timur tidaklah satu “jenis” saja. Pertama yang perlu diketahui, istilah “Bugis” sering diartikan sebagai “orang dari Sulawesi Selatan”, meski orang itu beretnik Makassar, Mandar, Bajau dan Toraja. Kedua, ada orang Bugis yang memang melakukan migrasi (lahir di tanah Sulawesi untuk kemudian pindah) dan ada yang orang hanya Bugis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;biologis &lt;/span&gt;saja, yaitu kedua (atau satu) orangtuanya berasal dari Sulawesi tetapi dia lahir di Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku setebal 500 halaman ini merupakan buku terbaik tentang kebudayaan Suku Bugis. Artinya, dia bisa menjadi rujukan untuk dua hal di atas: perbedaan dan kesamaan Bugis dengan suku lain dan acuan generasi Bugis yang lahir di luar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tana Ugi&lt;/span&gt;, misalnya di Kalimantan Timur ini. Manusia Bugis dan budayanya amatlah penting diketahui dari sumber yang obyektif sebab seringkali ada yang belum kita pahami hingga menimbulkan persepsi yang salah atau berlebihan terhadap Bugis dan manusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat kunci yang menjadi benang merah antara: Pulau Sulawesi–manusia Bugis–migrasi–tujuan migrasi adalah alasan untuk melakukan perpindahan dari tanah kelahirannya ke daerah lain, baik di pulau yang sama (Sulawesi) maupun di seberang lautan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“…berhubungan dengan upaya mencari pemecahan konflik pribadi, menghindari penghinaan, kondisi yang tidak aman, atau keinginan untuk melepaskan diri baik dari kondisi sosial yang tidak memuaskan, maupun hal-hal yang tidak diinginkan akibat tindakan kekerasan yang dilakukan ditempat asal.”&lt;/span&gt; (hal. 370).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari alasan-alasan di atas, Pelras mengambil kasus orang Bugis di Kalimantan Timur sebagai salah satu contoh, yaitu perpindahan seorang bangsawan Wajo’ bernama La Ma’dukelleng bersama 3.000 pengikutnya ke Pasir. Dan oleh Sultan Pasir, perantau tersebut diberi tanah yang sekarang ini dikenal dengan nama Samarinda, kawasan yang dibesarkan oleh orang Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan di atas berlanjut: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Hanya saja, alasan seperti itu saja tampaknya tidak akan cukup memadai untuk dijadikan landasan untuk memahami mengapa begitu banyak tersebar pemukiman orang Bugis di seluruh Nusantara sejak akhir abad ke-17. Juga tidak dapat menjelaskan kenyataan bahwa—terlepas dari keadaan yang terus berubah—aktivitas perantauan justru merupakan ciri khas “permanen” orang Bugis hingga kini”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sebenarnya budaya apa sih yang identik dengan manusia Bugis? Pertanyaan ini mudah dijawab untuk orang Bugis yang memang lahir dan besar di Sulawesi Selatan. Lalu bagaimana yang mengklaim dirinya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;to Bugis &lt;/span&gt;tetapi dia lahir di daerah lain, katakanlah Kalimantan Timur? Ya, dia berhak bersikap demikian jika kedua orangtuanya Bugis totok, hitung-hitung dia bisa berbahasa Bugis. Tapi ini kan hanya salah satu unsur budaya Bugis. Bagaimana dengan unsur-unsur budaya yang lain? Apakah dia juga memiliki sikap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;siriq&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesseq&lt;/span&gt;? Apakah ketika dia lahir dan menikah oleh orangtuanya menggunakan budaya-budaya Bugis? Rumahnya berarsitektur rumah Bugis? Apakah dia menjadi bagian dari pranata sosial yang berkembang di tanah Bugis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang perlu dijawab dan dipahami generasi Bugis yang lahir di perantauan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manusia Bugis&lt;/span&gt; dapat dijadikan sebagai bahan perenungan untuk dapat memposisikan diri sebagai generasi yang tidak kehilangan akar budaya meski dia lahir di luar tanah-budaya moyangnya; meski ciri Bugis hanya karena dia keturunan sepasan laki-laki dan perempuan yang berasal dari Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja, orang lain yang mempunyai latar belakang suku yang berbeda tetapi bergaul dengan manusia Bugis di kesehariannya, misalnya sebagai isteri/suami, teman sekantor, rekan bisnis, dan sahabat juga penting untuk memahami budaya-budaya Bugis. Bagaimanapun, Banjar, Dayak, Jawa, dan suku lain di Kalimantan Timur mempunyai banyak perbedaan dengan budaya Bugis yang sedikit-banyak seringkali menimbulkan pergesakan yang berujung pada konflik. Pemahaman atas budaya Bugis dan sebaliknya (orang Bugis juga harus memahami budaya pihak lain) adalah salah satu cara untuk menjalin hubungan yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata orang luar, orang Bugis dikenal sebagai orang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu, demi mempertahankan kehormatan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;siriq&lt;/span&gt;), mereka bersedia melakukan tindak kekerasan. Namun demikian, di balik sifat keras itu, orang Bugis juga dikenal sebagai orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi kesetiakawanannya. Orang Bugis memiliki berbagai ciri khas yang sangat menarik. Mereka adalah contoh yang jarang terdapat di wilayah Nusantara. Mereka mampu mendirikan kerajaan-kerajaan yang sama sekali tidak mengandung pengaruh India, dan tanpa mendirikan kota sebagai pusat aktivitas mereka. Orang Bugis juga memiliki kesusastraan, baik lisan maupun tulisan yang cukup dikagumi. Dan setelah menganut Islam, bersama Aceh, Minangkabau, Melayu, Sunda, Madura, Moro, Banjar, Makassar, dan Mandar, orang Bugis identik sebagai orang di Nusantara yang kuat identitas keislamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-6723883381057271723?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/6723883381057271723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=6723883381057271723' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/6723883381057271723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/6723883381057271723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2007/04/manusia-bugis-rantau-budayanya.html' title='Manusia Bugis, Rantau &amp; Budayanya'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-3788272924433765109</id><published>2007-04-10T09:58:00.000+08:00</published><updated>2007-04-10T10:12:14.405+08:00</updated><title type='text'>Perahu Pinisi dari Tana Beru</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;oleh : Suparman W.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/pinisi2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/pinisi2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;SEMULA, mungkin tidak percaya jika sebuah perahu kayu sederhana, mampu mengarungi lautan Samudra Hindia yang dikenal memiliki ombak besar. Adalah nelayan suku Bugis Makassar, yang dikenal sejak puluhan tahun silam sebagai pelaut ulung, mengarungi lautan luas Samudra Hindia menggunakan perahu kayu (perahu layar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku asal Sulawesi Selatan ini memiliki catatan tersendiri dalam sejarah bahari, saat mengarungi ribuan kilometer lautan luas dari Indonesia hingga Madagaskar di Afrika Selatan, abad silam. Mereka memiliki keberanian dan kemampuan mengarungi lautan dengan perahu layar, antar pulau di Indonesia maupun samudra yang memiliki entakan ombak besar untuk menjaring ikan maupun berdagang hasil bumi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pelayarannya dari Indonesia ke Madagaskar menggunakan perahu layar yang sejauh ini tetap populer, yakni perahu kayu jenis pinisi. Perahu ini mencatatkan ketangguhannya dalam menembus dan mengarungi gelombang besar lautan Samudra Hindia yang jaraknya ribuan kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Bugis Makassar yang merantau ke sana dengan menggunakan perahu jenis pinisi saat itu, kini keturunannya telah menjadi “mukimin” dan menjadi bagian komunitas warga Madagaskar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperoleh catatan, selain perahu jenis pinisi yang dikenal tangguh, terdapat jenis perahu lain yang biasa dipergunakan nelayan Bugis. Perahu Pinisi sendiri, merupakan jenis perahu dagang yang memiliki ukuran paling besar (20 sampai 100 ton), dibanding jenis-jenis perahu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis perahu ini mampu mengarungi dan menjelajah lautan besar. Memiliki dua tiang agung (sokoguru-red) dilengkapi masing-masing layar besar yang menjadi layar utama, ditambah layar kecil pada masing-masing puncak tiang agung. Sementara kemudinya, terpasang pada bagian belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad silam, perahu jenis pinisi juga dipergunakan untuk mengangkut bala tentara. Namun tidak dipergunakan untuk perang laut. Pinisi sebagai perahu niaga, dipimpin oleh seorang ana’koda (nakhoda). Kemudian juru mudi, juru batu serta awak perahu yang disebut sawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis perahu lainnya, adalah jenis Lambo Palari. Jenis ini lebih kecil dari pinisi, bobotnya (10 - 50 ton). Perbedaan lain dengan pinisi, Lambo hanya memiliki satu tiang agung dan layar utama, ditambah layar berlapis-lapis di bagian depan dan di puncak tiang agung. Jenis serupa Lambo Palari adalah Lambo Calabai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian jenis perahu lainnya, yang ukurannya lebih kecil adalah jenis Jarangka, Soppe dan Pajala. Jenis-jenis perahu yang lebih kecil ini mempergunakan layar segi empat yang mampu bergerak lincah mengarungi lautan. Dipergunakan untuk mengangkut barang dagangan antar pulau sekitar Sulawesi Selatan, selain dipergunakan nelayan untuk menangkap ikan jauh ke tengah lautan. Awak perahu Pajala berbeda dengan perahu dagang. Perahu nelayan ini, dipimpin seorang punjala (pemimpin dan pengemudi perahu -red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perajin Tana Beru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber catatan yang diperoleh “PR” mengenai pembuatan perahu pinisi menyebutkan, dewasa ini walau para pembuat kapal kayu motor sudah tersebar di pelosok nusantara, adalah perajin perahu di Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan yang tetap mempertahankan tradisi dalam pembuatan pinisi. Disinilah salah satu lokasi kemegahan pinisi dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tana Beru banyak memproduksi kapal pinisi. Kapal yang sampai sekarang masih banyak dipakai untuk melayari laut nusantara. Para pembuat perahu tradisional disini, secara turun-temurun mewarisi tradisi kelautan nenek moyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah upacara ritual biasa dilakukan untuk memulai sebuah proses pembuatan perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perajin, sebelum memulai pekerjaannya, terlebih dahulu harus mencari hari atau waktu terbaik pencarian kayu sebagai bahan baku. Hari baik untuk mencari bahan baku, adalah pada hari kelima dan ketujuh pada bulan berjalan. Angka lima, diartikan rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka tujuh berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik, kepala tukang, baru kemudian memimpin pencarian bahan baku (kayu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon yang akan ditebang juga tak boleh sembarangan. Sebelumnya harus digelar upacara khusus, bertujuan untuk mengusir roh penghuni kayu tersebut. Untuk kebutuhan mengusir roh, seekor ayam dijadikan korban untuk dipersembahkan kepada roh. Pemotongan yang dikerjakan menggunakan gergaji, harus dilakukan sekaligus tanpa berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila balok bagian depan (yang tidak dipergunakan) sudah putus, potongan itu harus dibuang ke laut. Potongan itu menjadi benda penolak bala yang melambangkan suami yang siap melaut untuk mencari nafkah. Sedang potongan balok bagian belakang disimpan di rumah, sebagai lambang istri pelaut yang setia menunggu suami pulang dan membawa rezeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah seluruh papan dasar untuk perahu pinisi adalah 126 lembar. Setelah papan teras tersusun, diteruskan dengan pemasangan buritan tempat meletakkan kemudi bagian bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila badan perahu sudah selesai dikerjakan, dilanjutkan dengan pekerjaan memasukkan majun pada sela papan. Agar sambungan antarpapan merekat kuat, dipakai bahan perekat dari sejenis kulit pohon barruk. Kemudian dilakukan pendempulan. Bahan dempul terbuat dari campuran kapur dan minyak kelapa. Campuran ini diaduk dan dibiarkan selama 12 jam. Untuk kapal berbobot 100 ton, diperlukan 20 kg dempul badan kapal. Setelah seluruh proses pembuatan selesai, proses terakhir kelahiran pinisi adalah peluncurannya. Saat peluncuran ini, digelar prosesi khusus. Misalnya, untuk perahu dengan bobot kurang dan 100 ton, prosesi khusus ditandai dengan memotong seekor kambing. Sedangkan untuk kapal 100 ton ke atas, seekor sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasangan tiang dan layar, baru dilakukan setelah pinisi sudah mengapung di laut. Dan kapal yang diluncurkan ini sudah siap dengan awaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluncuran kapal dilaksanakan pada waktu air pasang saat matahari sedang naik. Selain beberapa jenis perahu, juga terdapat alat (jaring) penangkap ikan yang sampai sekarang masih tetap dipergunakan nelayan Bugis. Perahu jenis pinisi, menjadi lambang keberanian anak bangsa dalam mengarungi lautan. Dalam abad 20 ini, pinisi kembali membuktikan ketangguhan melayari samudra, di antaranya mengikuti expo Vancouver di Kanada. Selain ekspedisi Amana Gappa, mengarungi Samudra Hindia menuju Madagaskar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/052006/19/1001.htm"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-3788272924433765109?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/3788272924433765109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=3788272924433765109' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/3788272924433765109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/3788272924433765109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2007/04/perahu-pinisi-dari-tana-beru.html' title='Perahu Pinisi dari Tana Beru'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-4821866011274766782</id><published>2007-03-09T08:18:00.000+08:00</published><updated>2007-03-12T09:19:07.910+08:00</updated><title type='text'>masih ada passompe' pabbalu lipa'</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1FlePcvv4CQ/RfCoiAYnMoI/AAAAAAAAAAM/7RuzFpFlAcM/s1600-h/pabbalu+lipa2.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5039713285199835778" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_1FlePcvv4CQ/RfCoiAYnMoI/AAAAAAAAAAM/7RuzFpFlAcM/s320/pabbalu+lipa2.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sewaktu masih kanak-kanak di Pannampu, rumah saya sering menjadi tempat persinggahan (transit) para pabbalu lipa’ ini, karena kebetulan Makassar merupakan juga pelabuhan penyebeerangan ke pulau-pulau lainnya di seluruh Indonesia. Tujuan utama mereka Kalimantan, Papua, atau Sumatera. Setiap mereka datang, aroma khas lipa’ sabbe (sarung sutera) dan lipa’ cello (sarung berbenang non sutra) selalu menjadi kenangan tersendiri, selain tentu saja kelakar para pabbalu lipa’ yang terkenal pandai bercerita sambil berguyon. Lipa’-lipa’ tak ber merk (no brand) ini dibungkus dalam kain sarung besar, pernah sewaktu kanak-kanak itu saya mencoba mengangkat gulungan yang mungkin mencapai 400 sarung, namun tak pernah berhasil.&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa malam yang lalu saya kedatangan tamu, La Nuhong, paman saya yang tinggal di Ujung Baru, Sempangnge, Wajo, bersama 3 orang rekan nya dari Sempangng. Mereka adalah pabbalu lipa’ yang sedang berjualan di sekitar Balikpapan. Awalnya saya kaget mereka datang, dengan mengendarai 2 sepeda motor ber-plat DD (plat nomor Sulawesi Selatan), mengunjungi rumah saya di Balikpapan. Kekagetan saya dikarenakan kenyataan bahwa masih ada pabablu lipa’ di zaman serba praktis ini. Sepengetahuan saya, Sarung sutra asal Sengkang sudah banyak dijual di mall-mall di seluruh Indonesia, bahkan saya pernah menemukan seorang Batak berjualan Sarung Sutra asal Sengkang di atas jembatan penyeberangan UKI, Jakarta Timur. Jadi kita hanya perlu ke pasar/mall untuk mencari sarung sengkang, tak perlu menunggu kiriman saudara di kampung, apalagi menunggu pabbalu lipa’ datang berkunjung ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div&gt;Ngobrol dengan pabbalu lipa’ ini menjadi hiburan tersendiri buat saya yang jauh dari kampung, selain mereka pandai berkelakar, juga banyak informasi unik yang diceritakan mengenai negeri-negeri yang mereka pernah jelajahi untuk berjualan sarung ini. Untuk setiap kali keluar ’mabbalu lipa’, mereka bisa membawa 400 lembar sarung dengan nilai sekitar Rp 10 juta. Untuk menghabiskan lipa-lipa’ ini, rata-rata mereka harus bepergian selama 3-5 bulan. Saya sendiri tak bisa membayangkan betapa beratnya sarung-sarung itu mereka angkut ke tempat-tempat jauh. Sarung-sarung ini mereka peroleh dari seorang yang mereka panggil ”Boss”, mungkin sama artinya dengan Juragan atau Majikan. Sang Boss inilah yang memodali dengan lipa’lipa’ dan membiayai perjalanan dan akomodasi para pabbalu lipa’. Karena alasan keselamatan, mereka selalu bepergian mabbalu lipa’ dalam satu rombongan berjumlah 5-10 orang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dengan tetap dalam satu rombongan, mereka bisa saling membantu sekiranya ada diantara pabbalu lipa’ ini yang mengalami kesulitan. Namun demikian, mereka juga tetap berprinsip untuk tidak melakukan kesalahan dan perbuatan yang merugikan masyarakat di tempat mereka mabbalu lipa’. Di zaman sekarang, mereka juga difasilitasi dengan sepeda motor yang juga dibawa dari kampung, berbeda dengan zaman sebelum tahun 90-an dimana mereka menjual sarung hanya dengan berjalan kaki, atau menumpang bis umum. Namun dengan begitu, para pabbalu lipa’ ini tetap harus melunasi biaya serta modal sarung yang mereka terima dari Boss setelah mereka pulang ke kampung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hampir setiap jengkal tanah di Indonesia ini pernah disinggahi oleh pabbalu lipa’ ini. Namun tempat favorit mereka adalah daerah yang memiliki komunitas bugis seperti Riau, Jambi, Papua dan Kalimantan Timur.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Malam itu mereka bercerita tentang tempat bernama Kuala, 70 km dari Balikpapan, yang baru saja mereka singgahi seminggu untuk berjualan sarung. Umumnya mengeluh bahwa sarung yang mereka jual kalah bersaing dengan sarung ’cicilan’ yang didagangkan oleh orang lokal. Cara pembayaran dengan beli kontan membuat sarung mereka tak begitu diminati oleh pembeli, walaupun secara kualitas, harga dan originalitas, sarung mereka cukup bagus. Selembar sarung dihargai Rp. 40.000 – 70,000, dengan margin keuntungan bisa 50-100%. Rata-rata mereka bisa berhasil menjual 2-5 lembar sarung setiap harinya. Yang membeli sarung ini umumnya adalah orang-orang bugis juga yang masih percaya pada originalitas dan kualitas sarung sengkang ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kisah sedih juga mereka sempat ceritakan berkaitan dengan rekan mereka yang tewas dibantai penduduk lokal di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dalam perjalanan pulang kembali ke Sengkang, rekan mereka itu bertabrakan dengan seorang pemuda lokal yang sedang mabuk. Malang bagi sang pabbalu lipa’, rupanya kerumunan penduduk lokal yang dirasuki amarah kemudian menghakimi nya sampai meninggal, kepala bagian belakangnya pecah karena dihantam balok besar. Akhirnya rekan2 mereka sesama pabbalu lipa’ mengambil jenazahnya dan dibawa pulang ke Sempangnge. Saya teringat akan paman saya juga, yang mengalami nasib sama, di bunuh di daerah Barru ketika berjualan sarung. Resiko lain yang kadang menimpa mereka adalah dirampok atau ditipu oleh penduduk setempat. Kadang penduduk setempat membeli sarung-sarung mereka dengan cara mencicil/utang, namun sampai saat para pabbalu lipa’ ini hendak pulang ke kampung, penduduk lokal itu menghilang dan tidak membayar sisa utang nya. Mungkin itulah sebabnya para pabbalu lipa’ lebih mengutamakan pembayaran langsung daripada mencicil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Resiko besaR yang mereka hadapi selama mabbalu lipa’ menjadi tak ada artinya ketika harus berhadapan dengan tuntutan hidup untuk menafkahi keluarga. Umumnya, disamping berprofesi sebagai pabbalu lipa’, mereka juga adalah petani dikampungnya. Saat menunggu musim panen atau bercocok tanam, mereka keluar mabbalu lipa’. Sawah dan ladang diserahkan pengelolaannya kepada istri atau keluarga dekat, sedang para lelaki pemberani ini mencari peruntungan lain dengan mabbalu lipa’. Tapi saya tak tahu, sampai kapan para pabbalu lipa’ ini eksis di bumi nusantara. Penjualan langsung di pasar dan mall sedikit demi sedikit memperkecil peran mereka di masa depan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kini, pabalu lipa’ rupanya tidak lagi banyak memasarkan sarung khas dari sengkang itu, mereka lebih menyukai menjual sarung non tenunan buatan pabrik-pabrik tekstil di Jawa. ketika saya iseng-iseng membongkar isi tas berisi sarung-sarung itu, saya agak kecewa karena sarung yang dijajakan rupanya tidak satupun sarung tenun asli Sengkang. Mungkin mempertimbangkan faktor praktis dan keuntungan, mereka tak lagi menjajakan sarung tenun asli sengkang. Sarung buatan pabrik tekstil di Jawa ini umumnya tidak luntur dan awet, serta harga nya murah. Dibandingkan dengan sarung tenun asli sengkang, yang sering luntur, dan mahal harganya, tentunya merupakan komoditas yang agak sulit mendapat tempat di hati para konsumen. Saya membayangkan, kalau kemudian pabbalu lipa’ ini sudah mulai mengubah komoditas dagangnya dengan buatan pabrik tekstil Jawa, suatu saat mereka akan cepat tersingkir, juga lipa sabbe khas sengkang itu…&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-4821866011274766782?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/4821866011274766782/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=4821866011274766782' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/4821866011274766782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/4821866011274766782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2007/03/masih-ada-passompe-pabbalu-lipa.html' title='masih ada passompe&apos; pabbalu lipa&apos;'/><author><name>noertika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17507891906041214518</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://static.flickr.com/44/139582522_2fe2b0dbbc_m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1FlePcvv4CQ/RfCoiAYnMoI/AAAAAAAAAAM/7RuzFpFlAcM/s72-c/pabbalu+lipa2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-116832748378879221</id><published>2007-01-09T14:47:00.000+08:00</published><updated>2007-01-09T15:24:43.926+08:00</updated><title type='text'>Orang Bugis di Pulau Serangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/3799/2825/1600/395757/060107bpotret.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/3799/2825/200/203195/060107bpotret.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ulau Penyu atau Pulau Serangan di sebelah selatan Pulau Bali bukan hanya hamparan pasir putih dan panorama bahari. Namun sejarah tentang kerukunan antara warga berbeda suku. Tepatnya kekerabatan antara Bugis muslim dan warga setempat yang mayoritas Hindu. Mereka hidup rukun di satu perkampungan yaitu Kampung Bugis. Usman dan Ali, contoh sosok warga Kampung Bali yang lahir dari darah Sulawesi dan Bali. Ayah mereka Alkam berasal dari Sopeng, Sulawesi Selatan dan ibunya, Made Rentik asli dari Pulau Serangan. Setelah menikah, Made Rentik memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usman dan Ali merupakan contoh hasil perkawinan campuran antara suku Bugis dan suku Bali. Tetapi, karena sejarahnya kampung itu tetap disebut Kampung Bugis. Diperkirakan orang Bugis mendarat di Pulau Serangan pada abad 17 atau setelah Belanda menguasai Kerajaan Gowa. Rombongan yang dipimpin Syekh Haji Mukmin meninggalkan Gowa karena tidak sepaham dengan peraturan Pemerintah Belanda. Apalagi ketika itu Belanda sangat mengendalikan kehidupan maritim setempat. "Jadi ada dua saudara. Satu pro-Belanda satu lagi anti-Belanda. Dia [anti-Belanda] terdampar di ujung timur Pulau Serangan," ungkap M. Mansyur, sesepuh Kampung Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tiba di Pulau Serangan orang-orang Bugis mulai membangun perkampungan. Kedatangan mereka didengar oleh Raja Badung yang menguasai Pulau Serangan. Kelompok Syekh Haji Mukmin diundang ke kerajaan dan dimintai keterangan maksud datang ke Pulau Serangan. Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan XI membenarkan, masyarakat Pulau Serangan punya ikatan sejarah dan darah dengan orang-orang Bugis. "Leluhur kami ada menikah dengan seorang putri raja di Jawa. Ini bukan soal Bugis saja. Maduranya ada, masih campur mereka. Tapi apapun masa lalunya, kita ada hubungan erat dengan Bugis," kata Ida Cokorda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Cokorda menunjukkan lokasi di luar Pulau Serangan, namun karena pada dasarnya mereka merupakan suku yang dekat dengan laut. Mereka memohon untuk pindah kembali ke Pulau Serangan. Permohonan mereka dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usman dan Ali juga merupakan contoh orang-orang yang tetap menekuni dunia nelayan. Di luar Usman dan Ali atau sekitar 70 kepala keluarga di Kampung Bugis, lebih memilih pekerjaan berbeda. Industri pariwisata dan pesatnya pembangunan perlahan-lahan mengubah pola hidup warga setempat. Kalaupun mereka berada di laut, lebih karena sebagai penyedia jasa wisata bahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan Usman dan Ali meneruskan bakat nenek moyang juga diperkuat kepiawaian menyelam di laut. Mereka menyelam dengan peralatan sederhana sambil memanah ikan. Hampir segala jenis ikan pernah ditangkap termasuk ikan hias. Ikan tersebut dijual atau mereka makan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roda kehidupan Kampung Bugis yang sebenarnya lebih terlihat kala suara azan magrib terdengar. Setelah kumandang azan, seluruh warga akan datang ke Masjid Assyuhada yang merupakan satu-satunya masjid di Kampung Bugis. Usai menunaikan salat magrib, anak-anak berkumpul untuk belajar mengaji. Rutinitas ini persis dilakukan nenek moyang mereka di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan warga Kampung Bugis terhadap Islam, sejarah nenek moyang, adat istiadat Suku Bugis terlihat dari sebuah alquran tua. Mereka memelihara alquran tua itu karena konon dibawa Syekh Haji Mukmin. Ayat-ayat suci yang ditulis dalam lembaran kertas masih terbaca jelas. Kitab itu dibungkus dengan kain tebal berwarna hijau agar tidak rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alquran dalam berbagai kesempatan dibawa keliling kampung atau warga setempat menyebut acara ini dengan kirab. Mereka berkeliling sambil membaca salawat nabi. Kitab alquran tua, lantunan shalawat nabi, dan makam Syekh Haji Mukmin serta pengikutnya itu menjadi catatan penting keberadaan Suku Bugis di Pulau Serangan. Catatan ini terus dipelihara meski proses perkawinan antarsuku banyak terjadi. "Syekh Haji Mukmin Membawa bekal satu kitab alquran. Dia berpesan kalau ada musibah atau bahaya apapun, kamu harus mengelilingi kampung sambil membawa alquran ini," tutur M. Mansyur. Sesepuh Kampung Bugis ini menambahkan, tidak seorang pun tahu termasuk Syekh Haji Mukmin, siapa penulis alquran tersebut. "Ini tulisan tangan," kata Mansyur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar catatan sejarah dan budaya suku Bugis di Pulau Serangan, selama 14 tahun terakhir, warga Kampung Bugis dan warga lain dihadapkan pada persoalan baru, yaitu reklamasi pulau. Karena reklamasi, lahan yang tadinya hanya 112 hektare disulap menjadi 481 hektare. Keadaan ini membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat terutama menyangkut kondisi lingkungan dan lahan lakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak lain, Usman dan Ali atau warga setempat juga makin sulit mencari ikan hias yang dulu sering mereka tangkap sambil menyelam. Kerusakan mangrove membuat ikan menjauh ke tengah samudra sehingga kehidupan bernelayan sangat terganggu. Cara hidup orang Bugis kini bergeser ke daratan. Kalaupun masih ada yang bertahan sebagai nelayan, karena tidak punya pilihan lain. "Jadi, walaupun ada pendatang, tapi rel-rel dasar mereka tetap Bugis, tetap orang Jawa tetap orang Madura, dan kami juga tetap Hindu. Tetapi menghadapi hal-hal yang negatif, kami tetap satu," kata Ida Cokorda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati begitu, Ida Cokorda memastikan warga Pulau Serangan tidak akan kehilangan identitas karena mereka seperti ikan berenang di laut. "Walaupun air laut asin, tapi kami [ikan] tidak asin," kata Ida Cokorda. Mansyur juga memastikan kerukunan antar penganut agama berbeda di Pulau Serangan termasuk nomor satu di seputar Bali. "Tidak pernah satu kali pun dari dulu terjadi [keributan]," tegas Mansyur.(KEN/Tim Liputan Potret)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.liputan6.com"&gt;Liputan6.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-116832748378879221?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/116832748378879221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=116832748378879221' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/116832748378879221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/116832748378879221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2007/01/orang-bugis-di-pulau-serangan.html' title='Orang Bugis di Pulau Serangan'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-116694137277020978</id><published>2006-12-24T14:22:00.000+08:00</published><updated>2006-12-24T14:22:53.336+08:00</updated><title type='text'>Masuknya Etnis Bugis di Kalimantan Barat</title><content type='html'>Masuknya orang Bugis di Kalimantan Barat bermula dari kedatangan Daeng Mataku yang menikah dengan Ratu Malaya, salah seorang  anak Pangeran Agung dari Kerajaan Sukadana. Daeng Mataku ini pernah membantu menyerang Istana Sultan Zainuddin; pada tahun  1710 atas suruhan Pangeran Agung, saudara kandung Zainuddin. Karena jasanya itu, Daeng Mataku diangkat menjadi panglima. Keturunan Daeng Mataku kini tersebar di daerah Sukadana dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas permintaan Sultan Zainuddin untuk mengatasi perang saudara di kerajaannya, kemudian datang pula Upu Daeng Manambon asal  Luwuk bersama saudara-saudaranya, Upu Daeng Merewah, Upu Daeng Perani, Upu Daeng Celak dan Upu Daeng Kemasi. Mereka  berhasil memenangi perang tersebut. Upu Daeng Manambon kemudian digelari Pangeran Emas Surya Negara dan menikahi Puteri Kesumba, anak Sultan Zainuddin dengan Utin Indrawati dari Kerajaan Mempawah. Daeng Menambon kemudian menggantikan  Panembahan Senggauk sebagai raja di Mempawah. Untuk mengenang kedatangan Daeng Menambon ke Mempawah, hingga kini masyarakat Mempawah mengadakan upacara robo'-robo'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, orang Bugis kini tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Barat dan membaur dengan etnis lain yang ada,  terutama Melayu. Di Ketapang mereka menetap di Sungai Puteri, Satong, Siduk, Semanai, Melinsum, Sukadana, Rantau Panjang dan  Teluk Batang. Di Pontianak terdapat di Segedong, Teluk Pakedai, Batu Ampar, Sungai Kakap dan beberapa kawasan di kota Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota Pontianak ada dua kampung Bugis, yakni Bugis Dalam dan Bugis Luar. Keduanya terletak di kawasan Tanjung Hilir,  bersebelahan dengan Kampung Arab dan Keraton Kadariyah. Kampung Bugis tersebut sudah ada sejak zaman kesultanan Pontianak,  didirikan seorang Bugis kerabat keraton Pontianak, Syarif Acmad yang mempersunting Daeng Madiana, seorang gadis Bugis dari daerah Donggala. Saat ini Kampung Bugis tidak lagi hanya dihuni oleh orang Bugis, tetapi juga penduduk dari suku lain, seperti  Melayu, Cina, Madura, Sunda, Jawa dan Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Bugis terkenal pekerja keras dan ulet, serta masih memegang teguh adat dan tradisi mereka. Di Segedong misalnya, mereka  masih melaksanakan upacara adat ritual kelahiran, kematian dan adat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Pontianak Online&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-116694137277020978?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/116694137277020978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=116694137277020978' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/116694137277020978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/116694137277020978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/12/masuknya-etnis-bugis-di-kalimantan.html' title='Masuknya Etnis Bugis di Kalimantan Barat'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-116107102410563916</id><published>2006-10-17T15:39:00.000+08:00</published><updated>2006-10-17T16:14:54.033+08:00</updated><title type='text'>UNDANGAN GATHERING</title><content type='html'>&lt;div&gt;Assalamu Alaikum Wr.Wb.&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt;Bagi saudara/i member BUGINESE yang ingin menghadiri acara gathering BUGINESE, silahkan langsung datang ke :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tempat             : Restoran PUALAM Jl. Somba Opu (depan Hotel  Quality)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="font-weight: bold;"&gt;Hari/tanggal    : Sabtu, 28 Oktober 2006&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waktu               : Pukul 11.00 (makan siang)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt;untuk informasi selanjutnya hubungi  panitia :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt;Nurfaidah=        08124135769&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Nurjumiati      = 0811416975&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sampai jumpa,&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Wassalam&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;Buginese Admin&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-116107102410563916?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/116107102410563916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=116107102410563916' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/116107102410563916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/116107102410563916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/10/undangan-gathering.html' title='UNDANGAN GATHERING'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115890096685393046</id><published>2006-09-22T12:52:00.000+08:00</published><updated>2006-10-11T08:24:28.030+08:00</updated><title type='text'>Sajangrennu di Balikpapan</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;D&lt;/span&gt;ikenal sebagai kota minyak yang menjanjikan kemakmuran, tak dapat dipungkiri Balikpapan menjadi surga bagi pendatang, termasuk para passompe dari ranah bugis makassar. Tak kurang dari 30% dari total penduduknya merupakan pendatang asal sulawesi selatan (bugis, makassar, mandar, toraja), selebihnya berasal dari jawa, sunda, banjar, batak, melayu, flores dan sedikit suku dayak. Di kota yang berpopulasi sekitar 600,000 jiwa, tanpa penduduk asli ini, nuansa bugis dan makassar bisa dijumpai di banyak tempat, dari penganan kecil, sampai nama jalan nya. Sehingga tak aneh kalo kita menyebut kota kecil nan bersih ini sebagai Makassar Mini.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda ingin menikmati angkutan murah di Balikpapan, cobalah menumpang taxi yang muat sampai 9 orang, ongkos terjauh hanya Rp 3,000. Lho kok bisa? Tidak usah heran, taxi adalah sebutan umum untuk angkot berbentuk mikrolet atau toyota kijang di Balikpapan, sedang untuk taxi yang ‘asli’ mereka menyebutnya ‘argo’, walaupun banyak taxi tersebut tidak terbiasa menggunakan argometer alias borongan. So, anda akan menumpang taxi dengan nomor trayek dan jalur tertentu pula, kecuali kalo diatas jam 9 malam, sopir taxi ini akan melayani anda untuk rute apapun dan kemanapun sesuai orderan. Taxi di Balikpapan ini agak lebih manusiawi dalam memperlakukan penumpangnya, deretan kursi penumpang menghadap ke depan sebagaimana umumnya mobil, tidak seperti saudaranya pete’-pete’ di Makassar atau kota lain yang penumpangnya duduk berhadap-hadapan. Juga, jarang ditemui taxi dengan full capacity, biasanya maksimal hanya ditumpangi oleh 4-6 penumpang. Selain untuk kenyamanan penumpang, juga ada kesepahaman tak tertulis diantara sopir taxi Balikpapan untuk berbagi rejeki dengan sesama sopir taxi. Bagi anda perantau asal Sulawesi Selatan yang lumayan mengerti bahasa bugis dan makassar, taxi yang juga bisa berfungsi sebagai studio musik ini bisa memanjakan anda dengan lagu pengiring dari bugis makassar, dari lagu bugis abadi semisal ‘mabbura mali dan sajang rennu’ sampai lagu pop mutakhir dari Art2Tonic dan Ribas bisa juga anda nikmati. Perbincangan di atas angkot pun acapkali menggunakan bahasa bugis dan makassar, karena hampir 70% sopir taxi di kota ini merupakan pendatang asal bugis makassar. &lt;em&gt;“Tau Ogi tokki pale’na?, Ogi pole fegaki?”&lt;/em&gt; sapaan akrab Kahar, sopir taxi nomor 3 ini, ketika tahu kalau saya juga berasal dari Bugis. Sesekali, jika kebetulan duduk di samping sopir bugis semisal Kahar ini, saya akan menanyakan kenapa jauh-jauh cari uang ke Balikpapan, hampir semua jawabannya seragam, “disini, walaupun apa-apa mahal, tapi gampang sekali &lt;em&gt;gappa doe&lt;/em&gt;, perputarannya cepat &lt;em&gt;cess...”,&lt;/em&gt; itu juga sebabnya mereka betah dan bahkan, mengajak saudara-saudara mereka di kampung untuk hijrah ke Balikpapan. Kalau anda menyempatkan diri menumpang taxi nomor 3, maka akan melewati daerah bernama Karang Bugis, dan juga Jalan Bonto Bulaeng. Di daerah karang Bugis ini juga, berdiri Pondok Pesantren Hidayatullah, yang dikenal sebagai Pesantren dengan cabang terbanyak dan terbesar di Indonesia. Pendiri nya adalah perantau asal Makassar, almarhum ustad Abdullah Said, atau juga dikenal sebagai ustad Mukhsin Qhahhar. Pengajar dan santri nya juga banyak berasal dari Bugis Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lain lagi dengan penjual Sanggar ini, dari logat bicaranya yang medok, orang akan mudah menaksir asalnya dari suku Jawa, apalagi ketika tahu namanya, Mas Bagong. Sehari-harinya dia berjualan sanggar di sebuah kedai kecil di kilo 2, pinggiran kota Balikpapan. Jangan mengirta bahwa sanggar ini semacam tempat kongkow2 para pencinta seni, tapi sanggar ini adalah nama lain dari pisang goreng yang kita kenal, penganan gorengan khas merakyat yang digemari oleh semua lapisan masyarakat. Lho, kenapa kok nama pisang goreng berubah jadi sanggar? Beberapa orang Balikpapan yang saya temui berusaha menjelaskan bahwa sanggar adalah singkatan untuk pisang goreng, dengan menggabungkan suku kata akhir di kata pisang dengan suku kata awal di kata goreng dengan penyesuaian huruf o menjadi a. Namun, saya yang besar di makassar, punya pemahaman yang lain. Sejatinya, sanggar adalah sebutan awam untuk pisang goreng di makassar (sanggara’). Entah, karena banyaknya penggemar pisang goreng yang berasal dari makassar, sehingga mereka merasa berhak menamakan penganan nikmat di pagi hari itu dengan sebutan dari daerahnya. Di Balikpapan, beberapa kata asal bugis makassar terserap menjadi istilah umum masyarakat kota itu, semisal kata mandre untuk makan, buto untuk (maaf) kelamin pria, badik untuk semua senjata pisau, kaluruk untuk rokok, sekke’ untuk pelit, pale’ untuk imbuhan sekalinya/kalo begitu dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kecamatan Gunung Sari, tepatnya di Gang Maryati, sekiranya perlu, Anda bisa singgah menunaikan sholat di Masjid Andi Massiona. Nama masjid diambil dari nama pemberi wakaf tanah dan bangunannya, yang sudah barang tentu merupakan nama khas bugis. Di daerha maryati yang agak padat ini juga, sekitar 80% penduduknya merupakan pendatang asal bugis makassar. Tak heran kalau bahasa sehari-hari mereka menggunakan bahasa bugis dan makassar. Di ujung gang, anda bisa berhenti sebentar membeli penganan ‘pisang gapit’ yang menurut penjualnya yang bersuku jawa, merupakan penganan hasil modifikasi dari ‘pisang epe’ yang dikenal di makasar. Kalau di makassar, pisang epe dibuat dari pisang raja yang dibakar kemudian di jepit, dan diberi parutan kelapa dengan gula merah cair, maka pisang gapit ini diproses dengan cara yang sama hanya di’gunting-gunting’ menjadi kecil-kecil sebesar koyo dan dihidangkan ke dalam piring kecil berisi gula merah cair. Rasanya manis dan enak, se-enak pisang epe di pantai Losari. Bila anda penggemar Coto Makassar, Sop Saudara dan Konro, anda akan dengan mudah menemukan warung coto di Balikpapan karena hampir di setiap sudut kota terutama di kawasan Sudirman dan Klandasan, akan banyak dijumpai warung coto, sebanyak toko penjual krupuk amplang, krupuk dari ikan khas Balikpapan. Namun disini, coto disajikan agak berbeda dengan di Makassar, hampir semua warung mengolah kuah coto dengan menambahkan santan, sehingga mungkin agak kurang nikmat menurut saya karena bisa mengaburkan rasa coto aslinya. Bagi anda penggemar Kapurung dan Pallu Mara, anda hanya bisa menikmati makanan berlendir ini di Warung Palopo, yang berlokasi di daerah Manggar, Selatan Balikpapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendatang asal Bugis Makassar diduga berdatangan ke kota Balikpapan sejak dekade 60-an, umumnya bekerja di sektor non formal, dengan menekuni pekerjaan kasar mulai dari menjadi sopir angkutan kota, pedagang sayur dan ikan, buruh kontraktor, tukang kayu dan bangunan sampai ke preman pasar. Teman saya orang Makassar yang bekerja sebagai tenaga Security Chevron bertutur bahwa kerabat dia merupakan ‘orang’ yang ‘pegang’ kompleks Plaza Rapak, so kalau ada perlu sesuatu jangan sungkan-sungkan beritahu dia. Memang agak tragis bahwa orang bugis makassar yang dikenal bertemperamen keras malah meninggalkan kesan negatif bagi penduduk Balikpapan, dan tidak jarang keonaran dipicu oleh perkelahian yang melibatkan suku Bugis Makassar ini, walaupun demikian, rekan kerja saya yang juga asli Bugis mengatakan bahwa ini semacam ‘blessing in disguise’ karena orang sekitar akan menjadi segan terhadap kita kalau sekiranya mereka tahu bahwa kitra orang bugis makassar. Agak memilukan sebenarnya. Saya tidak tahu apakah kriminalitas ini menjadi pemicu diberlakukannya regulasi ‘uang jaminan’ oleh Pemkot Balikpapan bagi para pendatang yang hendak menjadi warga kota, dimana para pendatang ini diwajibkan untuk membayarkan uang jaminan sebesar harga tiket mudik (untuk pendatang Sulawesi, nilainya sebesar Rp 300,000/jiwa selama 6 bulan). Uang jaminan akan dikembalikan utuh sekiranya si pendatang dapat membuktikan bahwa dia sudah bekerja setelah 6 bulan. Sekiranya si pendatang dalam kurun 6 bulan tidak mendapatkan pekerjaan, maka uang jaminan ini bisa dipakai oleh aparat Pemkot untuk me’mulang’kan si pendatang ke daerah asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak sedikit juga orang bugis makassar yang menjadi pekerja formal, dari pegawai kantor perusahaan minyak; pertamina, chevron, total dan vico, juga banyak yang menjadi pegawai negeri. Bahkan di periode sebelumnya, Mukmin Haeruddin yang asli Bugis, berhasil menduduki kursi wakil walikota, dan kemudian maju menjadi calon walikota Balikpapan di periode selanjutnya, namun kalah di pilkada 2006. juga beberapa nama lain lumayan berkibar memenuhi daftar pengurus cabang partai. PDK, yang didirikan oleh pak Ryaas Rasyid juga bisa menangguk suara yang lumayan banyak di Balikpapan ini, terutama karena didukung oleh suara para passompe. Paguyuban daerah semacam KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) dan KKM (Kerukunan Keluarga Mandar) juga tumbuh berkembang di kota ini, bahkan organisasi massa ini kerap memiliki pengaruh yang besar terhadap kebijakan publik pemerintah kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hampir semua kota rantauan para passompe di Indonesia, mulai dari Jakarta, Cilacap, Cirebon, Surabaya, Jambi, Riau dan juga Balikpapan, agak sulit rasanya memisahkan orang bugis makassar dari pelabuhan. Ibarat kumbang dan bunga nya atau borok dan lalatnya, dimana ada pelabuhan, disitu banyak dijumpai orang Bugis Makassar. Di Balikpapan, ada dua pelabuhan besar tempat singgah kapal Pelni, yakni pelabuhan Semayang dan pelabuhan Kampung Baru. Dan berbicara tentang orang Bugis di Balikpapan, tidak klop rasanya tanpa mengaitkannya dengan Kampung Baru. Walaupun bernama Kampung Baru, kecamatan ini malah tergolong paling kumuh dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Balikpapan. Orang Balikpapan kadang memberi sebutan ‘daerah Texas’ untuk kecamatan Kampung Baru ini. Jangankan orang non-Bugis Makassar, orang Bugis Makassar pun merasa perlu berhati-hati sekiranya punya keperluan di sini. Di sepanjang jalan yang membelah distrik pelabuhan ini, tidak terlalu sulit menemukan istilah-istilah bugis makassar. Mulai dari nama toko “Sinjai Putra, Putra Wajo, Wija to Bone,” warung ikan bakar, sampai kedai cukur pun penuh dengan nuansa Bugis Makassar. Bila anda membutuhkan menikmati ikan Baronang bakar dengan sambal khas bugis, carilah di Kampung Baru, namun anda mesti siap merogoh kocek dalam-dalam karena harga yang dipatok lumayan mahal, bisa dua kali lipat dari harga di Makassar atau Muara Angke, Jakarta. Di Kampung Baru ini juga, setiap selasa dan jumat pagi, anda bisa berburu barang-barang selundupan dengan harga miring di atas kapal pelni yang berlabuh dari Tarakan. Tapi menurut orang, sekarang banyak yang didagangkan barang palsu dengan harga yang cenderung sama saja dengan harga di darat. Bagi orang Bugis Makassar yang mau mudik, bisa menumpang kapal ini karena setelah selesai dengan aktifitas ‘pasar kaget’ ini, kapal tersebut akan berlayar menuju pelabuhan Makassar atau Pare-pare. Selain kapal Pelni, juga banyak kapal feri yang melayani rute Balikpapan - Mamuju pp. Bagi yang berduit lebih, bisa menikmati perjalanan Udara dengan pesawat Merpati dan Lion Air yang melayani rute Balikpapan-Makassar setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini juga dimuat di Panyingkul (&lt;a href="http://panyingkul.com"&gt;http://panyingkul.com&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Dan blog pribadi Noertika &lt;a href="http://noertika.wordpress.com"&gt;http://noertika.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115890096685393046?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115890096685393046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115890096685393046' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115890096685393046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115890096685393046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/09/sajangrennu-di-balikpapan.html' title='Sajangrennu di Balikpapan'/><author><name>noertika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17507891906041214518</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://static.flickr.com/44/139582522_2fe2b0dbbc_m.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115707050325136671</id><published>2006-09-01T08:24:00.000+08:00</published><updated>2006-09-01T15:10:38.873+08:00</updated><title type='text'>Danau Matano</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4096/3184/1600/danau%20matano.6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4096/3184/200/danau%20matano.3.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ungkin sebahagian orang di Indonesia kurang mengenal atau mendengar nama Danau Matano, yang merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dan terdalam ke-8 di dunia (600mtr depth), bahkan di Sulawesi Selatan, danau Tempe (Wajo) dan danau Towuti (Malili) lebih sering diperbincangkan. Namun, bagi masyarakat Sorowako umumnya, dan PT International Nickel Indonesia khususnya, perusahaan penambangan nikel terbesar dunia yang area pertambangannya meliputi Sorowako- danau Matano merupakan sumber energi dan penghidupan yang sangat vital, sehingga ketergantungan terhadap danau Matano ini sangat tinggi. Danau Matano sendiri terletak di Sorowako, kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu TImur, Sulawesi Selatan. Letaknya berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dengan panorama indah yang dikelilingi oleh pegunungan Verbec...&lt;span class="fullpost"&gt; , danau Matano ini sangat layak dijadikan tujuan wisata. Pasir pantainya yang putih, dengan ombak yang ramah namun masih memungkinkan untuk berolahraga air semisal renang, layar, ski air, kano dan menyelam. Kecerahan air yang mencapai 23 meter sangat menggoda untuk olahraga snorkling dan diving, apalagi ikan-ikan yang hidup di danau ini merupakan ikan yang sangat khas dan tidak dijumpai di daerah lain. Beberapa event lokal dan nasional pernah diselenggarakan disana, sebutlah lomba perahu dayung tahunan, Sunday market, year end party PT INCO, sampai kompetisi renang nasional PRSI menyeberangi danau Matano. Di daerah Sorowako ini , ada tiga pantai yang kerap dikunjungi masyarakat dan karyawan PT INCO yakni pantai Old Camp, pantai Idee (Pontada) dan pantai Kupu-kupu (Salonsa). Di sisi danau lainnya, desa Nuha, Tapulemo dan desa Matano, juga memanfaatkan danau matano sebagaimana masyarakat Sorowako.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Danau Matano, yang berarti mata air dalam bahasa Dongi, bahasa asli Sorowako, terbentuk dari ribuan mata air yang muncul akibat gerakan tektonik; lipatan dan patahan kerak bumi yang terjadi di sekitar daerah litosfir yang membutuhkan waktu lama untuk terisi oleh air dan membentuk danau sekitar 4juta tahun yang lalu. Di area Sorowako, juga terbentuk dua danau lainnya, danau Mahalona (kedalaman 60mtr) dan danau Towuti (kedalaman 200mtr). Air yang mengalir dari Danau Matano dialirkan melalui sungai Larona ke Danau Mahalona kemudian ke Danau Towuti dan selanjutnya menuju muara melalui sungai Malili dan berakhir di Laut Bone. Sungai inilah yang menjadi penggerak dua PLTA milik PT Inco Tbk, yaitu PLTA Larona dan PLTA Balambano. Bahkan tidak lama lagi Inco juga akan membangun PLTA yang ketiga yang sumber energinya berasal dari Danau Matano, yaitu PLTA Karebbe.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Danau Matano tak hanya terkenal karena panorama alamnya yang mempesona. Di sana juga ternyata menyimpan banyak keunikan. Dari letak dan komposisi kimianya yang khas hingga kekayaan fauna endemik yang hanya dapat ditemukan pada danau tersebut. Dan yang paling membanggakan pula, dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan tidak terjadi perubahan signifikan terhadap ekosistem danau sejak 1930-an hingga saat ini. Bahkan karena kekhasannya, beberapa ilmuan menilai danau di Sorowako, terutama Danau Matano patut diusulkan menjadi world heritage. Bagi PT Inco, hasil kajian dari para ahli lingkungan tentu sangat menggembirakan. Fakta ini sekaligus membantah tudingan banyak pihak bahwa danau yang digunakan PT Inco sebagai PLTA telah tercemar limbah PT Inco.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Posisi dasar danau sangat khas, dimana letaknya lebih rendah daripada permukaan laut. Suatu gejala alam yang langka di dunia, hanya dilampaui oleh laut Mati, di lembah Jordan Mesir. Danau Matano juga bersifat isotermal, yang berarti beda suhu antara permukaan dan dasar danau kurang dari dua derajat celsius. Kecerahan air 23 m, padahal banyak danau lain di Indonesia hanya beberapa meter bahkan  dm saja. Sifat khas lain di jumpai di dekat Desa Matano dimana beberapa mata air muncul dari dasar danau. Lalu pada kedalaman 200-300 m dapat dijumpai kolam ikan dengan indikasi aliran gravitasi di dasar danau. Jenis flora dan fauna yang hidup di Danau Matano bersifat endemic yang masih terjaga dengan baik. Secara awam, flora dan fauna endemik adalah mahluk hidup yang hanya ditemui di suatu tempat dan tidak bisa ditemukan di tempat yan lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Diolah dari berbagai sumber:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;1. Catatan pribadi, selama bekerja di PT INCO (2004-2006)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;2.International Symposium the Ecology and Limnology of The Malili Lakes – LIPI, 20-22 Maret 2006 di Hotel Salak, Bogor-Jawa Barat. Atas izin pihak Govrel PT INCO&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;3. Wikipedia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;4. WeBlog: http://jalansutera.com, Weblog pribadi milik Pujiono (melalui konfirmasi)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115707050325136671?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115707050325136671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115707050325136671' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115707050325136671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115707050325136671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/09/danau-matano.html' title='Danau Matano'/><author><name>noertika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17507891906041214518</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://static.flickr.com/44/139582522_2fe2b0dbbc_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115630875126820027</id><published>2006-08-23T12:47:00.000+08:00</published><updated>2006-09-01T16:20:43.866+08:00</updated><title type='text'>Kisah Passompe' dari SempangngE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4096/3184/1600/La%20Caba.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 101px; height: 161px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4096/3184/200/La%20Caba.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Dari Pa'balu' Lipa' Sabbe ke Pangempang Muara, dari SempangngE ke Mangkupalas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Potret Transformasi geografis dan sosiologis lelaki bugis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Wijanna LaNori&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;rang sekitar akrab memanggilnya La Caba’, lelaki 35 tahun asal SempangngE, Wajo. Nama lengkapnya Baharuddin Ompeng, beristrikan Nurdiana, wanita Bugis kelahiran Samarinda dan memiliki anak angkat/keponakan bernama Wahyu, 6tahun. Di usianya yang tergolong muda itu, orang awam akan menaksir usianya 10tahun lebih tua. Perawakannya kecil agak membungkuk, rambut gondrong jauh dari kesan rapi, berkulit gelap mengkilap seakan terbakar, buah dari hasil mangempangnya di Muara Badak selama lebih kurang 5 tahun. La Caba’ tergolong gesit dan tangkas, murah senyum dan senang bercanda dengan orang lain. Dulunya dia adalah seorang pabbalu lipa’ yang merantau dari kampung ke kampung di luar pulau Sulawesi. Sempat menginjak tanah Sumatera, Kalimantan bahkan Kupang untuk berjualan lipa sabbe hasil tenunan Sengkang, tepatnya daerah SempangngE, tempatnya dilahirkan. Namun kini, dia adalah petani petambak, atau dalam bahasa lokalnya, pangempang. Dari hasil mangempangnya yang seluas 7 hektar itu, dia dapat membeli sebidang tanah rawa di Mangkupalas, Samarinda Seberang dan membangun sendiri, sebuah rumah kayu panggung diatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4096/3184/1600/rumah%20la%20Caba.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 148px; height: 110px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4096/3184/200/rumah%20la%20Caba.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di penghujung tahun 1980an, selepas SMA di SempangngE, La Caba’ turut beserta pemuda-pemuda sekampungnya massompe (merantau) ke luar Sulawesi, dengan menjadi pabbalu lipa’ sabbe, pedagang sarung Sutera (lipa sabbe’) berkeliling Indonesia. Umumnya, daerah yang dituju adalah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, atau Papua. Namun ada juga yang berjualan lipa sabbe di pulau Sulawesi juga, dari Makassar, Takalar, sinjai, luwu, Palu, Banggai, sampai ke Gorontalo. Beberapa dari mereka sempat juga menjejakkan kakinya di daratan Jawa, namun tidak banyak, mungkin dikarenakan keberadaan Sarung Pekalongan atau kain batik yang juga mendominasi waktu itu. Disetiap kota, biasanya para pabbalu lipa’ ini menyewa sepeda motor utnuk membantu mobilitas mereka untuk menjajakan lipa sabbe nya dari kampung ke kampung. Di dekade &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4096/3184/1600/Perumahan%20Nelayan%20Mangkupalas.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 138px; height: 104px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4096/3184/200/Perumahan%20Nelayan%20Mangkupalas.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sebelumnya, para pabbalu lipa ini hanya berjalan kaki dari kampung ke kampung, kadang pekerjaan ini mengundang resiko tinggi, bahkan nyawa mereka. La Caba’ bertutur, dulu di tahun 1&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;960-an, La Tellong bin Ompeng - kakak lelakinya lain ibu, dirampok dan dibunuh bersama rombongannya ketika mabbalu lipa’ di pedalaman Barru atau Sinjai, kuburannya tidak diketahui sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Motivasi para pemuda SempangngE massompe umumnya&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; selain&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; karena ala&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;san ekonomi,&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; jug&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a didorong oleh semcam budaya atau persepsi yang turun temunrun bahwa lelaki bugis dikatakan sukses apabila sudah pernah massompe, mengadu nasib di negeri orang. Banyak cerita sukses dibalik budaya massompe’ ini, namun tidak sedikit juga yang kembali dengan tidak membanggakan, bahkan tidak jarang hanya nama saja yang kembali alias meninggal di tanah sompe’ (tanah rantau). Beberapa diantara mereka pulang setel&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ah 1-3 tahun, namun ada juga yang memilih untuk tidak kembali, terlebih karena penghidupan di sompe’, negeri orang, lebih &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;baik ketimbang kembali ke negeri sendiri. Seorang sepupu Caba’, La Taming, memilih bermukim di Malaysia sejak 30 tahun lalu, dan sampai hari ini juga tak pernah mengirim berita. Para pabbalu lipa’ umumnya lebih sering kembali ke kampung, terlebih setelah dagangan lipa sabbe’nya habis setelah beberapa bulan, untuk kemudian berangkat lagi dengan membawa lipa’ sabbe baru. Profit margin dari berjualan lipa sabbe ini umumnya cukup tinggi, bisa sampai 10kali lipat harga pokok lipa sabbe’. Lipa sabbe ini dibungkus dalam beberapa bungkus kain lipa juga, tiap bungkusnya berjumlah &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;paling sedikit 10 kodi (1kodi=20sarung), beratnya bisa mencapai ratusan kilo. Bisanya lipa sabbe ini diambil dari seorang ’boss’ yang bertindak menjadi ’sponsor’ dan distributor. Setiap pabbalu lipa mengantongi sejumlah uang dari sang Boss untuk biaya perjalanan dan akomodasi selama mabbalu’ lipa’. Namun, ada juga pabbalu lipa yang berangkat dengan swadaya dari hasil tenunan istri atau perempuan keluarga di rumah. Wanita bugis, sejak berusia baligh, umumnya sudah mahir memainkan alat tenun yang biasa di tempatkan di bawah rumah panggungnya. Satu lipa sabbe nya bisa diselesaikan dalam 3hari sampai 1 minggu, tegantung tingkat kesulitan corak dan bahannya. Mereka kadang meracik sendiri cello’nya (warna), sehingga awam didapati jemari tangan wanita Bugis ini berwarna merah kebiruan hasil meracik wennang cello (warna benang)tenunannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kembali ke cerita La Caba’, setelah berdagang lipa sabbe bersama kakak lelakinya La Sawang selama lebih kurang 10 tahun, akhirnya di awal tahun 2000an, dia singgah di Samarinda Seberang, di area Mangkupalas, daerah yang dia sebut sebagai ”ogi Mammesseng’ atau bugis semua, berkenalan dengan beberapa orang Bugis disana, kemudian memperistri salah seorang putri juragan Empang setempat, Haji Haddise. Kemudian dimulailah transformasi kehidupannya,&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; berbekal tabungan hasil mabbalu lipa sabbe urunan bersama kakaknya La Sawang, dia membeli empang seluas 7 hektar milik mertuanya di kawasan Muara Badak, atau lebih sering disebut Muara saja. Kakaknya sendiri, La Sawang, karena keterbatasan fisik, lebih memilih menjadi seorang penarik Ojek Motor di daerah Loa Janan, Samarinda Seberang juga, sekitar 5km dari Mangkupalas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ditemani oleh adik lelakinya, La Saha yang dibawanya dari kampung SempangngE, dia menggarap dan mengolah empang ini untuk menghasilkan udang windu dan kepiting untuk kemudian dijual ke tengkulak setempat. Tengkulak, atau dia lebih senang memanggilnya sebagai ’Boss’, umumnya lebih berfungsi sebagai Godfather bagi para pangempang asuhannya, mulai dari membantu biaya ’pengolahan’ empang dari berwujud rawa menjadi empang yang produktif, sampai ke bantuan biaya mendirikan rumah para pangempang. N&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;amun, sesuai perjanjian awal diantara keduanya, hasil empang ini berupa udang atau kepiting harus dijual ke ’Boss’ ini. Harga yang dipatok lumayan tinggi, untuk Udang Windu kualitas ekspor yang rata-rata sebesar telapak tangan laki-laki dewasa, dihargai Rp 150,000/kilogram. ”Tapi, kalo udangnya ada cacatnya, misalnya sisiknya kurang bagus, maka tidak akan diterima oleh Boss, karena tidak bisa diekspor”, katanya, ”harga udang yang ’cacat’ akan jatuh ke kisaran Rp 15,000/kg saja, nah ini yang biasanya dijual di pasar lokal saja”. Para pangempang ini hanya memproduksi udang dan kepiting, karena nilai jualnya yang tinggi karena berorientasi ekspor. Untuk jenis ikan bolu/bandeng atau ikan lainnya, mereka tidak begitu bersemangat, karena umumnya hanya &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;untuk konsumsi lokal dengan harga maksimal Rp 15,000/kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk perjalanan ke Muara, La Caba menggunakan speed boat dari kayu yang juga dibelinya atas jasa baik “Boss’nya. Perjalanan ke Muara ini ditempuh dalam waktu 3 jam dengan menyusuri sungai Mahakam. Jadwal mangempang di Muara ini biasanya selang seminggu-seminggu, artinya seminggu di Muara, seminggu balik ke Mangkupalas. Kadang-kadang kalau musim panen udang, dia bisa tahan sampai 2 minggu di Muara. Dalam setahun, La Caba bisa panen 3kali, setiap panen bisa menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp. 30juta. Duit inilah yang ipakainya untuk membeli investasi tanah dan membangun rumahnya di Mangkupalas. Juga, sekiranya perlu, dia mengirimkan duit hasil empang ini ke kakak-kakaknya yang masih bermukim di SempangngE.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bulan mei kemaren, La Saha, adiknya menikah dengan gadis bugis setempat, dan kemudian memutuskan untuk kembali ke Sempangnge beserta istrinya, tidak menjadi pangempang mengikuti kakaknya. Kini, La Caba, ditemani istri tercintanya mengurus empang berdua. Kelihatannya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya menjadi pangempang di Muara, tidak berniat kembali lagi ke SempangngE, Wajo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115630875126820027?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115630875126820027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115630875126820027' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115630875126820027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115630875126820027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/08/kisah-passompe-dari-sempangnge.html' title='Kisah Passompe&apos; dari SempangngE'/><author><name>noertika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17507891906041214518</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://static.flickr.com/44/139582522_2fe2b0dbbc_m.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115629510187733396</id><published>2006-08-23T09:03:00.000+08:00</published><updated>2006-08-27T18:01:06.426+08:00</updated><title type='text'>Bumi Langit Karaeng Pattingalloang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/1600/globe.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/200/globe.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Nirwan Ahmad Arsuka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ari itu, I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang (KP),  tengah berdiri menyambut angin semilir dan gemerisik ombak Makassar. Saya bayangkan, di sisi Perdana Menteri Kesultanan Gowa itu, di bawah matahari Februari 1651, berdiri menantunya: I Mallombassi yang kelak menjadi Sultan Hasanuddin. Putera KP, Karaeng Karungrung, tampak mencermati buku di tangannya. Sejumlah tubarani (satria) dari istana Tallo dan benteng Sombaopu terlihat juga di sana. Sebagian di antaranya berbaur dengan wajah-wajah Makassar, Bugis, Malaka, Jawa, Campa, Johor, Minang, Patani, India, Cina, Portugis, Spanyol, Denmark, Perancis dan Inggeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertengahan abad 17 itu, Makassar adalah bandar paling ramai dan paling kosmopolit di Negeri-negeri Bawah Angin belahan Timur. Dikitari sejumlah benteng yang dibangun dan diperluas sejak seratusan tahun yang silam, di bawah Raja Gowa IX Karaeng Tumapa’risi’ Kallona, pusat kerajaan Gowa – Sombaopu – menjadi  kota antarbangsa dengan keragaman penduduk tertinggi dalam 600 tahun sejarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Malaka jatuh di bawah hantamam meriam Portugis pada 1511, sejumlah satria Melayu yang menampik kekalahan tersebut, pindah beramai-ramai ke Siang (Pangkajene Kepulauan). Mereka kemudian hijrah ke Sombaopu setelah mendapat jaminan perlindungan tertulis dari Raja Gowa X Karaeng Tunipalangga. Jaminan yang memberi kesempatan kepada segala jenis manusia yang melintas di Nusantara hak menegakkan semacam hukum ektrateritorial itu, adalah jaminan pra-Eropa pertama di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suaka niaga itu menjadi sorga pelarian, kali ini oleh Portugis, setelah Malaka jatuh ke tangan Belanda pada 1641. Sejak itu, Makassar menjadi tempat persinggahan utama Portugis di Nusantara. Sekitar 3000 orang Portugis menetap di tengah kota, lengkap dengan 4 buah tempat ibadat Kristen. Sebelumnya, pada 1613, Inggeris sudah membangun sebuah pabrik, disusul Denmark lima tahun kemudian. Para pedagang Cina dan Spanyol, dengan tetap menyimpan kenangan pada tanah leluhur, tampak membangun jaringan bisnis dan berdiam di kota itu masing-masing sejak 1619 dan 1615.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya bangsa yang jarang berkeliaran di Sombaopu di sekitar tahun 1651 itu justeru Belanda, kendati jauh sebelumnya mereka juga diperkenankan membangun pabrik dan kantor dagang. Itu adalah buah dari perang dingin yang diawali sejak fajar abad 17 dari dua musuh bebuyutan di samudera timur Nusantara. Dengan segala cara, Kompeni ingin menguasai seluruh jalur laut rempah-rempah dan menegakkan monopoli yang diamanatkan Parlemen (Staten Generaal) Republik Persatuan Nederland. Makassar tegak  dengan kalimat keramat mare liberum yang pada 1615 ditegaskan Sultan Alauddin Raja Gowa XIV: Tuhan menciptakan bumi dan lautan. Tanah dibagi-bagikan di antara manusia dan samudera diperuntukkan bagi semuanya. Tak pernah terdengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang, bagi satu kaum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tahun 1651 itu, perang terbuka belum meledak di antara dua kekuatan maritim ini. Konflik memang sudah berlangsung cukup lama dan di beberapa tempat darah bertumpahan.  Di awal April 1615, sejumlah pembesar Gowa diculik kapal Enkhuisen. Penculikan itu tadinya diawali dengan undangan bersahabat, jamuan makan, minum-minum, dilanjutkan dengan acara bakutikam dan pertempuran berdarah tak seimbang. Beberapa satria Gowa terluka dan tewas. Penawanan yang diatur oleh kapten Dirck de Vries dan kepala kantor VOC di Sombaopu Abraham Sterck, memantik murka Makassar. Pada Desember 1616, kapal Belanda pertama yang ke Australia, de Eendracht, tersesat di Selat Makassar. Dituduh masuk wilayah Gowa tanpa ijin, dan juga karena dendam atas penawanan licik hampir dua tahun sebelumnya, Makassar menyita de Eendracht dengan segenap isinya: bersama ke 16 nyawa awaknya yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kejadian di atas, ditambah dengan pemblokiran Sombaopu yang tak berarti banyak bagi phinisi Makassar oleh armada Belanda di bawah Gijsbert van Lodestein (1634), bantuan pelaut-pelaut Makassar kepada rakyat Maluku melawan keganasan VOC dalam Pelayaran Hongi, beserta sekian kejadian panas lainnya, umumnya memang bisa diselesaikan dengan perjanjian.  Sebuah perjanjian diplomatik utama ditandatangani 26 Juni 1637 oleh Sultan Alauddin dan Gubernur Jenderal Antonio van Diemen. Di dalamnya antara lain disebutkan bahwa Gowa tak akan berdagang di tempat-tempat yang menjadi musuh Kompeni dan Belanda dilarang membangun kantor dagang di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai 1651, tak sepotong bangunan pun diperkenankan berdiri di Sombaopu sebagai kantor VOC, justeru ketika seluruh bangsa lain di dunia, diperkenankan berkembang dan dilindungi. Padahal jaringan dagang adidaya dunia abad 17 itu justeru sudah mulai menguasai Nusantara setelah melibas Tanjung Harapan, Coromandel, Srilangka dan Malaka,  dan terus merambah ke Utara sampai ke Taiwan dan Jepang. Meski demikian, perdagangan Makassar dengan Belanda dalam beberapa hal masih berjalan. Seperti Amsterdam, Antwerpen, Venesia atau Genoa, kota Sombaopu saat itu juga hidup dan bergerak dengan semangat kapitalisme awal yang sedang marak di Eropa Barat dan masih menyisakan denyut di Mediterania. Bahkan Sultan pun berniaga. KP juga pedagang besar yang menjalin bisnis dengan Maluku, Portugis, dan Belanda di Batavia. Transaksinya bertebaran sampai ke Manila, Thailand, Golconde (India) dan semua tempat yang bisa dicapai armadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 22 Juli 1644, KP menyerahkan kepada kapten kapal Belanda Oudewater kayu cendana senilai 660 real dan satu daftar pesanan barang yang diurai rinci oleh Denys Lombard dalam karya besarnya Nusa Jawa: Silang Budaya. Bahkan Belanda pun menyebut pesanan KP  sebagai rariten, barang langka. Selain peta-peta navigasi dunia yang selama berabad-abad digolongkan sebagai harta dan rahasia negara, yang terpenting di antara rariten itu adalah bola dunia dengan keliling 4 meter, ditambah atlas bumi dan teropong bintang yang seba terbaik di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menanti 7 tahun, datanglah pesanan yang ditunggu-tunggu. KP jelas sangat mengidamkan barang itu. Ia memerlukan datang sendiri menjemputnya. Beberapa tahun sebelumnya, sejumlah pesanannya sudah ada yang tiba. Tapi kali ini, yang datang adalah instrumen yang bahkan para cendekiawan Eropa sebagian besar hanya bisa memimpikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis di salah satu hari di pertengahan Pebruari itu, sebuah kapal Belanda membuang sauh di bandar Sombaopu. Kabar akan merapatnya kapal dagang itu, seperti biasa, sudah menyebar ke seluruh kota. Banyak penduduk, yang seperti KP, juga datang meramaikan bandar. Tapi berbeda dengan Sang Pabbicara Butta, sebagian penduduk mungkin hanya ingin melihat benda aneh berukuran besar. Di antara penduduk itu mungkin ada yang ingat pada sebuah kejadian 9 tahun yang silam, tepatnya 16 Mei 1642. Pedagang Portugis yang sudah mereka kenal lama, Wehara (Francisco Vieira de Figueiredo) membawa binatang aneh berbelalai yang besarnya hampir separuh rumah: gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi karena melihat binatang mitologis anak benua India itu kesepian, ditambah minat besar mengetahui hewan-hewan ajaib dari belahan dunia lain, sekaligus untuk melengkapi koleksi satwa yang ada, di antaranya adalah antelop Afrika dan kuda-kuda Asia, KP mengirim surat ke Gubernur Jenderal di Batavia. Di surat yang diterima pada 4 Juni 1648 itu tercantum permintaan  binatang tunggangan para sultan dan nabi dari gurun Arabia: sepasang unta jantan dan betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun niat hati mereka yang berkumpul di bandar Sombaopu hari itu, orang-orang dengan berbagai raut muka, warna kulit, bahasa dan busana itu, semuanya, terutama sang perdana menteri, saya bayangkan sedang tegang. Mereka menanti didaratkannya bola dunia terbesar yang mungkin dilihat oleh Asia Tenggara di pertengahan abad 17 itu. Bola dunia dengan garis tengah 1,3 meter itu memang sangat mengesankan.  Joan Blaeu sendiri yang langsung membuatnya, dan itulah bola dunia terbesar yang dihasilkannya. Kartograf mashyur ini, antara lain pernah membuat instrumen pengamat bintang untuk astronom Denmark Tyco Brahe. Instrumen tersebut misalnya adalah revolving azimuth quadrant. Menurut Brahe, alat setinggi 3 meter ini skalanya akurat sampai seperempat menit busur. Antara lain dengan instrumen ini, meski masih memegang pandangan klasik geosentrisme, Brahe menegakkan reputasinya sebagai astronom terbesar dunia di masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joan adalah generasi kedua keluarga pembuat peta dan bola dunia yang paling ternama di Amsterdam – di masa itu peta-peta keluaran Amsterdam diakui sebagai yang terbaik sedunia. Ayahnya, Willem Janszoon Blaeu, jauh sebelumnya sudah tenar dengan karya peta Belanda (1604), peta dunia (1605-06) dan Het Licht der Zeevaerdt (Sang Cahaya Navigasi),  sebuah atlas bahari yang menyebar ke seluruh dunia dengan sejumlah edisi, bahasa dan judul yang berbeda. Sekitar 1635, hidrografer VOC ini menerbitkan volume pertama atlas jagad yang diberi judul Atlas Novus. Dengan antara lain memanfaatkan dan meyempurnakan sejumlah peta karya kartograf legendaris Gerard Mercator, inilah atlas terbaik di jamannya. Ia mencakup peta-peta paling mutakhir dari seluruh jengkal bumi yang diketahui. Tampaknya inilah atlas yang dimaksud dalam daftar pesanan barang langka KP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pesanan bola dunia dan yang lain dari KP mencapai Amsterdam, bagai api di padang rumput kegemparan menjalari kalangan terpelajar di Belanda. Dengan Aula Kota-nya yang penuh pualam dan melampaui arsitektur Gothik, Belanda yang relatif toleran terhadap pendapat-pendapat non-othodoks menjadi daerah suaka para intelektual yang mengungsi dari penyensoran di tempat lain di Eropa. Belanda di pertengahan abad 17 adalah rumah bagi filsuf besar Yahudi Baruch Spinoza, yang dikagumi Einstein; bagi Rene Descartes, tonggak penting sejarah filsafat dan matematika; bagi John Locke, pemikir politik yang secara filosofis kelak mempengaruhi revolusi Amerika lewat Paine, Hamilton, Adams, Franklin dan Jefferson. Tak pernah sebelumnya dan setelahnya, Belanda begitu dimegahkan oleh sekumpulan seniman, ilmuwan, filsuf dan matematikawan. Zaman itu adalah era pelukis ternama Rembrandt, Vermeer dan Frans Halls; Antonie Van Leeuwenhoek, penemu mikroskop; Grotious, pembangun Hukum Intenasional. Salah satu anggota komunitas ini adalah dramawan dan penyair terbesar Belanda, Joost van den Vondel, yang oleh daftar pesanan rariten KP, tergerak mempersembahkan sajak untuk penguasa dari Timur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Colegne, Jerman, Vondel mempengaruhi sastra Eropa antara lain dengan karya Gysbrecht van Aemstil (1637), dan Lucifer (1654) yang konon meninggalkan jejak pada epik terbesar Inggeris, Paradise Lost John Milton (1667). Selama kebangkitan Belanda melawan Spanyol, Vondel menampilkan sejumlah sajak yang merayakan kejayaan Belanda Bersatu. Namun, drama Palamedes (1625) yang mengangkat tema kemartiran religio-politik, membangkitkan kejengkelan kaum Calvinis. Ia lalu bergabung dengan kaum pembangkang menentang Calvinisme dogmatik dan kelak pada 1641 berpindah iman ke Katolik Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eulogiumnya kepada KP mungkin berasal dari pengalaman gelapnya dengan Eropa. Inilah benua di mana para raja dan bangsawan mengabaikan ilmu karena tak punya kontribusi langsung pada ekspansi wilayah, para pendeta dan uskup menentang ilmu karena menganggap kebenaran mutlak sudah ditemukan. Sementara itu, para ilmuwan mengembara atau dikucilkan, dan hanya bisa berkarya dengan baik di bawah segelintir penguasa yang berpikiran terbuka. Pemikir bebas yang sial, seperti Michael Servetus dan Giordano Bruno, hanya mengakhiri hidup dan petualangan intelektualnya di atas kobaran api unggun. Vondel mungkin melihat kombinasi menakjubkan dalam diri KP: seorang penguasa agung di sebuah kesultanan besar yang sekaligus seorang pemburu ilmu yang sangat bersemangat. Larik-larik dan persahabatan intelektual yang melampaui agama dan benua berikut tercantum di Volledige Dichtwerken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dien Aardkloot zend ‘t Oostindische huis&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Den grooten Pantagoule t’huis,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Wiens aldoorsnuffelende brein,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Een gansche wereld valt te klein.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Men wensche dat zijn scepter wass’,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Bereyke d’eene en d’andere as,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;En eer het slyten van de tyd&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dit koper dan ons vriendschap slyt.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bola dunia itu, Perusahaan Hindia Timur&lt;br /&gt;Mengirimkannya ke istana Pattingalloang Agung&lt;br /&gt;Yang otaknya menyelidik ke mana-mana&lt;br /&gt;Menganggap dunia seutuhnya terlalu kecil.&lt;br /&gt;Kami berharap tongkat kekuasaannya memanjang&lt;br /&gt;Dan mencapai kutub yang satu dan yang lain&lt;br /&gt;Agar keusuran waktu hanya melapukkan&lt;br /&gt;Tembaga itu, bukan persahabatan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan agak susah payah, bola dunia itu mendarat dan diarak menuju istana.  Sepanjang jalan, anak-anak dengan pakaian longgar bersorak di bawah matahari Celebes yang benderang, yang sedikit dijinakkan oleh stratocumulus sisa-sisa Musim Barat. Bola dunia besar itu akhirnya masuk ke ruang belajar KP yang luas dihiasi lonceng raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebagian besar buku di ruang itu, lonceng itu dipesan langsung dari Eropa. Mungkin KP ingin melihat bagaimana bunyi genta dari menara yang berbeda bisa mengoyak Eropa dalam perang agama yang berdarah. Perang serupa pernah juga ia alami. Yang pasti ia tertarik pada akustik dan hukum-hukum penjalaran gelombang suara. Di kamar itu juga ditemukan sejumlah prisma segitiga yang memungkinkan dekomposisi cahaya, yang jelas membiaskan minat KP pada sifat-sifat geometris cahaya dan citra-citra visual. Sejauh manakah orang yang siang malam menenteng buku fisika dan matematika ini bergulat dengan ide penjalaran gelombang cahaya? Di sekitar tahun itu juga, di belahan bumi yang lain, Fransisco Maria Grimaldi, seorang fisikawan Italia, oleh sejarah sains Eropa dicatat menemukan hukum difraksi optis dan menegaskan ide spekulatif gelombang cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang belajar yang luas itu, Sang Perdana Menteri menerima sejumlah tamu asing, bercakap dan berdebat dalam bahasa sang tamu. Pastor Alexander de Rhodes yang mencipta transkripsi huruf Latin untuk bahasa Vietnam, adalah salah satu di antaranya. Bersama misionaris katolik Jesuit itu, KP mendiskusikan banyak hal, dari gerhana bulan hingga ke karya bruder Spanyol ordo Dominikan, Luis de Granada. Sebagai misionaris saleh, bapa pastor Belanda tentu saja mencoba segala daya mengkristenkan KP.  Pertemuan itu memang berlanjut beberapa kali dan berakhir dengan persahabatan dan kepergian bapa misionaris membawa catatan penuh pujian yang akan dikabarkannya ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pastor de Rhodes-lah antara lain diketahui betapa besar minat KP pada agama, sejarah dan peradaban Eropa, betapa kaya perpustakaannya yang dipenuhi buku dan radas ilmiah. Minat yang nyaris tak terbatas pada semua ilmu yang diketahui saat itu, khususnya Agama dan Ilmu Alam, menunjukkan sesuatu yang melampaui rasa ingin tahu teoritis. Dua yang terakhir itu adalah pengetahuan paling ambisius yang ditemukan manusia: keduanya mengklaim semesta raya seisinya sebagai subyeknya dan percaya bahwa ada penjelasan terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam ruang dan waktu semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aneh adalah bahwa dalam catatan itu tak disebut adanya buku-buku sastra di ruang KP itu. Mungkinkah karena ia memang kurang mencintai seni?  Ataukah karena para pengabar kecendekiawanan KP, umumnya pedagang dan misionaris, dua jenis manusia yang dalam bentuknya yang karikatural suka memandang curiga pada imajinasi dan seni? Kita ingat Meneer Droogstoppel, karakter ciptaan Multatuli dalam Max Havelaar: pedagang sukses ini mencemooh puisi dan roman, dan menganggap teater sebagai dusta. Kita ingat rahib buta Jorge, tokoh karya Umberto Eco dalam The Name of The Rose: penunggu perpustakaan biara itu mengutuk lelucon dan imajinasi atas nama iman yang tak terbantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, seluruh buku Luis de Granada, dalam bahasa Spanyol, ada di perpustakaan itu. Saya bayangkan karya penyair Jazirah Iberia dan sastrawan Eropa lainnya, para pemimpi yang memberi isi pada kata Renaissance,  juga ada di sana. Mungkinkah di antaranya terselip Dante, Luis Vaz de Camões, Rabelais, Shakespeare atau Miguel de Cervantes? Jika ia membaca Don Quijote dan Sancho Panza, apa gerangan reaksinya? Sukakah ia pada karya yang dianggap sebagai novel moderen pertama dalam sejarah sastra dunia ini? Apa jawabnya atas distingsi Cervantes antara kebenaran puitis dan kebenaran historis; atas pembedaan Don Quijote antara kehidupan satria dan kehidupan cendekiawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bayangkan, sejak detik pertama masuknya bola dunia di perpustakaan itu hingga separuh tenggelamnya matahari di Selat Makassar,  KP terus mendekam di ruang itu. Ia mengasyikkan diri memutar-mutar bola tembaga tersebut, membandingkannya dengan atlas Blaeu dan dengan pengalamannya sendiri, mencocokkan peta  dengan teritori. Awalnya ia mencermati letak Sombaopu di antara dua kutub,  lalu menandai segenap wilayah kesultanan Gowa dengan hegemoni yang paling berpengaruh antara Jawa dan Luzon. Kemudian ia mencari letak kota-kota yang pernah didengarnya, kota-kota yang puluhan tahun sudah hidup di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menelusuri kota-kota tersebut, bergerak dari samudera ke samudera, dari benua ke benua, ia teringat bagaimana dulu sejumlah Belanda datang menghadap. Mereka tak habis mengerti kenyataan ini: di Jepang, di bawah dinasti Ieyasu Tokugawa, merekalah satu-satunya bangsa Eropa yang boleh ada di negeri Matahari Terbit yang justeru sedang menutup diri ke dunia; di Gowa, merekalah satu-satunya bangsa Eropa yang tak boleh punya kantor di seluruh wilayah kesultanan yang justeru membuka diri ke dunia. Dengan sopan utusan gubernur jenderal itu memohon ijin membangun kantor dagang. Untuk menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa istimewa Eropa, Belanda-belanda itu membeberkan betapa lemahnya Spanyol yang mereka kalahkan dalam Perang 80 tahun, dan betapa kejinya Inggeris yang memenggal rajanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KP lalu mencermati London dan membayangkan parlemen, disokong Oliver Cromwell, akhirnya memancung Charles I. Ia terkenang pada Raja Gowa XIII &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karaeng Tunipasulu’&lt;/span&gt;. Naik tahta pada usia 15, dengan semaunya ia memecat pembesar-pembesar Gowa, merusak kemerdekaan federasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bate Salapanga&lt;/span&gt; dan membunuh orang-orang yang tak disenanginya. Gelaran lain baginda adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I Pakere’ Tau&lt;/span&gt; (Sang pemotong manusia). Baginda memerintah dengan cara memalukan, seakan lupa bahwa seorang leluhurnya, Raja Gowa VIII &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tujallo ri Passukki&lt;/span&gt;, tewas ditikam dalam amukan seorang hambanya. Sang Hamba mengeksekusi rajanya setelah baginda sial itu tuntas menitahkan hinaan memalukan yang tak tertanggungkan. Menganggap cukup sepak terjang sewenang-wenang raja, rakyat dan dewan adat bergerak. Mereka memecat dan memakzulkan si Pemotong Manusia yang cuma bisa bertahta 3 tahun, dan membuangnya keluar kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mengunjungi kota-kota besar dunia, menebak pengetahuan penduduk benua-benua yang baru ditemukan, dan memastikan letak Westphalia tempat diakhirinya Perang 80 tahun yang melibatkan hampir seluruh Eropa, untuk kesekian kali ia disergap oleh sekaligus ekstasi dan agoni pengetahuan. Titik-titik bola dunia itu mengantarnya pada sebuah revelasi yang belum pernah ia alami. Kepingan-kepingan pengetahuan yang ditimbunnya bertahun-tahun, informasi-informasi yang dulu tampak tak saling berhubungan dan menolak disatukan, kini semuanya berubah. Segala macam informasi itu, bahkan yang sudah terlupakan dan tenggelam ke bawah sadar, bangkit berputar-putar bagai angin beliung yang kemudian mengorganisasikan diri menjadi sebuah dunia, sebuah semesta baru pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di matanya, permukaan bola dunia itu tak lagi beku. Sejumlah titik api muncul di sana, membara dan mengecil. Batas-batas berubah, meluas dan menyusut. Dengan permukaan yang terus berdenyut dan bergerak cepat, seakan saling menjalin saling memangsa, bola dunia itu menjadi hidup merepresentasikan apa yang kelak dikenal sebagai Sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KP merasakan tubuhnya membesar. Kepalanya melembung menyedot seluruh bola dunia itu masuk ke dalamnya, bersatu dengan dirinya, memberinya rasa nikmat yang tak terlukiskan. Ekstase pengetahuan ini berlangsung beberapa detik, untuk kemudian diganti dengan perasaan longsor yang menakutkan. Dalam sekilas, KP dan bola dunia itu kembali terpisah. Kini ia yang merasa dirinya mengecil, sangat kecil, dan tersedot masuk sebagai sebuah bintik sepele di permukaan bola dunia tersebut. Ia debu tanpa arti dari jagat yang terus berputar dan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia paham betapa mininya negerinya, betapa tak berartinya Celebes. Ia tahu nenek moyang Makassar telah menjelajah jauh sampai ke Campa, Pantai Marege dan Madagaskar. Tapi itu belum berarti banyak dibanding penjelajahan Portugis, Spanyol, Belanda atau Inggeris. Merekalah yang membuktikan dunia ini bulat. Merekalah yang meyusun cermat peta-peta dunia dan membikin bola dunia raksasa. Saya bayangkan KP makin melihat secara berbeda negeri-negeri lain. Di benaknya terbentang antara lain sebuah gambaran mental yang sebelumnya telah dilihat Vondel. Vondel yang nasionalis melihat Amsterdam sebagai sumbu dunia: gudang-gudang besar sepanjang dermaga kota yang ditumpuki rempah-rempah dan kain cita dari Timur, berbagai kargo ikan dan paus dari Laut Utara dan Baltik, gula dari Hindia Barat serta tembakau dari Virginia dan Maryland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KP tahu bahwa seluruh kota besar di dunia semuanya adalah sumbu dunia, kecuali Sombaopu. Pemahaman ini memberinya rasa perih yang bertahan lebih lama dari rasa nikmat yang tadi. Penyesalan mulai tumbuh pada usianya yang berangkat senja. Ia mungkin ingin juga berlayar mengelilingi Bumi, menyedot langsung pengetahuan dunia dari sumbernya. Ia tahu dari pedagang Eropa bahwa Colombus menemu Amerika pada 1492, bahwa Magellan bertolak keliling dunia pada 1519, disusul Francis Drake pada 1577. Yang pasti, ia ingin agar Sombaopu juga jadi sumbu jagat dan tak tenggelam oleh gelombang besar yang datang bersusulan dari luar, yang demi rempah-rempah bersedia saling menghancurkan dan mengorbankan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa perih, sesal dan cemas yang bercampur-aduk itu tak banyak surut oleh ingatan pada naskah keahlian membuat meriam yang ditulis dalam bahasa Spanyol konon oleh Andreas Monyona. Naskah itu sudah diringkas dalam bahasa Makassar sejak 1635 dan kini, atas perintahnya, sedang dalam perampungan penerjemahan lengkap. Di masa dialah memang, tercatat memuncaknya kegiatan penerjemahan serangkaian risalah teknologi Eropa ke bahasa Nusantara. Tak ada negeri lain di wilayah yang kini bernama Indonesia yang melakukan penerjemahan sesistematis itu. Naskah-naskah pembuatan meriam, pabrikasi bubuk mesiu dan senjata diterjemahkan dari bahasa Spanyol, Portugis dan Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tahu, untuk tumbuh dan berkembang menjangkau dunia dibutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar meriam dan benteng. Itulah kengototan untuk menjelajah, kerakusan pada pengetahuan-pengetahuan baru, ketakpuasan pada apa yang sudah dicapai, yang semuanya harus ditumbuhkan dan disebarluaskan. Ia memang terus memerintahkan Bugis-Makassar membangun keterampilan menggandakan dan membuat peta-peta serta jalur-jalur penjelajahan maritim, sebuah keterampilan yang juga unik di Nusantara. Tapi keterampilan kartografis serta teknologi militer dan transportasi laut yang sangat unggul itu, tak cukup menggerakkan Sulawesi menjelajah sampai ke kutub; melumpuhkan Belanda sampai ke Amsterdam dan membentangkan sendiri imperium yang melintasi benua untuk menjinakkan ekspansi imperium lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena segala hal yang mereka perlukan untuk hidup nyaman menurut sangkaan mereka ada semua di negeri ini. Maluku yang jadi obsesi ribuan tahun Eropa ada di samping, sementara mereka tidak merasa perlu berlayar menyelamatkan sukma belahan dunia lain. Seperti semua tempat di seluruh kawasan yang dekat equator, Makassar saat itu adalah juga firdaus: tanah-tanah yang demikian indah yang membuat upaya membayangkan sebuah surga yang lain menjadi suatu kemustahilan kognitif. Penduduk asli tanah-tanah itu hidup dengan dengan lazuardi yang belum dilintasi sejarah dan samudera yang belum terseret sorga. Para pendatanglah yang memperkenalkan mereka dengan konsep dan detail asing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berabad-abad masyarakat dengan masa silam pendek ini, hidup dalam kekinian yang kekal, mencintai tubuh, sawah dan lautnya yang membentang, dan hanya punya pemahaman tegas tentang kehormatan (siri’) dan konsep samar dunia orang mati. Teknologi militer memang bisa dipelajari cepat, tapi butuh waktu lama dan sejarah yang keras untuk belajar merawat rasa hormat pada masa lampau seraya membangun ambisi dengan rencana-rencana agung ke masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bayangkan KP merenungkan orang-orang yang bersedia menghambur memburu totalitas dan tak gentar membawa segala hal ke ujung yang ekstrim, yang tak ragu menyeret seluruh dunia dalam kancah perang ide-ide, yang menumbuhkan dalam dirinya hasrat dan kesadaran imperial untuk dibentangkan tidak cuma dalam ruang tapi juga dalam waktu. Mungkinkah ia teringat sebuah legenda Jerman yang diceritakan orang Inggeris tentang seorang doktor yang bersedia menukar jiwanya kepada Iblis demi mendapatkan kekuasaan pengetahuan yang memungkinkannya menghasilkan karya-karya yang memuaskan sukma selama 1000 tahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya azan magrib yang menarik KP kembali ke Makassar. Usai menunaikan Isya ia membawa pelita ke menara Maccini Somabala (observasi layar). Bulan di atas Sombaopu adalah benda langit yang selalu diminatinya. Sejak kanak-kanak ia memang sering mengamatinya dengan mata telanjang. Kebutuhan menghitung hari-hari penting Islam dan mencatat peristiwa penting kerajaan dalam kronik lontara yang tak ada tandingannya di Nusantara, membuatnya kian akrab dengan benda itu. Tapi mata telanjang bukanlah tandingan teleskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun setelah kedatangan bola dunia, tibalah di Makassar sebuah radas ilmiah yang mengubah sejarah astronomi dunia: teleskop prospektif Galileo. Itu adalah hasil dari upaya KP pada tahun 1635 meyakinkan raja sebelumnya, untuk membuat kesultanan Gowa memiliki teleskop terbaik yang bisa dibeli dengan uang. Gowa perlu mendekatkan jarak langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bayangkan di lensa pengintip itu, mata KP menjelajahi bulan yang awalnya dilakukannya dengan setengah berdebar. Ia mencari lagi di permukaan itu jejak-jejak Tumanurunga ri Tamalate, bidadari yang konon diturunkan dari khayangan dan menjadi cikal-bakal kerajaan Gowa. Seperti diduganya, jejak itu tak ia temukan. Ia lalu memusatkan diri pada penampakan fisik bulan yang menyedot perhatiannya cukup lama. Tergerakkah ia menggambar secara tepat permukaan bulan? Di Jerman, Johannes Hevalius oleh sejarah sains Eropa dicatat mulai membuat peta-peta akurat permukaan bulan di sekitar tahun KP mengarahkan teleskopnya ke lazuardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir pasti KP tergerak menyusun peta lunar. Itu membuatnya mengamati bulan lebih intens. Tiba-tiba ia teringat kembali pada sebuah bulan lain sekian tahun yang silam, sebuah purnama yang bersinar di atas Bone. Di Oktober 1643 itu, KP sedang memimpin balatentara Makassar sebanyak 40.000 parajurit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;220-an tahun sebelum Abraham Lincoln mencantolkan isu abolisi perbudakan dalam Perang Saudara Amerika Serikat, Raja Bone XIII &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Ma’daremmeng Sultan Muhammad Saleh&lt;/span&gt; sudah mengobarkan perang pembebasan budak yang barangkali kasus pertama di Asia Timur dan Tenggara. Dulu, Ayahanda KP, Karaeng Matoaya Sultan Abdullah Awalul Islam Tumenanga ri Agamanna, mendatangi Bone beserta seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan dan mengajaknya masuk Islam. Alasannya adalah bahwa agama dan sistem nilai lama tak akan cukup memadai menopang kerajaan-kerajaan tersebut menghadapi perubahan-perubahan besar yang datang menderu dari luar. Begitu La Ma’daremmeng naik tahta, ia bergerak lebih jauh dari Matoaya dan menginginkan ajaran Nabi dilaksanakan setuntasnya. Meski sangat vital bagi kehidupan sosial ekonomi kerajaan, perbudakan harus dihapuskan. Negeri-negeri jazirah selatan Sulawesi yang masih mempertahankan perbudakan, harus diperangi, termasuk Gowa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Gowa ragu menghadapi sepak terjang Bone yang sangat keras, kendati sejumlah bangsawan pelarian Bugis telah mendesak Sombaopu mengambil tindakan. Di antara para pelarian itu, adalah We Tenrisoloreng Datu Pattiro, ibunda La Ma’daremmeng, yang terpaksa hijrah sebagai bentuk penentangan atas aturan tanpa kompromi anandanya. KP kemudian mengirim utusan untuk memperoleh kepastian apakah  aturan keras penghapusan budak itu memang mengikuti seruan Nabi, ataukah sekedar keputusan La Ma’daremmeng pribadi. Kegagalan Bone menjawab hal ini, membuat KP berangkat memimpin pasukan besar yang terbentuk dari gabungan balatentara Gowa, Wajo, Soppeng dan Sidenreng. Dan setelah sekian ratus malam yang penuh cahaya, setelah sejumlah pertempuran ganas yang melelahkan, pasukan besar itu akhirnya menaklukkan Bone dan menawan La ma’daremmeng, sebuah kekalahan besar yang dalam kronik Bone dicatat sebagai awal dari diperhambanya Bone selama 17 tahun. Kelak kesultanan Bugis terbesar itu, dipimpin oleh Arung Palakka Sang Raja Berambut Panjang, memanfaatkan kulminasi perseteruan Gowa dengan Belanda untuk membebaskan diri dari kekuasaan Sombaopu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas mengamati purnama, KP mengarahkan teleskopnya ke bintik-bintik cahaya yang lain. Lensa itu membuatnya kian sadar bahwa langit malam bukanlah sekedar kegelapan raksasa yang diperindah kelap-kelip cahaya. Langit malam adalah kehidupan yang disusun dari perubahan dan keteraturan. Semua benda langit bergerak menggeser letaknya, mengubah susunan dan konstelasinya, dalam keteraturan yang kekal, yang menjadi sahabat sejati lunas phinisi melintasi abad demi abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cahaya di langit sudah dikenal baik para peniti gelombang. Cahaya yang masuk ke dalam teleskop KP, menghadirkan sejumlah kawan baru yang dulu tak bisa dilihatnya tegas dengan mata telanjang. Terlihatkah Io, Europa, Ganymede dan Callisto – bulan-bulan Yupiter yang ditemukan Galileo Galilei 40 tahun sebelumnya? Terlihat jugakah olehnya Konstelasi Cassiopeia yang ditemukan Brahe pada 1572? Bagaimana dengan Nebula Orion atau Neptunus? Sukakah ia pada konstelasi zodiak yang peta langitnya disusun Jodocus Hondius pada 1615?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar benda langit saat itu belum beroleh nama seperti yang dinomenklaturkan kini. Akan dinamai apakah benda-benda yang baru dikenalnya itu? Memberi nama  bukanlah sekedar sebuah tindak taksonomis untuk membedakan sebuah benda dengan yang lainnya sekaligus memberinya tempat dalam tatanan benda-benda. Nama yang disematkan adalah ekstensi dari diri si pemberi nama, sejarah dan kebudayaannya, aspirasi-aspirasinya yang paling dalam, harapan-harapannya yang paling membubung: tindakan esensial pembangunan dunia simbolik yang mengukuhkan posisi pemberi nama di tengah semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian nama selalu bermula dengan pengenalan, dan pengenalan yang mendalam menuntut perhatian panjang. Tetapi data perubahan yang dikumpulkan lewat waktu dan radas ilmiah yang mahal, bisa sekadar menjadi tumpukan tanpa arti. Kekuatannya akan muncul hanya bila ditata oleh dua hal: sistem logika formal yang diekspresikan dalam geometri Euklides dan jalinan hubungan sebab-akibat yang ditegaskan dalam eksperimen sistematik. Metode penggabungan data inderawi dengan logika dan eksperimen ini dirumuskan oleh Bapak Empirisme Francis Bacon di abad yang sama dengan KP, sang makhluk pertama di Asia Tenggara yang memahami makna matematika dalam ilmu-ilmu terapan. Kelak metode penggabungan itu terbukti menjadi jantung kekuatan sains dan teknologi mengubah dunia ke tataran yang sama sekali baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak inginkah KP membagi sensasi intelektual yang merekah lewat pertemuan dan pengenalan antara dirinya dengan benda-benda langit itu? Menilik semangatnya menyebarkan pengetahuan militer dan, sebelum jadi perdana menteri, membujuk Sultan membeli radas ilmiah mahal, bisa disimpulkan: ia ingin. Itu artinya ia harus membangun institusi – mungkin  menjadikan menara Maccini’ Sombala semacam observatorium umum. Segala instrumen ilmiah yang mahal, masih bisa dibeli selama perdagangan bebas tegak di lautan. Dari sini, perlu sejumlah langkah lagi ke institusi semacam Royal Society  London atau Académie des Sciences Paris. Dua organisasi yang ikut jadi kunci supremasi Eropa itu, diresmikan oleh Charles II dan Louis XIV belasan tahun setelah KP menghabiskan malamnya dengan teleskop di Maccini’ Sombala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kali, teleskop KP kembali ke bulan. Benda terbesar di langit malam itu mengingatkannya lagi pada Tumanurunga ri Tamalate. Saya bayangkan ia merenungkan percakapan Tumanurunga dengan raja-raja kecil Bate Salapanga. Itu sebuah kontrak sosial politik yang unik dalam sejarah Nusantara. Sebuah kontrak yang membentuk Gowa-Tallo dari federasi sembilan negeri. Prihatinkah ia pada apa yang terjadi dengan Bate Salapanga? Awalnya lembaga ini adalah lembaga perwakilan rakyat. Tapi perlahan-lahan ia merosot menjadi sekedar perangkat kerajaan. Para anggotanya tak punya wewenang membuat undang-undang dan peraturan. Mereka tak dapat menjalankan pemerintahan di seluruh kerajaan dan harus tunduk menjalankan segala perintah raja. Bahkan belakangan mereka pun tak lagi menjadi badan penasehat. Raja memerintah secara mutlak yang sabdanya merupakan undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpikirkah oleh KP bahwa sebulan setelah kematiannya, sebagai penguasa baru, Sultan Hasanuddin – karena sejumlah pertimbangan, terutama mungkin kemudahan mengeksekusi kebijakan – menetapkan  bahwa dirinya sendirilah yang merangkap perdana menteri? Tindakan itu mengakhiri sebuah aturan quasi-konstitusional pembagian kekuasaan dalam kerajaan kembar Gowa-Tallo, pembagian yang dalam sejarah kelak terbukti sebagai dasar kokoh kebesaran kesultanan maritim itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan tahun setelah sentralisasi kekuasaan dan kematian KP, menara Maccini’ Sombala dan kompleks istana Sombaopu akhirnya memang jatuh ke tangan balatentara sekutu Belanda, Bone, Buton dan Ternate. Bahkan ketika KP masih hidup, konstelasi dan dinamika ekonomi politik Nusantara yang antara lain memarakkan penyelundupan dan strategi harga selektif oleh para pedagang lokal yang menampik monopoli VOC, membuat Sombaopu menjadi kota di mana harga rempah-rempah menjadi paling murah di dunia, lebih murah dibanding di Maluku sendiri. Karena larangan berdagang di Sombaopu, Belanda harus mendapatkan komoditas vital ini di tempat lain dengan harga yang lebih mahal. Ini membuat segenap upaya besar puluhan tahun Belanda menaklukkan Tanjung Harapan, Srilangka, Malaka dan Batavia untuk menguasai jalur rempah-rempah, menjadi kesia-siaan yang memalukan. Bangsa-bangsa lain, termasuk musuh-musuh tradisional Belanda di Eropa, tak perlu mengorbankan habis armada dan prajurit untuk mendapatkan rempah-rempah dan komoditas penting lain yang lebih murah di Sombaopu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita percaya bahwa rempah-rempahlah yang menggerakkan gelombang besar penemuan benua-benua baru yang kelak mengeras menjadi imperialisme dan kolonialisme itu, maka dengan ringkas bisa dibilang bahwa persis di depan gelombang besar inilah Makassar membentangkan dadanya. Di pertengahan abad ke 17 itu, bukan Eropa sang penakluk dunia, juga bukan Maluku pulau rempah-rempah, melainkan Gowa yang pada akhirnya menentukan harga rempah-rempah di Bumi. Upaya akbar berabad-abad dan penuh darah untuk menguasai jalur maritim dunia, menjadi tak ada artinya selama Makassar dan benteng istana Sombaopu masih menegakkan supremasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benteng istana paling perkasa yang pernah dibangun di Nusantara itu, hanya dapat direbut adidaya dunia abad 17 dengan sekutunya melalui pertempuran teramat berat yang oleh prajurit-prajurit senior Belanda, sebagian di antaranya veteran Perang 80 Tahun yang dahsyat itu, digambarkan sebagai pertempuran yang bahkan tak pernah terjadi di sejarah Eropa sendiri. Bersama ratusan pucuk meriam – yang  pembuatannya dimungkinkan oleh kengototan KP – di  antaranya  Anak Makassar, konon meriam terbesar yang pernah dibikin di Nusantara, Gowa beberapa kali nyaris menumpas Sekutu. Antara lain akibat sekian pengkhianatan dari dalam, Makassar akhirnya hanya bisa mempersembahkan pada Belanda dan sekutunya sebuah perang yang paling brutal dan paling dahsyat yang pernah dilakukan VOC di dunia sejak didirikan. Para panglima Makassar yang belum puas dengan persembahan itu dan tak menerima sikap takluk istana, Seperti Karaeng Galesong dan Karaeng Bonto Marannu, menyebar keluar melanjutkan perang di laut dan daratan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 tahun setelah wafatnya KP yang dimakamkan di Bonto Biraeng, terbit Atlas Maior Joan Blaeu. Dengan 600 halaman rangkap peta dan 3000 halaman naskah, karya ini menjadi pencapaian kartografis-artistik yang sampai kini tak tertandingi. Pada bagian Peta Dunia, terlihat dua sosok besar (gbr.1). Di hemisfer Barat tampaknya nabi kartografi dunia modern awal: Mercator. Di langit Timur, di atas Asia, tampak KP tengah menetapkan jarak Celebes dari Kutub Utara. Dua pemikir yang dengan caranya sendiri menyusun dunia, kini bekerja di langit,  di antara dewa-dewi mitologis Yunani Purba, di antara planet-planet Tatasurya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Pustaka:&lt;br /&gt;- Anthony Reid, Charting The Shape Of Early Modern Southeast Asia (Chiang Mai: Silkworm Books, 1999)&lt;br /&gt;- Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jakarta: Gramedia, 1996)&lt;br /&gt;- Sagimun MD, Sultan Hasanuddin (Jakarta: Balai Pustaka, 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115629510187733396?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115629510187733396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115629510187733396' title='38 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115629510187733396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115629510187733396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/08/bumi-langit-karaeng-pattingalloang.html' title='Bumi Langit Karaeng Pattingalloang'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>38</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115537763123669339</id><published>2006-08-12T18:01:00.000+08:00</published><updated>2006-08-27T18:03:33.933+08:00</updated><title type='text'>LAPIS WAKTU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/1600/120178.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3799/2825/200/120178.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;PENGANTAR BUKU "MANUSIA BUGIS"&lt;br /&gt;oleh :  Nirwan  Ahmad Arsuka&lt;br /&gt;email : ewa001@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;etiap kali membaca buku sejarah dan kebudayaan yang ditulis dengan baik, setiap kali pula kita merasa berhadapan dengan sebentang peta yang digambar dengan apik. Yang ditemui di dalam karya itu memang bukan melulu lembaran peta ruang dengan bidang, jarak, koordinat, dan nama-nama tempat. Yang dihadapi di sana lebih merupakan peta waktu yang bergerak menjawab—sekaligus menciptakan—berbagai perubahan. Dan waktu yang dipetakan di sana adalah waktu yang silam, waktu yang dulunya ditakdirkan terkubur hilang dari pengetahuan manusia, atau mungkin tersisa sebagai reruntuhan yang tak lagi utuh, yang dijerat dalam berbagai bentuk fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang waktu yang hilang ini, seorang sastrawan Perancis yang mengarang novel paling kompleks di abad ke-20 yang baru lewat menulis: ”Dan demikian pula dengan masa silam kita. Adalah kerja yang sia-sia untuk merengkuhnya kembali: segala upaya intelek kita niscaya akan berujung gagal. Masa silam lenyap sembunyi di luar telatah pengetahuan, di seberang jangkauan intelek, di dalam obyek-obyek bendawi (dalam sensasi yang akan diruahkan oleh obyek-obyek bendawi itu pada kita) yang keberadaannya tak menilaskan pratanda apa pun. Dan bergantung pada nasib dan peluang buta belaka, dapat tidaknya kita bersua dengan obyek-obyek itu sebelum pada akhirnya kita meninggal.” — Marcel Proust, In Search of Lost Time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memperkecil peran para cendekiawan Eropa lainnya, para cendekiawan Perancis tampaknya memang punya tempat khusus dalam gagasan tentang pemetaan waktu. Di simpang abad ke-19 dan ke-20, Marcel Proust dan Henri Bergson menggarap waktu yang berdenyut di dalam diri manusia, sementara Henri Poincare menggarap waktu kosmis yang dalam beberapa hal mendahului Albert Einstein. Di antara waktu kosmis dan waktu personal itu, ada waktu sosial—waktu sejarah. Di paruh pertama abad ke-20 sekumpulan ilmuwan Perancis yang kelak disebut sebagai ”Mazhab Annales” membentuk pendekatan baru dan revolusioner atas waktu sejarah. Dipelopori oleh Lucien Febvre dan Marc Bloch, dan dikukuhkan lebih jauh antara lain oleh Fernand Braudel, berkembanglah pendekatan interdisipliner atas sejarah yang dikenal sebagai Total History. Di Indonesia pendekatan ini jelas terlihat pada karya-karya keilmuan Anthony Reid yang sangat berharga, dan terutama pada tiga jilid karya raksasa Denys Lombard, Le Carrefour Javanais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan terbitnya versi bahasa Indonesia karya raksasa Lombard itu, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jakarta: Gramedia, 1996), terbit pula edisi bahasa Inggris dari karya besar Christian Pelras, The Bugis (London: Blackwell, 1996). Tampaknya betul bahwa setiap upaya intelektual yang dimatangkan oleh waktu dan tekanan adalah sebutir intan yang amat berharga. Buku Pelras yang ditopang oleh riset lapangan yang luas selama empat puluhan tahun ini adalah salah satu dari intan yang berharga itu. Ia akan melengkapi rangkaian intan yang sudah ada dalam khazanah pengetahuan sejarah kita, baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara. Buku ini menjernihkan beberapa cahaya Manusia Bugis yang berkilau membutakan, sekaligus memperterang sejumlah cahaya lain yang redup oleh informasi yang tak memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski banyak menganggap jazirah selatan Sulawesi sebagai sumber akar dan kampung halamannya, orang-orang Bugis hidup menyebar cukup luas di Asia Tenggara. Jejaknya terlihat di sejumlah tempat di wilayah utara dan barat laut Australia. Manusia Bugis yang jumlahnya sekitar empat juta jiwa itu, sebagaimana dinyatakan dalam buku ini, adalah salah satu di antara masyarakat paling menakjubkan di Asia Tenggara dan Pasifik, dan juga yang paling sedikit diketahui. Salah satu cahaya yang coba dijernihkan buku ini adalah citra mereka yang menyilaukan dalam legenda dan fiksi modern di mana mereka banyak dihadirkan sebagai lalu diidentikkan dengan bajak laut yang menggetarkan dan niagawan budak yang menggiriskan; seakan-akan perompakan di laut lepas sekaligus perdagangan budak belian adalah mata pencarian alamiah dan satu-satunya yang mampu dikerjakan oleh Manusia Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ada, dan banyak, orang Bugis yang hidup meniti buih di samudra luas. Namun, sebagian besar di antara mereka, terutama yang hidup di kampung halamannya, dalam kehidupan nyata memang adalah petani, pekebun, pedagang, dan nelayan pantai. Richard Leaky, pakar ternama asal-usul manusia, tentu akan menandaskan bahwa orang Bugis adalah bagian dari umat manusia yang nenek moyang terdekatnya adalah peramu dan pemburu; dan yang menjadi spesies modern karena membangun kemampuan beradaptasi yang mencengangkan, membangun bahasa, seni, sistem nilai, dan kecakapan teknologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa orang-orang Bugis adalah salah satu masyarakat Asia yang menjadi pemeluk teguh ajaran Islam, sudah ditegaskan oleh cukup banyak kepustakaan. Begitu teguh mereka memeluknya sehingga Islam dijadikan bagian dari jati diri mereka. Di Tanah Bugis orang bahkan bisa membuka sejarah perang pembebasan budak dua setengah abad lebih sebelum perang pembebasan budak meletup jadi perang saudara di Amerika Serikat. Namun, seperti juga dibahas oleh buku ini, masyarakat Bugis yang sangat dalam menyerap Islam itu di banyak wilayah tetap mempertahankan berbagai bentuk peninggalan religio-kultural pra-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, trah bangsawan tradisional Bugis yang selama ratusan tahun menempati lapisan teratas tatanan masyarakat, menandaskan diri sebagai keturunan langsung dari dewa-dewa purba. Namun, trah ningrat penuh warna ini bukanlah despot dengan kekuasaan absolut: mereka memperoleh kekuasaan dengan semacam konsensus sosial yang ditandaskan oleh rakyat yang menawarkan kekuasaan itu kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah Bugis, dan di tanah saudara-saudaranya di Sulawesi Selatan, rakyat memang lebih dahulu ada ketimbang raja. Dan rakyat yang tak puas pada pemerintahan seorang raja bisa bertindak memakzulkan raja tersebut, atau membubarkan diri sebagai rakyat lalu berpindah menyeberangi laut untuk mendirikan komunitas baru yang lebih bermartabat, sambil mungkin tetap membawa cerita tentang tappi’ (pendamping jiwa), tentang kawali dan badik, yang memilih tuannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertautan antara hal-hal yang tampak bertentangan oleh Pelras dianggap sebagai salah satu kekuatan utama masyarakat Bugis. Buku yang bukan sekadar terjemahan tetapi penyempurnaan dari edisi bahasa Inggris ini mengangkat cukup banyak pertautan antara hal-hal yang tampak bertentangan itu. Membaca buku ini, kita pun bisa menyimpulkan bahwa Sulawesi memang istimewa bukan hanya secara geo-ekologis tetapi juga secara sosio-historis. Dari Alfred Russell Wallace kita mendapat penegasan betapa geologi dan ekologi Sulawesi berbeda dari geologi dan ekologi kawasan barat Nusantara yang menjadi bagian Asia, sekaligus juga berbeda dari geologi dan ekosistem kawasan timur Nusantara yang menjadi bagian Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara yang lain, Pelras mencoba menunjukkan bahwa di masa silam masyarakat di Sulawesi, khususnya masyarakat Bugis, menempuh sejarah yang berbeda dari Masyarakat Jawa yang begitu dalam menerima pengaruh India, proses yang oleh Lombard disebut sebagai ”mutasi pertama” dunia Jawa. Ada sejumlah argumen yang diajukan Pelras, tetapi yang paling menarik adalah kenyataan yang oleh Pelras dianggap istimewa, yakni kemampuan masyarakat Bugis membangun kerajaan-kerajaan yang tak berpusat di kota-kota. Kemampuan ini tentu merupakan kontras dari masyarakat Jawa yang kerajaan-kerajaannya berpusat di ibu kota yang ditata menurut sebuah struktur konsentris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menarik dari masyarakat Bugis adalah bahwa sekalipun mereka telah membangun kerajaan-kerajaan yang tidak berpusat di kota-kota, mereka juga membangun sejumlah struktur epistemik yang bisa dikatakan berpusat. Yang paling menonjol di antara semua struktur itu adalah epik mitologis La Galigo. Narasi besar yang berkisar pada apa yang dianggap sebagai genesis manusia dan kerajaan tertua yang dijunjung di Tanah Bugis ini adalah pusat yang dengannya masyarakat Bugis Lama menjangkarkan dan menata diri. Yang tertarik ke dalam gravitasi dan kemudian mengorbit di sekitar epik mitologis La Galigo ini bukan lagi kerajaan-kerajaan Bugis tapi juga beberapa kerajaan dan komunitas lain yang ada di luar semenanjung selatan Sulawesi. Tentu bukan hanya karena fungsi penataan dan pengaturan dunia yang disediakan oleh narasi raksasa La Galigo ini, yang ikut mendorong Pelras menjadikan La Galigo sebagai bahan bagi sebuah rekonstruksi hipotetik prasejarah Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling luas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau belum sebanyak kepustakaan tentang Jawa, kepustakaan tentang Bugis sudah banyak juga yang terbit. Sarjana-sarjana Bumiputera sendiri, seperti HA Mattulada dan Hamid Abdullah untuk menyebut beberapa nama, telah menghasilkan karya intelektual yang cukup penting di bidang ini. Namun, yang menarik dari karya Pelras adalah bahwa buku inilah yang pertama dan yang sejauh ini paling luas mengurai sejarah orang-orang Bugis. Cakupannya terentang dari kurun fajar antropologis sekitar 40.000 tahun yang silam yang darinya kelak memunculkan leluhur masyarakat Bugis, kurun peradaban awal yang sejumlah unsurnya dibingkai dalam siklus La Galigo, hingga ke masa kini—masa masuknya masyarakat Bugis menyongsong fajar alaf ketiga, setelah melebur diri ke dalam satuan sosial politik yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah Pelras yang luas dan telah menyedot hampir 2/3 dari usianya itu seakan mengupas lapis-lapis waktu yang membentuk sejarah dan kehidupan masyarakat Bugis: lapis-lapis waktu yang tanpa kegigihan para ilmuwan seperti Pelras akan benar-benar tertimbun lenyap di luar ranah pengetahuan, di seberang jangkauan jernih intelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proust agaknya betul bahwa tergantung pada unsur nasib dan peluang saja seseorang dapat bersua dengan obyek bendawi dan sensasi yang diruahkan oleh obyek bendawi itu, yang memungkinkan seseorang menemukan dan menghidupkan kembali masa-masa yang sudah silam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal masyarakat Bugis, agaknya unsur kebetulan dan nasib baik—yang bagi sebagian cendekiawan Bugis bahkan terasa nyaris mendekati berkah—itu pula yang membuat mereka mendapatkan seorang Christian Pelras, seorang ilmuwan yang praktis tak punya hubungan kekerabatan apa pun dengan masyarakat Bugis, kecuali sekadar kekerabatan sebagai sesama anggota subspesies Homo sapiens sapiens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah umum diketahui bahwa sejak beberapa dekade yang silam, upaya-upaya intelektual para ilmuwan Barat mengaji negeri-negeri Timur telah mendapat tanggapan kritis bahkan mungkin sinis, dan mereka pun sebagian dicap orientalis yang merupakan perpanjangan tangan nafsu imperial untuk menundukkan Timur. Para ilmuwan Timur pun berupaya memanggul tanggung jawab meneliti dunia mereka sendiri, dan beberapa di antaranya telah menghasilkan karya dengan mutu intelektual yang menonjol. Apa yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan asing di negeri-negeri yang dikajinya, sebagiannya memang berupa penggambaran peta yang tak jarang sangat simplistis dan digunakan untuk membekukan sekaligus menundukkan wilayah itu. Namun harus juga diakui bahwa sejumlah peta sejarah yang dihasilkan oleh para ilmuwan asing itu sungguh lebih halus dan lebih realistis dari kebanyakan peta yang digambar atau diangankan oleh para cendekiawan pribumi sendiri. Peta masa silam Jawa yang disajikan Lombard, dan peta masa silam Bugis yang dihadirkan Pelras, adalah contoh dari peta-peta yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian akhir buku ini Pelras mengangkat pertautan masyarakat Bugis kontemporer ke dunia global mutakhir yang berlangsung relatif tanpa guncangan dan penolakan kultural. Pertautan ke dunia yang sedang tumbuh itu, yang bagi sejumlah besar Bugis bahkan menjadi pilihan satu-satunya untuk tegak sebagai manusia, terdedah jelas dalam pemaparan naiknya lapis pemimpin dan masyarakat baru Bugis yang mengandalkan bukan pendakuan silsilah supramanusiawi. Mereka bangkit (tompo’) antara lain karena keyakinan akan nasib (toto’) yang wajib ditawar dan dibentuk sendiri di tengah segala keperitan, dan penguasaan pengetahuan rasional yang diserap dari berbagai tempat di luar Tanah Bugis, sampai ke belahan bumi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada memang sejumlah anasir dalam kebudayaan Bugis yang membuat perengkuhan atas dunia global mutakhir—yang menaruh hormat pada gagasan tentang universalitas akal yang menuntun dan manusia yang bertindak—menjadi sesuatu yang tampak organik. Pelras misalnya menyajikan bagaimana kebudayaan Bugis menyediakan ruang bagi gender ketiga dan keempat (calabai dan calalai), dan bagaimana perempuan menduduki tempat yang benar-benar sejajar dengan lelaki, dengan hak setara dalam merumuskan kebijakan-kebijakan kerajaan sekaligus bertakhta memerintah kerajaan itu. Dalam sejumlah peristiwa, bahkan di masa ketika abad ke-20 belum menjelang tiba dan Simone de Beauvoir belum mengarang The Second Sex, perempuan telah tampil lebih bernyali dan berotak dari para lelaki, menandaskan keputusan-keputusan penting yang mempertaruhkan masa depan kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetaraan gender dan penyediaan ruang pada gender yang lain itu adalah sebagian dari hal-hal yang membuat tercengang banyak penjelajah Eropa yang pernah singgah di Tanah Bugis. Meski tak terlalu panjang lebar, Pelras menyajikan banyak hal dari tradisi Bugis yang tampak mendahului zamannya, yang beberapa di antaranya juga terdapat di bagian lain di Asia dan Pasifik, dan dengan itu menyangkal sekali lagi banyak gagasan usang tentang Dunia Timur, sekaligus menandaskan adanya kesamaan dan potensi universal umat manusia yang akan berkembang rimbun jika keadaan dibuat memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kelak akan ada orang yang dengan bekal antara lain peta Bugis Pelras berhasil mengangkat sejumlah tempat penting yang telah tertimbun waktu, namun senantiasa disebut dalam puisi epik La Galigo. Kemungkinan lain adalah bahwa sejumlah ilmuwan dan peneliti, dengan bantuan teknologi yang makin halus, akhirnya membuktikan betapa peta yang disusun Pelras ternyata, pada beberapa bagian, memang tak terlalu akurat menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bahkan sejarah kartografi dunia pun dipenuhi oleh sejumlah kekeliruan yang terus-menerus dikoreksi; kekeliruan yang selain telah membantu manusia mengubah dunia di abad-abad yang silam, juga kini dihargai sebagai karya seni yang ikut merekam perkembangan pandangan dunia manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta waktu Bugis Pelras pun, termasuk peta prasejarah yang dengan tegas dan rendah hati dikatakannya sebagai hipotetik itu jelas akan membantu banyak pihak, bukan hanya Manusia Bugis yang terus berupaya membentuk masa depannya sekaligus masa depan tempat-tempat di mana kaki-kaki fisiologis dan imajiner mereka berpijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan para sarjana seperti Lombard, Pelras, dan sederet nama lain, etnologi dan etnografi yang punya akar pada pelukisan kehidupan bangsa-bangsa yang dianggap barbar, berkembang menjadi persembahan yang hangat dan murah hati dari satu bangsa ke bangsa yang lain, sesuatu yang sungguh kian dibutuhkan dalam dunia yang memang tak punya batas yang tak tertembus, namun yang kadang masih ingin disekat dan dibuat kedap oleh batas-batas bikinan manusia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kompas, 4 Februari 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115537763123669339?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115537763123669339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115537763123669339' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115537763123669339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115537763123669339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/08/lapis-waktu.html' title='LAPIS WAKTU'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115449343501421304</id><published>2006-08-02T12:36:00.000+08:00</published><updated>2006-08-02T12:51:09.180+08:00</updated><title type='text'>Lantunan Sayup Sang Massure</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;                  &lt;b&gt;&lt;img src="http://news.indosiar.com/images/horison/a_030318_sastra02.jpg" align="right" height="116" width="200" /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;uku Bugis di Sulawesi Selatan memiliki karya sastra yang telah mendunia, &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;La Galigo&lt;/span&gt;. Ironisnya, naskah kuno yang berisi konsep kehidupan masyarakat Bugis ini tidak begitu dikenal di tanah air. Di kalangan masyarakat Bugis, naskah kuno terpanjang di dunia ini, masih bisa bertahan karena adanya upaya penyebaran isinya secara turun temurun. Baik melalui tradisi tulis maupun lisan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;massure&lt;/span&gt; (baca: masyure) lah yang mampu membacakan sekaligus melantunkan hasil karya sastra ini dengan menggunakan bahasa Bugis kuno. Seorang massure yang berarti pembaca surat, sebetulnya tidak hanya mengambil cerita dari kitab La Galigo, melainkan juga dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Sure Salenang&lt;/span&gt; semacam buku cerita rakyat Suku Bugis .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu bait cerita yang diambil dari kitab La Galigo, yang mengandung makna serta nilai-nilai kesatriaan , tatakrama, kearifan budaya yang diselingi dengan perilaku kehidupan yang romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini keberadaan massure di Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Wajo, yang merupakan mayoritas Suku Bugis bisa dikatakan sudah langka. Tidak banyak orang Bugis yang bisa mengucapkan, memahami dan mengerti bahasa Bugis kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang massure tidak hanya sendirian dalam membacakan surat. Massure selalu didampingi seorang pemain kecapi. Bahkan dalam satu pertunjukan, baik di istana kerajaan maupun acara pernikahan, adakalanya didampingi seorang penterjemah bahasa Bugis kuno, agar para penonton bisa memahami makna surat yang dibacakan massure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini sejak 2 tahun terakhir pertunjukan mulai dimodifikasi. Seorang massure tidak hanya diiringi kecapi, melainkan telah ditambah alat musik lain seperti suling, biola, gandrang dan alat musik petik lain yang disebut mandolin, mirip seperti perahu sebagai lambang kemashuran Suku Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung. Namun demikian, tetap kecapi yang memegang peranan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolaborasi berbagai alat musik dengan massure ini dilakukan semata-mata untuk membuat pertunjukan lebih menarik. Keterbatasan alat musik kecapi yang hanya memiliki dua senar dengan kemampuan satu oktaf, diakui membuat pertunjukan terasa monoton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan berbagai instrumen musik ini adalah upaya yang patut dihargai. Karena bagaimanapun, sebuah karya sastra hanya bisa dinikmati bila dikemas dengan apik. Tentu saja upaya ini pun diiringi harapan munculnya massure generasi baru, sehingga salah satu warisan sastra dunia ini tidak hilang di justru di tanah airnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;sumber : indosiar.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115449343501421304?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115449343501421304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115449343501421304' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115449343501421304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115449343501421304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/08/lantunan-sayup-sang-massure.html' title='Lantunan Sayup Sang Massure'/><author><name>deen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12254506957003167467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_FZrpjohmtC0/Stv1W2jFetI/AAAAAAAAAIw/Fy3gb-TZ9NA/S220/DSC00743.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115389952063312535</id><published>2006-07-26T15:38:00.000+08:00</published><updated>2006-07-26T15:41:28.503+08:00</updated><title type='text'>Suku Bugis di Kalimantan Selatan</title><content type='html'>Pada abad ke-17 datanglah seorang pemimpin suku Bugis menghadap Raja Banjar yang berkedudukan di Kayu Tangi (Martapura) untuk diijinkan mendirikan pemukiman di Pagatan, Tanah Bumbu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Banjar memberikan gelar Kapitan Laut Pulo kepadanya yang kemudian menjadi raja Pagatan. Upacara adat suku Bugis di daerah ini antara lain :&lt;br /&gt;• Mappretassi (memberi makan laut) di Desa Pagatan, kecamatan Kusan Hilir, Tanah Bumbu &lt;br /&gt;• Ma'ceratasi di desa Sarang Tiung &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar suku Bugis tinggal di daerah pesisir timur Kalimantan Selatan yaitu Tanah Bumbu dan Kota Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Bugis di Kalimantan Selatan berjumlah 73.037 jiwa, yang terdistribusi pada beberapa kabupaten dan kota, yaitu :&lt;br /&gt;• 3.066 jiwa di kabupaten Tanah Laut &lt;br /&gt;• 64.093 jiwa di kabupaten Kota Baru (termasuk Tanah Bumbu) &lt;br /&gt;• 828 jiwa di kabupaten Banjar &lt;br /&gt;• 211 jiwa di kabupaten Barito Kuala &lt;br /&gt;• 106 jiwa di kabupaten Tapin &lt;br /&gt;• 68 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Selatan &lt;br /&gt;• 169 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Tengah &lt;br /&gt;• 172 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Utara (termasuk Balangan) &lt;br /&gt;• 516 jiwa di kabupaten Tabalong &lt;br /&gt;• 2.861 jiwa di kota Banjarmasin &lt;br /&gt;• 947 jiwa di kota Banjarbaru &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115389952063312535?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115389952063312535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115389952063312535' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115389952063312535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115389952063312535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/07/suku-bugis-di-kalimantan-selatan.html' title='Suku Bugis di Kalimantan Selatan'/><author><name>noertika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17507891906041214518</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://static.flickr.com/44/139582522_2fe2b0dbbc_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115389744137396463</id><published>2006-07-26T14:58:00.000+08:00</published><updated>2006-08-27T18:06:27.306+08:00</updated><title type='text'>KISAH AWAL KAUM BUGIS DI SABAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh : Nordin Bula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;uku kaum Bugis merupakan salah satu etnik yang terdapat di dalam kelompok ras berbilang bangsa di negeri Sabah. Kebanyakan suku kaum ini telah menetap di pantai Timur Sabah iaitu di daerah Tawau, Semporna, Kunak dan Lahad Datu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari aspek sosial, suku kaum ini lebih terkenal dengan kerabat pangkat diraja (keturunan dara), mementingkan soal status individu dan persaudaraan sesama keluarga. Dari segi perkahwinan,suku kaum ini lebih suka menjalinkan perkahwinan dengan keluarga terdekat dan perceraian pula merupakan hubungan sosial yang amat tidak disukai oleh suku kaum ini kerana ia meruntuhkan hubungan kekeluargaan dan bertentangan dengan nilai-nilai agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai 'Bahasa Ugi' dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil "aksara" Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejarah kedatangan suku kaum Bugis di Sabah (Tawau khususnya) berkaitan dengan sejarah penerokaan Tawau. Adalah dipercayai suku kaum ini telah meninggalkan Kepulauan Sulawesi menuju ke Pulau Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaysia, Kalimantan dan Borneo sejak abad ke-16 lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1840 dijadikan sebagai fakta kukuh untuk menyatakan tempat permulaan penerokaan Tawau oleh suku kaum Bugis. Penempatan awal oleh suku kaum Bugis ini bermula di kawasan yang dikenali sebagai Ranggu. Ini bermakna suku kaum Bugis sudah pun menerokai kawasan Tawau dan menjadikan Ranggu sebagai salah satu destinasi untuk berulang-alik ke Indonesia menjadi pedagang dan membawa masuk pekerja buruh ke ladang-ladang milik kerajaan British ketika itu. Apapun, Ranggu diasaskan oleh nenek Penghulu K.K. Salim di Kampung Sungai Imam, Bombalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian seorang lagi bangsa Bugis dari kerabat diraja Bone bernama Petta Senong menetap di Sungai Imam, Bombalai. Usaha mereka ketika itu adalah sebagai orang upahan kepada Kerajaan Sulu untuk menghapuskan sebanyak mungkin lanun-lanun yang bergerak di perairan Laut Sulu, Borneo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, beberapa kawasan baru terus diterokai oleh suku kaum Bugis dan kawasan yang termasuk dalam tapak pembangunan Bandar Tawau. Antara suku kaum Bugis yang terlibat dalam penerokaan bandar Tawau ialah Puang Ado, Daeng Mappata, Wak Neke, Wak Gempe dan Haji Osman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep siri masiri (malu, menjaga maruah) yang dikaitkan dengan kata-kata suku kaum Bugis antara lainnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;"...aja mumaelo' nabetta taue makkalla  ricappa'na lete'ngnge".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud terjemahannya : Janganlah engkau mahu didahului orang menginjakkan kaki dihujung titian ( Janganlah engkau mahu didahului orang lain untuk mengambil rezeki ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;- "...naia riasengage' to warrani maperengnge narekko moloio roppo-roppo ri laommu, rewekko paimeng sappa laleng molai"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud terjemahannya : Yang disebut orang berani ialah yang kuat dan unggul bertahan, Jikalau engkau menghadapi rintangan berat yang engkau tak dapat lalui atau atasi, kembalilah memikirkan jalan atau cara untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Dipetik dari Kertas Projek Penyelidikan "Penglibatan Politik Suku&lt;br /&gt;Kaum Bugis Satu Kes Kajian di N.46 Merotai, Tawau" oleh Nordin Bula.&lt;br /&gt;(Perpustakaan Wilayah Tawau, Peti Surat 775, 91008 Tawau, No.Tel /Faks : 089-760632)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115389744137396463?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115389744137396463/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115389744137396463' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115389744137396463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115389744137396463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/07/kisah-awal-kaum-bugis-di-sabah.html' title='KISAH AWAL KAUM BUGIS DI SABAH'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115345301471739955</id><published>2006-07-21T11:27:00.000+08:00</published><updated>2006-08-27T18:07:50.280+08:00</updated><title type='text'>Pelaut Makassar</title><content type='html'>Laporan Wartawan &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.tribun-timur.com/"&gt;Tribun Timur&lt;/a&gt;, Yusran Darmawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;D&lt;/span&gt;I pesisir pantai selatan, Rabu (19/7), begitu banyak nelayan yang memandang lautan. Mereka sama-sama duduk terpekur dan menyaksikan ombak yang berdebur secara teratur. Beberapa nelayan membunuh sepi dengan cara merapikan jaring yang sempat terburai. Mereka menyusun ulang secara rapi peralatan di perahunya yang sempit. Mulai dari dayung hingga bola gabus yang berfungsi untuk menahan jaring.&lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt;"Saya sekarang ketakutan kalau melihat laut. Padahal, saya sadar betul kalau laut itu adalah tempat mencari nafkah,"&lt;/span&gt; kata Sirajuddin, salah seorang nelayan sambil terpekur memandang laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirajuddin adalah nelayan yang sudah lama menetap di Cilacap, Jawa Tengah. Ia menjadi nelayan sejak tahun 1965. Meski senior, tsunami beberapa waktu lalu sempat membuatnya khawatir kalau-kalau bencana yang sama akan terjadi lagi. Tubuh Sirajuddin begitu lebam. Ototnya terlihat bertonjolan. Rambutnya memutih hingga jenggot dan kumisnya. Sambil menghisap rokok Marlboro, ia menuturkan kalau ia bukan asli Cilacap namun menjadi perantau di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt;"Saya berasal dari tempat yang sangat jauh dari tanah seberang,"&lt;/span&gt; katanya dengan mimik serius. Dari mana?&lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt;"Saya terlahir dari darah pelaut Makassar,"&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;katanya. Sayang, ia tak paham bahasa Makassar. Ia cuma mengenali beberapa patah kata saja. Ia hanya tahu kalau orangtua serta nenek moyangnya datang mencari ikan di Cilacap dan kemudian memilih untuk menetap di situ.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perlahan, mereka bergabung dengan komunitas nelayan Cilacap dan lebur menjadi satu. Ia menuturkan, komunitas Makassar tetap tinggal di satu kawasan di dekat Kampung Baru, Cilacap. Mereka begitu bangga dengan sejarah nenek moyangnya yang begitu kemilau. Begitu bangga dengan berbagai ritus dan pencapaian nenek moyangnya. Berlayar jauh hingga mencapai Marege (Australia). Menaklukan samudera dengan hanya perahu phinisi bercadik.&lt;br /&gt;Sirajuddin adalah generasi ketiga pelaut Makassar yang sudah beranak-pinak di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah tidak lagi menampilkan ciri Makassar. Namun anehnya, Sirajuddin begitu bangga menjadi pelaut Makassar. &lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt;"Saya selalu bangga kalau menyebut Makassar. Hampir semua nelayan di tanah Jawa ini mengakui kalau orang Makassar begitu jago di lautan," &lt;/span&gt;katanya. Di Cilacap, seluruh nelayan hidup sebagai satu kesatuan yang lebur. Ada kesamaan tutur di antara mereka. Sama-sama berbicara agak keras. Ini sangat kontras dengan kehidupan warga Cilacap yang berbahasa Jawa agak halus seperti halnya Yogyakarta. Nelayan Cilacap berasal dari berbagai etnis. Meski masih didominasi etnis Jawa, namun di situ juga ada berbagai etnis mulai dari Madura, Mandar, dan Makassar. Meski demikian, semua nelayan itu sama khawatir kalau diajak berbicara tentang tsunami. Tak terkecuali Siradjuddin. Mereka sama khawatir dan memilih untuk berhenti melaut untuk sementara. Mereka hanya memarkir perahunya di pesisir pantai sejak didera kekhawatiran akan terjadi tsunami lagi. Perahu yang terparkir itu berjumlah banyak. Semua perahu terlihat berwarna-warni. Panjang perahu itu sekitar empat meter. Di semua perahu itu juga terpasang sebuah bendera yang melambai-lambai ketika ditiup semilir angin. Di antara perahu itu, ada beberapa perahu yang terlihat porak-poranda. &lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt;"Perahu itu rusak akibat diangkat gelombang tsunami. Tinggi air di pantai ini naik hingga tiga meter,"&lt;/span&gt; kata seorang nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berita gempa kembali menggoyang Pangandaran, sontak mereka panik. Ada aura ketakutan yang terpancar dari wajah mereka. Seakan-akan mereka baru saja melalui bencana besar. Mereka lalu terdiam dan kembali menatap lautan. Mereka tak begitu khawatir karena mengingat di depan pantai Cilacap terbentang Pulau Nusakambangan. Pulau ini menjadi penghalang dari ombak besar yang datang dari arah timur. Hampir semua warga Cilacap merasa bersyukur dengan keberadaan Nusakambangan. Pulau itu tidak sekedar menjadi tempat penjara untuk narapidana kelas kakap di negeri ini. Pulau itu juga bisa menyelamatkan mereka. Meski riang karena ada Pulau Nusakambangan, nelayan itu tetap tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Mereka tahu betul betapa seluruh harga kebutuhan hidup melonjak tinggi. Namun, mereka tak bisa melaut karena khawatir akan keselamatannya. Bagi Sirajuddin, penghasilan dari melaut tak pernah jelas. Kadang ia mendapat tangkapan ikan dan dijual hingga Rp 300 ribu. Kadang tidak sama sekali. Namun, ia merasa tak punya keahlian lain selain dari pekerjaan itu&lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt;"Saya tak tahu bagaimana menghadapi hari pada minggu mendatang. Pergi melaut dalam keadaan normal saja, belum tentu dapat hasil. Apalagi kalau tidak sama sekali,"&lt;/span&gt; katanya masygul.  Lantas, apa tidak ada keinginan untuk balik Makassar? &lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt;"Tidak sama sekali. Saya memang Makassar. Tapi saya juga Cilacap,"&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;katanya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115345301471739955?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115345301471739955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115345301471739955' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115345301471739955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115345301471739955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/07/pelaut-makassar.html' title='Pelaut Makassar'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115295567012027399</id><published>2006-07-15T17:20:00.000+08:00</published><updated>2006-08-27T18:16:19.886+08:00</updated><title type='text'>Syeikh Yusuf Al-Maqassari</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;KOMPAS Rabu, 27 April 2005&lt;br /&gt;oleh: H Rosihan Anwar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;OROTAN mata tajam, alis hitam, bibir gairah, jenggot lebat, berpakaian gamis, bersorban putih, itulah Syeikh Yusuf asal Goa, Sulawesi Selatan, yang pada abad ke-17 menyemaikan Islam di Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM berkas yang saya terima di seminar "Perbudakan dan Buangan Politik" di Cape Town, 23 Maret 2005, saya temukan potret Syeikh Yusuf. Tidak jelas pelukisnya. Tidak pasti otentiknya. Betulkah begitu wajahnya? Siapa takut? Bagaimanapun, ini adalah insan hebat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Syeikh Yusuf mulai saya kenal di masa sekolah menengah zaman kolonial dari buku-buku ilmuwan Belanda seperti Cense, Drewes, De Graaf, dan Noorduyn. Di seminar tadi Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Dr Nabilah Lubis juga dari UIN Jakarta menyajikan makalah mengenai peran Syeikh Yusuf di Indonesia dan Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Yusuf lahir tahun 1626 di Goa, Sulawesi Selatan. Ayahnya, Abdullah, bukan bangsawan, tetapi ibunya, Aminah, keluarga Sultan Ala al-Din. Dia dididik menurut tradisi Islam, diajari bahasa Arab, fikih, tauhid. Pada usia 15 tahun dia belajar di Cikoang pada seorang sufi, ahli tasawuf, mistik, guru agama, dan dai yang berkelana. Saya tahu dari sejarawan Belanda, Van Leur, betapa agama Islam dibawa ke Indonesia pada mulanya oleh pedagang-pedagang Islam yang sekaligus adalah sufi. Kembali dari Cikoang Syeikh Yusuf menikah dengan seorang putri Sultan Goa, lalu pada usia 18 tahun dia naik haji ke Mekkah sekalian memperdalam studi tentang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di Makassar dia naik sebuah kapal Melayu dan berlayar menuju Banten yang merupakan pusat Islam penting di Nusantara. Di sana diabersahabat dengan putra mahkota yang kelak memerintah sebagai Sultan Ageng Tirtayasa (1651-83), penguasa agung terakhir dari Kesultanan Banten, juga kerajaan terakhir dari Nusantara yang dengan kapal-kapalnya melaksanakan perdagangan jarak jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti rute perdagangan antar-Nusantara zaman itu Syeikh Yusuf melanjutkan perjalanan ke Aceh, lalu ke Gujarat, India, tempat dia bertemu dengan Sufi Nuruddin Ar-Raniri, penasihat sultan perempuan Safyatuddin dari Aceh, kemudian ke Yaman, akhirnya ke Mekkah dan Madinah, bahkan sampai ke Damascus (Suriah) dan Istanbul (Turki) yang disebut dalam tambo-tambo Melayu sebagai "Negeri Rum". Bila dipikir sangat lamanya waktu perjalanan dengan kapal layar atau dengan kafilah unta zaman itu, maka sungguh mengagumkan kekuatan fisik dan mental Syeikh Yusuf untuk berkelana sambil belajar tasawuf bertahun-tahun dalam tradisi seorang sufi. Sungguh menyenangkan di Mekkah dia memperoleh ijazah dari tarekat (mystical order) Khalwatiyyah, diakui sebagai ilmuwan Islam yang berwibawa, dipandang sebagai guru agama oleh orang-orang Melayu-Indonesia yang datang naik haji ke tanah Haramyn. Dia menikah dengan putri Imam Shafi'i di Mekkah yang meninggal dunia waktu melahirkan bayi. Sebelum pulang ke Indonesia, dia kawin lagi dengan seorang perempuan asal Sulawesi di Jeddah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH Yusuf tidak kembali ke Goa di mana agama sudah dilecehkan, orang berjudi, mengadu ayam, meminum arak, menghidupkan lagi animisme tanpa ditindak secara tuntas oleh Sultan. Alih-alih dia menetap di Banten dan menjadi penasihat agama utama Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan ini sangat anti-VOC Belanda. Ia berselisih dengan putranya yang dikenal sebagai Sultan Haji. Timbul perang saudara, Sultan Haji minta bantuan VOC yang mengirim tentara Kompeni untuk menangkap Sultan Ageng dan menyekapnya di Batavia di mana dia meninggal tahun 1692.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Yusuf dengan 4.000 tentara Bugis memihak Sultan Ageng, turut bergerilya dengannya, juga ditangkap oleh Belanda. Pada bulan September 1682, Syeikh Yusuf bersama dua istrinya, beberapa anak, 12 murid, dan sejumlah perempuan pembantu dibuang ke Ceylon, kini Sri&lt;br /&gt;Lanka. Di Sri Lanka dia menulis karya-karya keagamaan dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis. Dia aktif menyusun sebuah jaringan Islam yang luas di kalangan para haji yang singgah di Sri Lanka, di kalangan para penguasa, dan raja-raja di Nusantara. Haji-haji itu membawa&lt;br /&gt;karya-karya Syeikh Yusuf ke Indonesia, dan karena itu bisa dibaca di negeri kita sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat aktivitas Syeikh Yusuf tadi, VOC Belanda khawatir dampaknya dalam bidang agama dan politik di Nusantara. Keadaan bisa bergolak terus. VOC lalu mengambil keputusan memindahkan Syeikh Yusuf ke Kaapstad di Afrika Selatan. Dalam usia 68 tahun, Syeikh Yusuf beserta rombongan pengikutnya terdiri dari 49 orang tiba di Tanjung Harapan tanggal 2 April 1694 dengan menumpang kapal Voetboog. Di tengah perjalanan badai besar menghantam sehingga membuat nakhoda Belanda, Van Beuren, ketakutan kapalnya akan tenggelam, tapi berkat wibawa dan karisma Syeikh Yusuf dia bisa tenang dan selamat sampai di Kaapstad. Akibat pengalaman tersebut, sang kapten memeluk agama Islam dan sampai sekarang keturunannya yang semua Muslim masih ada di Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Yusuf ditempatkan di Zandvliet, desa pertanian di muara Eerste Rivier, dengan tujuan supaya tidak bisa berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang telah datang lebih dahulu. Lokasi itu di Cape Town sekarang dikenal sebagai Macassar. Bersama ke-12 pengikutnya, yang dinamakan imam-imam, Syeikh Yusuf memusatkan kegiatan pada menyebarkan agama Islam di kalangan budak belian dan orang buangan politik, juga di kalangan orang-orang Afrika hitam yang telah dibebaskan dan disebut Vryezwarten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYAMPAIKAN syiar Islam, memelihara dan mempertahankan agama Islam di kalangan golongan Muslim merupakan perhatian dan aktivitas Syeikh Yusuf di Afrika Selatan. Sebagai sufi, dia mengajarkan tarekat Qadiniyyah, Shattariyyah, dan Rifaiyyah di kalangan Muslim Afrika Selatan. Dia meninggal dunia tanggal 22 Mei 1699 dan dimakamkan di Faure, Cape Town. Makamnya terkenal sebagai Karamah yang berarti 'keajaiban, mukjizat'. Sultan Gowa meminta kepada VOC supaya jenazah Syeikh Yusuf dibawa ke Tanah Airnya. Dia tiba di Goa 5 April 1705 dan dimakamkan kembali di Lakiung. Seperti makamnya di Faure, makamnya di Makkasar juga banyak diziarahi orang. Fakta bahwa Syeikh Yusuf memiliki dua makam menimbulkan spekulasi. Sejarawan De Haan percaya Belanda mengirimkan kerangka Syeikh Yusuf ke Makassar dan karena itu makamnya di Faure telah kosong. Di pihak lain, tulis Prof Azyumardi Azra dalam makalahnya, orang-orang Muslim di Cape percaya hanyalah sisa sebuah jari tunggal dari Syeikh Yusuf yang dibawa kembali. Spekulasi ini mungkin ada benarnya mengingat sebuah legenda di Goa mengenai jenazah Syeikh Yusuf yang dimakamkan kembali. Menurut legenda, pada mulanya hanya sejemput abu yang mungkin sisa-sisa jarinya yang dibawa dari Afrika Selatan. Tapi abu itu bertambah terus sampai mengambil bentuk seluruh badan penuh Syeikh Yusuf tatkala tiba di Goa. Dr Nabilah Lubis berkata kepada saya, soalnya adalah apakah yang tiba di Goa, kerangka atau keranda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Yusuf adalah seorang sufi. Pada awal tahun 1960-an ketika membaca soal mistik di Jawa dalam disertasi Dr Schmidt yang diajukan di Universitas Geneva saya mendapat keterangan tasawuf mana yang tidak diterima oleh Islam. Yaitu yang mengandung panteisme, yang menganggap diri sendiri adalah Tuhan, ana'l Haq, itu ditolak. Azyumardi Azra menulis Syeikh Yusuf menolak konsep wahdah al-wujud. Dalam analisis terakhir: man is man and God is God. Karena HAMKA menulis buku Tasawuf Indonesia saya bertanya kepadanya apakah dia sufi, dan pada awal tahun 1960-an Buya menjawab dalam bahasa Minang: Ha indak, ambo ma ngaji-ngaji sajo. HAMKA menyangkal dirinya seorang sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang susah menjelaskan tentang sufi apabila orang tidak menjalankannya dengan bergabung dalam sebuah tarikat yang dipimpin oleh syeikh. Sebagai orang awam, tentu terlebih-lebih saya tidak punya bakat dan persediaan untuk memahami sufi dan ajarannya. Kalangan yang mengetahui berkata sufi-ism adalah sama dengan akhlak yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang berusaha hidup dengan akhlak baik, tidak mengundurkan diri dari masyarakat ramai, tetap aktif dalam urusan dunia, mengindahkan sepenuhnya suruhan dan larangan Tuhan, dia itu sesungguhnya mirip sufi. Bagaimanapun juga, Syeikh Yusuf al-Makassari, Pahlawan Nasional, adalah seorang sufi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115295567012027399?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115295567012027399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115295567012027399' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115295567012027399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115295567012027399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/07/syeikh-yusuf-al-maqassari.html' title='Syeikh Yusuf Al-Maqassari'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115284170334042540</id><published>2006-07-14T09:36:00.000+08:00</published><updated>2006-08-27T18:21:02.573+08:00</updated><title type='text'>Kolom H.Muh. Nur Abdurrahman</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka vs Karaeng Pattingalloang tentang Lima Perkara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;D&lt;/span&gt;i zaman pemerintahan Sultan Malikussaid Raja Gowa dengan gelar anumerta Tummenanga ri Papambatuna, tersebutlah dua orang tokoh sejarah yang terkenal yaitu Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka dan Karaeng Pattingalloang. Syaikh Yusuf adalah tokoh berkaliber internasional, dengan predikat ulama dalam kwalitas sufi, ilmuwan penulis puluhan buku, pejuang yang gigih di mana saja ia berada: di Gowa, di Banten, di Ceylon (Srilangka sekarang) dan di Tanjung Pengharapan, negaranya orang Boer (petani emigran Belanda, sekarang Negara Afrika Selatan). Karaeng Pattingalloang adalah Perdana Menteri kerajaan kembar Gowa-Tallo', negarawan, politikus, ilmuwan, yang publikasi karya ilmiyahnya belumlah ditemukan hingga dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, inilah dialog di antara keduanya dalam Hikayat Tuanta Salamaka menurut versi Gowa, sebagaimana dituturkan oleh Allahu Yarham Haji Ahmad Makkarausu' Amansyah Daeng Ngilau'. Materi dialog itu ada lima perkara: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anynyombaya saukang, appakala'biri' sukkuka gaukang, a'madaka ri bate salapanga, angnginunga ballo' ri ta'bala' tubarania, dan pa'botoranga ri  pasap-pasaraka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maka berkatalah Tuanta Salamaka: "Telah kulihat alamat keruntuhan Butta (negeri) Gowa. Oleh sebab itu, pertama, hentikan dan cegahlah rakyat menyembah berhala (saukang), yang kedua, hentikan menghormati atribut kerajaan (gaukang) secara berlebih-lebihan, yang ketiga, hentikan Bate Salapang bermadat, yang keempat, hentikan pasukan kerajaan minum tuak, dan yang kelima, hentikan perjudian di pasar-pasar." (bahasa aslinya seperti dituturkan Daeng Ngilau di atas itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjawablah Karaeng Pattingalloang:&lt;br /&gt;"Pertama, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;susatongi nipamari anynyombaya saukang,&lt;/span&gt; susahlah menghentikan rakyat menyembah saukang, sebab melalui saukang itulah wibawa raja ditegakkan, yang kedua, sukarlah juga menghentikan penghormatan gaukang, karena di situlah letaknya kemuliaan sang raja, anjoreng minjo kala'biranna sombaya, yang ketiga, tidaklah gampang Bate Salapang menghentikan bermadat, karena jika demikian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;takkuleami nagappa nanawa-nawa kabajikanna pa'rasanganga,&lt;/span&gt; tidak akan timbul gagasan-gagasan baru mengenai konsep pembangunan, yang keempat, kalau pasukan kerajaan dihentikan minum tuak, lalu kedatangan musuh,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; inaimo lanisuro a'jjallo'&lt;/span&gt;, siapalah yang akan dikerahkan membabat musuh, yang kelima, juga tidak mungkin menutup perjudian di pasar-pasar, karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tenamo nantama baratuwa&lt;/span&gt;, tidak ada lagi pajak judi yang masuk dalam perbendaharaan kerajaan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;antekammamo lanibajiki pa'rasanganga,&lt;/span&gt; lalu bagaimana mungkin menggalakkan pembangunan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah dialog selesai, Tuanta Salamaka mengeluarkan pernyataan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Punna tenamo takammana lakupilari butta Gowa,&lt;/span&gt; kalau keputusan kerajaan sudah demikian itu, akan kutinggalkan Butta Gowa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tamangeai nyawaku anciniki sallang sare-sarenna Butta Gowa.&lt;/span&gt; Tak sampai hati saya menyaksikan kelak keruntuhan Butta Gowa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Maddaremmeng, Raja Bone ke-13, menjalankan Syari'at Islam dengan murni dan konsekwen dalam kerajaannya. Sebenarnya La Maddaremmeng ini perlu diangkat dalam sejarah, bahwa ia mendahului gerakan Paderi di Minangkabaw. La Maddaremmeng adalah Pahlawan Islam. Ia memberantas adat kebiasaan yang bertentangan dengan Syari'at Islam, sejalan dengan yang dikemukakan oleh Tuanta Salamaka kepada Karaeng Pattingalloang. Para bangsawan Bone yang tidak setuju dengan kebijaksanaan La Maddaremmeng minta bantuan Kerajaan Gowa, yang mengakibatkan pecah perang Gowa-Bone yang kedua. Bone kalah perang, La Maddaremmeng dan sejumlah rakyatnya ditawan, dikerahkan ke Gowa untuk kerja paksa, membangun benteng pertahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Gowa-Bone ini memang unik dalam sejarah. Pada zaman pemerintahan I Mallikaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka Karaenga Matowaya Sultan Alawddin Awwalu lIslam Tummenanga ri Agamana terjadi perang Gowa-Bone pertama, yang penyebabnya sebaliknya dari perang yang kedua. Yaitu Kerajaan Gowa walaupun tidak memaksakan agama Islam pada Kerajaan Bone yang waktu itu belum Islam, Kerajaan Gowa menghendaki agar Bone menghentikan praktek tradisi yang bertentangan dengan Syari'at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Kerajaan Gowa kehilangan mutiaranya. Tuanta Salamaka akhirnya meninggalkan Kerajaan Gowa, merantau ke Banten. Menuntut ilmu ke Tanah Suci. Bersama-sama dengan mertuanya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan iparnya, Pangeran Purbaya, berperang melawan Belanda di Banten, di Parahyangan, sampai ke Cirebon. Melanjutkan perjuangan sambil menulis buku di pengasingan di Ceylon dan di Tanjung Pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diucapkan Tuanta Salamaka sebagai futurelog terbukti dalam sejarah. Arung Palakka, yang walaupun masa remajanya dibina dan dididik oleh Karaeng Pattingalloang, bangkit melawan kerajaan Gowa untuk memerdekakan Bone, mengakhiri kerja paksa itu. Dan selanjutnya dapat kita baca dalam sejarah bahwa apa yang diramalkan oleh Syaikh Yusuf tentang nasib kerajaan Gowa terbukti dalam satu generasi berikutnya pada zaman pemerintahan I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangngape Sultan Hasanuddin Tummenanga ri Balla' Pangkana, ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Bungaya. Sepeninggal Sultan Hasanuddin pamor Kerajaan Gowa menjadi pudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut berita insya Allah Syaikh Yusuf akan diperingati sepanjang tahun 1994 di Negara Afrika Selatan, yang mendapat dukungan kuat dari Nelson Mandela. Kolom ini ditulis untuk ikut sekelumit menyambut tahun kegiatan memperingati Syaikh Yusuf di rantau jauh itu. Adegan dialog itu menunjukkan perbedaan sikap berpikir antara orang berdzikir kemudian baru berpikir, berhadapan dengan orang yang berpikir saja tanpa berdzikir. Syaikh Yusuf, karena berdzikir, ingat kepada Allah dahulu sebelum berpikir, maka pemikirannya dituntun oleh wahyu. Sedangkan Karaeng Pattingalloang hanya berpikir saja tanpa dituntun wahyu, hanya mengandalkan akalnya belaka. Itulah barangkali latar belakangnya mengapa penulis sejarah di kalangan orang barat sangat memujinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;-- Alladziena yazkuruna Llaha qiyaman wa qu'udan wa 'ala junubihim wa yatafakkaruna fie khalqi ssamawati walardhi, rabbana ma khalaqta hadza bathilan subhanaka faqina 'adzaba nnar (S. Ali&lt;br /&gt;'Imran 3:190). artinya:&lt;br /&gt;-- Yaitu mereka yang dzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, atau duduk, atau berbaring, dan berpikir tentang kejadian (benda-benda) langit dan bumi, kemudian berucap: Ya Maha Pengatur kami, tidaklah Engkau ciptakan semuanya ini dengan percuma, maka peliharalah kami dari azab neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yadzkuruna berdzikir dahulu baru yatafakkaruna berpikir. WaLlahu a'lamu bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Makassar, 5 Desember 1993&lt;br /&gt;   [H.Muh.Nur Abdurrahman]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115284170334042540?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115284170334042540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115284170334042540' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115284170334042540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115284170334042540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/07/kolom-hmuh-nur-abdurrahman.html' title='Kolom H.Muh. Nur Abdurrahman'/><author><name>Buginese</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02665511627712244121</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115277173328108891</id><published>2006-07-13T12:12:00.000+08:00</published><updated>2006-07-14T10:01:25.520+08:00</updated><title type='text'>Kelong (pantun) Makassar tentang Bigami</title><content type='html'>oleh H.Muh. Nur Abdurrahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruai bungung mattinri,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sillembang-lembang jeqneqna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kereang minjo,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nipiraqnyuq namateqne.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sumur berdampingan,&lt;br /&gt;setara air keduanya.&lt;br /&gt;Mana gerangan menyejukkan,&lt;br /&gt;dipakai membasuh muka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allesai pattinriang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keboka leqleng paqjayya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kere nialle,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kere niboli' salasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba dibanding-banding,&lt;br /&gt;yang putih yang hitam manis.&lt;br /&gt;Mana dipilih,&lt;br /&gt;Mana ditinggal pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebimbangan  untuk  memilih salah satu di  antara  dua  calon isteri  yang seimbang terpecahkan dengan melihat  hasil  teknolgi permulaan abad ke-20, seperti dinyatakan oleh kelong yang berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Iyaminjo alle rapang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rimminrona masinaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Se'reji jarung,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;naruwa bannang panjaiq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah itu ibarat,&lt;br /&gt;mesin jahit yang berputar.&lt;br /&gt;Jarum sebatang,&lt;br /&gt;mengayom dua benang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115277173328108891?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115277173328108891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115277173328108891' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115277173328108891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115277173328108891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/07/kelong-pantun-makassar-tentang-bigami.html' title='Kelong (pantun) Makassar tentang Bigami'/><author><name>Buginese</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02665511627712244121</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115267018444958026</id><published>2006-07-12T10:07:00.000+08:00</published><updated>2006-08-27T18:31:24.120+08:00</updated><title type='text'>SUKU DI SULAWESI SELATAN</title><content type='html'>RUMPUN BUGIS = termasuk dalam rumpun Melayu Muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selama ini yang orang tahu dari Sulsel cuma ada empat suku, yaitu  makassar, bugis, mandar dan toraja... ternyata masih banyak yang lain...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU BENTONG&lt;/span&gt; = Suku Bentong tinggal di perbatasan Kabupaten Maros dan Bone, mereka mendiami daerah Bulo-Bulo, bagian dari wilayah Kecamatan Tenete Riaja. Kabupaten Barru, Propinsi Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU BUGIS =&lt;/span&gt; Suku tersebut berpusat di Sulawesi Selatan. Suku ini mendiami sebelas Kabupaten, yaitu Kab. Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Sidenreng-Rappang, Powelai-Mamasa, Luwu, Pare-pare, Barru, Pangkajene, dan Maros.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU CAMPALAGIAN =&lt;/span&gt; Nama lain dari suku ini adalah Tulumpanuae atau Tasing, dan biasa disebut oleh pemerintah suku Mandar. Namun mereka menyebut diri mereka orang Campalagian. Mereka tinggal di sekitar Kabupaten Majene, tepatnya di kota Campalagian dan Kab. Polewali-Mamasa (Polmas) serta di Kabupaten Mamuju sepanjang sungai Mandar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU DURI = &lt;/span&gt;Suku Duri terletak di pedalaman Sulawesi Selatan, mendiami wilayah Kabupaten Enrekang yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kec. Enrekang, Maiwa, Baraka, Anggareja dan Alia, yang berbatasan dengan Tanah Toraja. Mereka menggunakan bahasa dengan dialek khusus yaitu bahasa Duri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU ENREKANG =&lt;/span&gt; Suku Enrekang terletak di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, kurang lebih 259 Km dari kota Ujung Pandang .&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU KONJO PEGUNUNGAN =&lt;/span&gt; Suku ini mendiami hampir seluruh Kabupaten Gowa. Gowa bekas kerajaan yang menjadi obyek wisata, terletak sekitar 30 km dari Ujung Pandang .&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU KONJO PESISIR =&lt;/span&gt; Suku Konjo tinggal di Kabupaten Bulukumbu, kurang lebih 209 km dari kota Ujung Pandang , Propinsi Sulawesi Selatan. Nama lain suku ini adalah Kajang - merupakan perkampungan tradisional khas suku Konjo.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU LUWU =&lt;/span&gt; Suku Luwu tinggal di Kabupaten Luwu dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU MAIWA =&lt;/span&gt; Suku Maiwa merupakan salah satu suku di Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU MAKASAR = &lt;/span&gt;Wilayah suku Makasar berada di Kabupaten Takalar Jeneponto, Bantaeng, Selayar, Maros dan Pakajene. Pada umumnya kehidupan orang Makasar dan orang Bugis berbaur, dengan penduduk terletak di pesisir pantai dan Teluk Bone, serta di sekitar Gunung Lompobatang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU MAMUJU = &lt;/span&gt;Mamuju terletak di tepi pantai timur Sulawesi , terbentang dari arah selatan ke utara. Suku ini dialiri oleh beberapa sungai, seperti Hua, Karamu, Lumu, Budung-Budung.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU MANDAR = &lt;/span&gt;Suku Mandar terletak di Kabupaten Majene, Propinsi Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU TOALA'/PANNEI = &lt;/span&gt;Sumpang Bita adalah obyek wisata gua yang terdapat di Kab. Pangkep, Sulsel. Pada dinding gua Sumpang Bita itu terdapat bekas gambar telapak tangan, dan telapak kaki manusia, perahu, rusa dan babi hutan. Mungkin unsur-unsur ini menunjukkan gaya hidup orang Toala/Pannei zaman dulu. Konon sejak 5000 tahun yang lampau merupakan tempat hidup nenek moyang suku Toala/Pannei.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU ULUMANDA = &lt;/span&gt;Masyarakat Ulumanda berada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Suku ini merupakan salah satu anak suku Bungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-       Konon kabarnya Suku Bentong adalah keturunan putra Raja Bone yang kawin dengan putri Raja Ternate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-       Berbicara tentang Makassar maka adalah identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah kedua etnis ini. (Wikipedia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;H.Muh. Nur Abdurrahman&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115267018444958026?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115267018444958026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115267018444958026' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115267018444958026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115267018444958026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/07/suku-di-sulawesi-selatan.html' title='SUKU DI SULAWESI SELATAN'/><author><name>Buginese</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02665511627712244121</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-115266625918239312</id><published>2006-07-12T08:56:00.000+08:00</published><updated>2006-08-27T18:30:24.023+08:00</updated><title type='text'>SUKU BUGIS</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;AGI Anda yang berasal dari daerah Sulawesi pasti Anda sudah    mengenal Suku Bugis, tetapi bagi Anda yang berasal daerah lain apakah Anda    mengetahui bahwa suku Bugis atau rumpun Bugis itu tidak hanya ada satu suku    melainkan 14 suku rumpun Bugis. Suku-suku tersebut antara lain, Suku Bentong,    Bugis, Campalagian, Duri, Enrekang, Konjo Pagunungan, Konjo Pesisir, Luwu,    Maiwa, Suku Makassar, Mamuju, Mandar, Pannei dan Ulumanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Bentong    terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, dengan populasi 25.000 jiwa, sementara    suku Camaplagian terletak di Propinsi Sulawesi Selatan dengan populasi jiwa    30.000 jiwa, sementara suku Duri masih terletak di propinsi yang sama dengan    populasi sebanyak 475 jiwa. Untuk suku Enrekang, masih di propinsi yang sama    memiliki populasi 50.000 jiwa. Suku Konjo Pegunungan terletak di Propinsi    Sulawesi Selatan, dengan populasi sebanyak 150.000 jiwa, untuk Konjo Pesisir    jumlah populasi sebanyak 125.000 jiwa, sementara suku Luwu, mimiliki populasi    38.000 jiwa suku Maiwa memiliki pupulasi 50.000 jiwa, Suku Makassar memiliki    populasi 2.240.000 jiwa, suku Mamuju berpopulasi 60.000 jiwa, suka Mandar    berpopulasi 250.000 jiwa, suku Pannei berpopulasi 250.000 jiwa, suku Pannei    memiliki 10.000 huwa dab suku Ulumanda memiliki 31.000 populasi,sementara suku    Bugis sendiri yang masih terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, yang memiliki    populasi paling besar yaitu 3.800.000 jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan masyarakat dari    Suku Bugis beragama Islam. Dari aspek budaya, suku bugis memiliki bahasa    sendiri yang dikenal dengan sebutan `Bahasa Ugi`, yang memiliki tulisan huruf    Bugis, yang diucapkan dengan bahasa Bugis sendiri. Huruf ini sudah ada sejak    abad ke-12, ketika melebarnya pengaruh Hindu di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suku Bugis    ini suku yang gemar merantau. Jangan terkejut kalau mereka ada di propinsi    maluku di Indonesia, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan sampai ke    Manca Negara, dalam hal ini Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu salah satu    sebabnya mereka dikait-kaitkan dengan perahu pinisi, armada pelayaran rakyat,    mungkin itu diambil dari salah satu kota yang pernah mereka singgahi, dalam    hal ini negara Italia, dengan kotanya Venice. Suku Bugis biasanya mengabadikan    nama-nama tempat yang penuh kenangan atau mempunyai kesan istimewa pada    perahunya, mereka juga mengidentikan perahunya dengan sejenis ikan yang    berenang sangat cepat di laut lepas. Berharap perahunya dapat berjalan/berlari    secepat ikan tersebut sehingga banyak pula dari mereka yang menamakan    perahunya dengan nama `Pinisi Palari`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kota di luar pulau    Sulawesi yang dibangun oleh suku bugis adalah kota Samarinda. Daerah Samarinda    terbentuk tatkala sekelompok suku Bugis dari Kerajaan Gowa datang ke    Kalimantan Timur untuk mengabdikan diri pada Raja Kutai karena menentang    perjanjian Bongaya dan Belanda. Kerajaan Kutai menerima kelompok penentang ini    karena diperlukan untuk membantu kerajaan Kutai menentang Belanda. Mereka    diijinkan bermukim di hilir Sungai Mahakam, yaitu di Samarinda Seberang, waktu    kejadiannya diperkirakan pada tahun 1668.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga seorang professor    yang memiliki teori yang menarik, yang mengatakan bahwa suku bugis berasal    dari daerah Lampung, yang terdampar di Gowa (Sulawesi Selatan), setelah mereka    lari karena diserang oleh musuh yang menurutnya datang dari India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku    Bugis dikenal sebagai masyarakat nelayan, mereka mencari kehidupannya dari    laut, mereka mempertahankan hidup dari laut. Jadi sebagian besar masyarakat    mereka adalah pelaut, jadi lagu `Nenek Moyangku Seorang Pelaut` cocok untuk    mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Rileks.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-115266625918239312?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/115266625918239312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=115266625918239312' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115266625918239312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/115266625918239312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2006/07/suku-bugis.html' title='SUKU BUGIS'/><author><name>Buginese</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02665511627712244121</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30945854.post-7187638193637121052</id><published>2006-05-02T16:07:00.000+08:00</published><updated>2007-12-12T10:06:21.017+08:00</updated><title type='text'>Karaeng Kacamata dari Gantarang yang tak pernah Gentar!</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Musa dari Gantarang&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;left&gt;&lt;br /&gt;&lt;/left&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada cerita mirip kisah nabi Musa dalam kitab suci, kali ini kejadiannya di suatu siang di bulan Agustus 1916 di Afdeling Sinjai. Seorang &lt;i style=""&gt;Hulppest Commis&lt;/i&gt; pribumi tergerak bangkit dari meja kerjanya. Dia mendengar sayup2 jeritan tertahan dalam bahasa bugis diiringi suara kibasan tongkat yang miris. Keningnya sedikit terlipat, kacamata hitam tebal yang membingkai kedua matanya kemudian diletakkan diatas buku dinasnya. Bergegas ia keluar dari kantor contorleur itu. Di halaman depan, disaksikannya satu kejadian yang meledakkan amarahnya. Seorang ambtenar Belanda memukuli seorang bumiputera dengan tongkat. Berkali-kali, hingga darah &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;center&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;mengucur dari badan kurus itu. Darahnya seketika mendidih, &lt;i style=""&gt;Hulppest Commis&lt;/i&gt; pribumi itu bergerak. Tubuh ringkihnya sebenarnya tidaklah sekekar si ambtenar Belanda, namun dia tak gentar. Tak ada rasa takut dalam dadanya. Si ambtenar Belanda dihujaninya dengan pukulan sampai babak belur dan lari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;img src="http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/SultandgRaja.jpg" border="2" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;center&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun tidak seperti kisah nabi Musa di kitab suci, sang &lt;i style=""&gt;Hulppest Commis&lt;/i&gt; pribumi tidak lantas kabur dari tanah airnya. Dia memilih tetap tinggal dan siap menerima konsekuensi dari tindakannya yang melanggar etika saat itu. Melawan, apalagi memukuli warga Belanda yang dianggap warga kelas satu adalah kesalahan besar di zaman kolonial itu, apapun alasannya. Kejadian selanjutnya bisa ditebak, sang &lt;i style=""&gt;Hulppest Commis&lt;/i&gt; pribumi kemudian didera hukuman administratif; pangkat diturunkan menjadi &lt;i style=""&gt;Agent Welsetboedel Kamer&lt;/i&gt; (pegawai rendahan), gaji dipotong hingga tinggal 30%. Dia menerima dengan tenang, dan terbersit rasa puas dalam hatinya. Harga dirinya membela kaumnya sudah ditegakkan, dan itu jauh lebih penting daripada pangkat dan gaji. Nama si &lt;i style=""&gt;Hulppest Commis&lt;/i&gt; pribumi berusia 22 tahun itu, Andi Sultan Daeng Raja, putra dari Passari Petta Tanra - Karaeng Gantarang Bulukumba saat itu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Gantarang, tempat lahir Andi Sultan Daeng Raja, sejak zaman dulu terkenal sebgai penghasil beras utama di sulawesi selatan. Kerajaan Gowa Tallo ketika masa jayanya sangat menggantungkan supply pangannya pada daerah ini. Setelah kemenangan VOC yang didukung oleh Bone dalam perang makassar di pertengahan abad 17, daerah ini sempat diperebutkan antara VOC dan Bone sebagai basis logistik. Tanahnya sangat subur, terhampar seluas 215 km2 dari kaki pegunungan Bangkeng bukit yang dikitari oleh sungai Tangka di utara hingga ke selatan yang bermuara di laut flores. Sungai &lt;span style="color:red;"&gt;Tangka&lt;/span&gt; yang tak pernah kering itu kemudian dijadikan sumber utama pengairan yang menghidupi persawahan di daerah itu. Secara geopolitik, distrik gantarang adalah wilayah Gowa-Tallo sejak lampau berdasarkan perjanjian Caleppa tahun 1625, penguasanya pun bergelar karaeng, sebuah gelar yang diadaptasi dari kerajaan Gowa-Tallo. Namun sebahagian besar penduduk Gantarang justru menggunakan bahasa bugis sebagai bahasa pengantarnya. Bagi lidah bugis, Gantarang biasanya dituturkan sebagai &lt;i style=""&gt;Gattareng&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ketika tumbuh sebagai remaja di daerah itu, Andi Sultan yang lahir di &lt;i style=""&gt;Saoraja&lt;/i&gt; Gantarang pada 20 mei 1894, mendapati kenyataan yang kontras dengan cerite leluhurnya, daerah Gantarang justru teramat terbelakang, pertanian tidak terurus dan masyarakat petani disana miskin dan tak mampu mengelola sawah dengan baik. Penguasa yang memerintah kala itu pun terkesan abai mengurusi warganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Pendidikan dan Jalur Karir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Kondisi rakyatnya yang menyedihkan membuat Andi Sultan tergerak untuk memikirkan bagaimana melakukan perbaikan. Apalagi sejak awal beliau sudah digadang-gadang sebagai pewaris adat &lt;i style=""&gt;Geemeenschaap&lt;/i&gt; Gantarang, yang saat itu dijabat secara &lt;i style=""&gt;caretaker&lt;/i&gt; oleh paman beliau, Karaeng Cammoa Andi Mappamadeng. Dia kemudian memantapkan tekadnya dengan menekuni pendidikan sebagai bekalnya kelak. Sebagai seorang bangsawan, tidak terlalu sulit baginya untuk memasuki sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial saat itu. Andi Sultan Daeng Raja bahkan mampu duduk di sekolah lanjutan khusus untuk orang eropa kala itu, Eropesche Largerer school (ELS) di Bulukumba. Kemudian dilanjutkan ke sekolah calon ambtenar OSVIA di Makassar tahun 1908. Pada masa sekolah di Makassar inilah, semangat patriotisme dan kemampuan organisasinya mulai terasah dengan mengikuti perkumpulan2 diskusi, terutama karena terpengaruh oleh kebangkitan pergerakan nasional yang dimotori oleh Budi utomo dan Sarekat Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Selepas lulus dari OSVIA di tahun 1914, Andi Sultan Daeng Raja tidak langsung mudik ke Gantarang, tapi memilih meniti karir sebagai ambtenar pada pemerintahan kolonial. Karir nya sebetulnya cukup cemerlang, dengan beberapa kali mendapat promosi hanya dalam waktu singkat. Daerah pengabdiannya cukup luas dan mencakup derah-derah penting di Sulawesi Selatan; bermula dari Pompanua, Sinjai, Takalar, dan berakhir di Campalagian, Mandar. Disela-sela rutinitasnya sebagai pegawai kolonial saat itu, beliau masih menyempatkan diri mengikuti pergerakan nasional yang sedang marak. Mungkin karena aktifitasnya yang dianggap berbahaya waktu itu, dan sikapnya yang kdang-kadang melawan pemerintah, beberapakali Andi Sultan Daeng Raja mengalami demosi dan mutasi yang kurang menguntungkan. Namun semuanya dijalani dengan sabar, sesuai dengan taktik gerakannya waktu itu yang &lt;i style=""&gt;kooperatif&lt;/i&gt;. Setelah delapan tahun berkarir sebagai &lt;i style=""&gt;ambtenaar&lt;/i&gt;, Andi Sultang Daeng Raja kemudian mengundurkan diri dan memilih untuk mengabdi sepenuhnya untuk rakyat Gantarang. Pada tahun 1922, juga atas desakan nurani demi melihat rendahnya kesejahteraan rakyat Gantarang saat itu, dia kembali ke kampung halaman. Setelah melalui pemilihan formal &lt;i style=""&gt;Ade’Duappulo&lt;/i&gt;, Andi Sultan Daeng Raja, &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;yang juga digelari Karaeng Kacamata, &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;dikukuhkan sebagai Karaeng Gantarang pada usia 28 tahun, yang menurut kabar adalah Karaeng termuda di seluruh Bantaeng saat itu. Hal pertama yang dilakukannya sebagai karaeng dalah memperbaiki infrastruktur pertanian yang merupakan sumber penghasilan dari 90% rakyatnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Selain itu, beliau juga meletakkan landasan yang kuat akan pendalaman keagamaan masyarakat Gantarang. Beliau juga lah yang mendirikan Masjid Raya Ponre yang halamannya menjadi petilasan akhir beliau.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Aktif pada Pusaran Sejarah Bangsa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Sementara menjabat sebagai Karaeng Gantarang, Andi Sultan Daeng Raja masih menyisihkan waktunya untuk tetap berada pada pusaran pergerakan bangsa dan mengiringi kelahiran Republik Indonesia di masa-masa awal kemerdekaan. Pendidikan dan fasilitas yang diterimanya sebagai bangsawan tidak lantas membuaikannya dalam kesenangan dan ketidakpedulian, tetapi dimanfaatkan sepenuhnya sebagai modal dasar demi untuk kemerdekaan bangsanya. Andi Sultan Daeng Raja mengkhususkan hadir secara fisik dalam setiap momen penting perjuangan bangsa. Ketika berlangsung Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928, Andi Sultan Daeng menyempatkan hadir mewakili Jong Celebes untuk mendeklarasikan Sumpah Pemuda bersama 750 pemuda se-Nusantara di Batavia. Pada saat tokoh-tokoh nasional berkumpul mempersiapkan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus 1945, Andi Sultan Daeng Raja, bersama GSSJ Ratulangi dan Andi Pangerang Pettarani, ikut merumuskan naskah proklamasi yang kemudian dibacakan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Setelah merdeka, Andi Sultan Daeng Raja menggalang koordinasi dengan seluruh raja dan datu di Sulawesi Selatan untuk menghalau tentara NICA di awal Desember 1945 sampai kemudian tertangkap di bulan yang sama dan diasingkan selama lima tahun ke Menado.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, pengkhianatan selalu menyertai sejarah orang-orang besar, tak terkecuali pada jalan perjuangan Andi Sultan Daeng Raja. Karaeng yang teramat dicintai rakyatnya ini rupanya tak mampu mengelak dari pengkhianatan kerabatnya, seorang yang di kemudian hari diolok-olok sebagai Belanda hitam; Andi Abdul Gani atau Karaeng Gani yang oleh NICA diangkat sebagai penjabat Karaeng Gantarang. Berkonspirasi dengan pasukan NICA yang dipimpin Kapten Raymond Westerling, Karaeng Gani memihak NICA dalam pembunuhan massal di Bantaeng dan seluruh wilayah sulawesi yang terkenal sebagai peristiwa pembantaian korban 40,000 jiwa di tahun 1948. Hampir seluruh kerabat laki-laki dari Andi Sultan Daeng Raja terbunuh pada peristiwa itu. Dikemudian hari, saat tercapai kesepakatan penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia, Karaeng Gani ikut meninggalkan Gantarang dan kemudian memilih menetap di Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda tahun 1949, Andi Sultan Daeng Raja kembali dari pengasingannya dan meneruskan kembali tugas sebagai Karaeng Gantarang selama setahun hingga meletakkan jabatan di tahun 1950. Oleh pemerintah jasanya ternyata masih diperlukan, tahun 1951, Andi Sultan Daeng Raja ditetapkan sebagai Bupati Bulukumba hingga tahun 1952, kemudian menjadi bupati Bantaeng hingga tahun 1956. Tahun 1957, Andi Sultan Daeng Raja terpilih menjadi anggota Konsituante hingga pembubarannya di tahun 1959. Pada hari jumat, 17 Mei 1963, bangsawan Gantarang yang tak mengenal gentar ini wafat di RS Pelamonia, Makassar dan dimakamkan di belakang Mesjid Raya Ponre, Bulukumba berdampingan dengan makam ayahandanya, Passari Petta Tanra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mangkat, Andi Sultan daeng Raja sempat meninggalkan tiga wasiat kepada putranya, Andi Sappewali; pelihara kejujuran, lindungi orang tertindas, dan jangan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, cukup di belakang Mesjid Raya Ponre.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nilai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lazimnya saat membaca sebuah biografi, selain menikmati alur kronik yang runut, kedirian kita berusaha mengais sesuatu yang memiliki nilai. Nilai yang cukup penting untuk menjadi pegangan hidup sosok yang di-biografikan. Nilai yang dicoba didownload untuk dipatrikan menjadi nilai pribadi pembacanya. Sejalan dengan adagium yg menyatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, maka membaca biografi adalah salah satu pencarian guru yang paling efektif juga, dengan mensubtitusi pengalaman sosok dalam biografi itu menjadi pengalaman pribadi berkerangka pengetahuan literatur (literal?). Mengutip dari David Siegel, biografi diceritakan untuk mendistribusikan nilai dari karakter seseorang yang menjadikannya menarik dan dapat dijadikan pegangan hidup buat manusia lainnya. Nilai yang kita bisa reguk dari sejarah hidup Andi Sultan Daeng Raja bisa kita ambil papa tiga petuahnya sebelum mangkat; kejujuran, keberpihakan pada korban kezaliman, dan kesahajaan. Hal yang teramat mudah kita hapal di luar kepala, namun teramat sulit untuk konsisten menerapkannya, terutama di saat berbenturan dengan banyak kepentingan hidup.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;color:black;"   lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sejak kanak-kanak, kita yang akrab dengan buku pelajaran selalu mendefinisikan pahlawan sebagai orang yang menjadi martir karena sesuatu yang diperjuangkannya, yakni nilai dan cita-cita yang mewakili orang banyak. Walaupun kadang nilai yang diperjuangkan adalah nilai pribadi yang secara kebetulan beririsan dengan kepentingan orang banyak, dan oleh penulis sejarah, kepentingan majemuk inilah yang dikedepankan sebagai dasar konsensus untuk mentahbiskan status pahlawan. Karena tentu saja, nilai kemanusiaan yang dihasilkan dari sebuah perjuangan bisa menjadi milik publik yang bebas untuk dipakai kemudian, dan dianggap sebagai bagian penting dari akumulasi perjuangan menuju satu bangsa yang merdeka, sehingga karenanya layak diperhitungkan oleh dunia internasional. Oleh pemerintah, pahlawan secara administratif adalah orang-orang yang karena jasa-jasanya kepada negara pernah disematkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra sehingga berhak menyandang gelar Pahlawan dan sekiranya meninggal, jasadnya boleh dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Untuk penegasan kepahlawanan dan mungkin untuk mensosialisasikan ke masyarakat, nama pahlawan itu kemudian dijadikan nama jalan. Tapi ditengah kerumuman masyarakat yang makin banyak urusannya, nama pahlawan yang disematkan pada jalan di sekitar mereka kemudian hanya menjadi sekedar nama, sekedar landmark yang tidak berarti apa-apa selain sebagai penanda alamat saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sekedar Nama Jalan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Selain keluarganya, mungkin tak banyak yang mengenal sosok pahlawan Gantarang, walaupun namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan protokol di pusat kota Bulukumba dan di daerah Mallimongang Makassar, berdekatan dengan Monumen Korban 40,000jiwa. Keterbatasan literatur tentang Karaeng ini mungkin menjadi alasan mengapa sedikit demi sedikit kisah perjuangan beliau semakin tergerus. Dalam buku-buku sejarah, tidak banyak diceritakan tentang beliau walaupun Pemerintah Indonesia telah mengukuhkan beliau sebagai Pahlawan Nasional tahun 2002. Hanya ada satu buku biografi yang secara khusus mengulas kisah perjuangan beliau yang diterbitkan tahun 1981 oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. Itupun hanya buku tipis 87 halaman, yang tentu saja hanya memuat kronik sejarah yang tak detail. Sayang sekali bahwa kesempatan untuk menggali lebih dalam pikiran dan etos perjuangan beliau tidak sempat digali secara mendalam oleh penulis saat itu, saat dimana beberapa saksi hidup perjuangan beliau masih hidup. Hingga saat ini setelah 26 tahun sejak buku itu terbit, belum ada upaya penerbitan kembali kisah hidup beliau. Mungkin beberapa saat lagi nama beliau kemudian hanya akan terkenang sebagai nama jalan saja, itupun kalau tidak ada rencana pemerintah untuk merombak tata penamaan jalan dan sebagainya, sejalan dengan makin maraknya pengembangan kota yang lebih bangga menggunakan nama asing untuk menarik konsumennya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Catatan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="NO-BOK" style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Hulppest Commis&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt; = pembantu komisioner&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Agent Welsetboedel Kamer&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt; = pegawai rendahan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Ambtenaar = &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;pegawai pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Ade’ Duappulo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt; = kumpulan pemuka adat berjumlah 20&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Saoraja&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt; = istana kerajaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30945854-7187638193637121052?l=buginese.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buginese.blogspot.com/feeds/7187638193637121052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30945854&amp;postID=7187638193637121052' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/7187638193637121052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30945854/posts/default/7187638193637121052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buginese.blogspot.com/2007/10/karaeng-kacamata-dari-gantarang-yang.html' title='Karaeng Kacamata dari Gantarang yang tak pernah Gentar!'/><author><name>Razak Jr.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11713668838766196507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://i97.photobucket.com/albums/l212/munawir/blogtool/bertiga.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
